Jumat, 08 April 2016

Le Mariage Elex Media


            Judul : Marriage of Convenience
Pengarang : Shanti
Penyunting : Afrianty P. Pardede
Ilustrasi cover : Affan Hakim
Penerbit : Elex Media Komputindo
Tebal halaman : 305

Krisna
Aku menatap lembaran kertas di tanganku, berusaha keras memahami isinya. Oh… bukan, aku paham betul apa isinya. Lebih tepatnya, sih, berusaha keras untuk menerima isinya. Kenyataan pahit. Bahwa aku, Krishna Satya Sangkala, tidak akan pernah merasakan indahnya menjadi seorang ayah.
Dita
Aku menatap rintik hujan yang seakin menderas. Tidak sedikitpun untuk beranjak dari bangku taman yang kududuki sejak tiga jam yang lalu. Berharap butiran hujan bisa membantuku menghapus rasa sakit itu. di sini, di dadaku. Dan di sini… aku meraba perut perlahan. Yah, Nah…!sekarang hanya kita berdua. Kenyataan pahit. Bahwa aku, Anindhita Sahaja, akan menjadi single mother.

Krishna jatuh cinta dengan Dita (biasa dipanggil Ijah) sejak SMA. Mereka pernah jadi senior-junior di SMA, dan menjadi dekat ketika berada dalam satu klub fotografi. Namun mereka tidak pernah pacaran. Hingga suatu ketika Krishna harus pulang ke Jakarta untuk menghadiri pernikahan adiknya. Saat itu dia bertemu lagi dengan Dita, dan kembali akrab.

Ketika Krishna diminta untuk menjagai Dita yang terlihat sakit akhir-akhir ini, Krishna mendapati kenyataan bahwa Ijahnya tengah hamil. Ayah dari bayi itu tak mau tanggung jawab. Krishna sendiri kebetulan punya masalah kesehatan. Dia sulit punya anak setelah terkena penyakit saat bepergian di Kenya. Maka dari itu Krishna mengajukan diri untuk menikahi Dita. Terjadilah kesepakatan.

Sebenarnya Krishna masih cinta dengan Dita. Sepuluh tahun tak bertemu dengan gadis itu tak menyurutkan cintanya, namun agar Dita tak merasa dinikahi karena kasihan, maka dari itu Krishna menyebut hubungan mereka simbiosis mutualisme. Tetapi prakteknya, Krishna menjaga Dita dengan baik layaknya suami menjaga istrinya yang sedang hamil. Dia menyayangi Dita juga calon anak mereka. Pernikahan merekapun berjalan baik, Dita mulai mencintai Krishna dan Krishna lebih sayang lagi pada Dita. Sampai suatu ketika, Krishna bertemu dengan mantan kekasihnya. Dita-pun juga bertemu lagi dengan ayah kandung dari bayinya. Mengatakan kalau dia menyesal, minta maaf, dan minta mereka balikan.

Shanti menulis novel ini dengan baik. Meski tema yang dibawanya umum di pasaran, tapi dia punya jalan ceritanya sendiri. Bahasa gaul yang dipakainya mudah dimengerti. Potongan-potongan percakapan dalam bahasa Inggris tidak menyulitkan bagi pembaca yang tidak menguasai bahasa Inggris. Shanti juga menggambarkan kalau satu tokoh dengan tokoh lainnya saling berhubungan, kesannya seperti dunia ini sempit, membuat pembaca tidak perlu jauh-jauh berfikir.


Layout-nya cantik, warna covernya juga. Menuruku ilustrasi pada sampul, cewek dan cowok di situ kurang menggambarkan Krishna yang katanya ganteng juga Dita yang cantik.

Di hal 14, …atau udah balik ke Jekarda?” Tadinya aku bertanya-tanya kata ‘Jekarda’ itu typo atau bahasa alay? Tapi setelah membaca lebih banyak, tidak ada kalimat alay. Begitu juga di hal 44, kata ‘sodara’ tidak baku, lebih baik dibuat italic kalau tidak mau dianggap typo. Apalagi ada beberapa kata itu di bagian belakang. Di hal 45 ada satu kalimat yang diulang. Dari kata “Hmmm..semalam…” sampai ‘Krishna menghela nafas’ ada dalam dua paragraf berbeda.

Jauh sebelum pasangan Krishna-Dita menggunakan ‘aku-kamu’ saat bicara satu sama lain, sekali penulis kelepasan nulis ‘kamu’ padahal berikutnya kembali menggunkan ‘lo’.

Silvia dan Padmi juga disebutkan sebagai anak Dr. Harris. Sedangkan Bayu, kakaknya Krishna pernah pacaran dengan Silvia, kemudian menikah dengan Padmi. Penasaran bagaimana reaksi Silvia saat Bayu menikahi Padmi. Karena di sini tidak sama sekali disinggung tentang hubungan kakak-adik ini, jadi walau disebut sama-sama anak Dr. Harris, mereka seperti bukan saudara.

Tokoh favorit di novel ini adalah Bima, teman Krishna. Digambarkan sebagai orang yang menyenangkan. Tipe penghibur.

Novel ini bagus untuk kamu-kamu yang suka berprasangka. Pikirannya negatif, biar belajar dari rumah tangga Dita dan Krishna bahwa hubungan yang bisa bertahan lama itu adalah yang dilandasi kepercayaan antar pasangan, yang dilandari dengan pikiran positif.
Baca SelengkapnyaLe Mariage Elex Media