Penyelamatan
Walau belum rela, aku tidak akan menyesali keputusanku. Selama enam bulan
berpacaran dengan Vebri, tak ada tingkahnya yang membuatku kecewa. Itu
membuatku betah berlama-lama dengannya. Tapi sekarang aku memilih
meninggalkannnya demi keselamatannya. Dan aku memilih Felix, seseorang yang
telah menebar banyak kekacauan padaku dan mengancam akan menyakiti Vebri kalau
tak memilihnya.
“Permisi!”
“Felix!”, sapa Mama
“Ya, Tante. Anas ada?” tanyanya pada Mama
“Ada. Masuk yuk!”
Mamaku akrab dengan Felix karena ternyata mama-nya Felix adalah teman SMA mama.
Vebri dulu juga akrab dengan mama. Malahan keakraban mama dengan Vebri terlihat
lebih natural dari pada keakraban mama dengan Felix. Bisa jadi Felix
menghipnotis mama agar mereka akrab.
“Anas, Felix datang ini!”, kata Mama setelah menggiring Felix ke depanku.
Aku tahu Felix datang, kedatangannya yang tak kuinginkan itu menjadiku hanya memandanginya tanpa berkomentar.
“Lix, Tante kebelakang dulu ya!”, mama meninggalkan kami setelah Felix
menganggukkan kepala dan tersenyum seperti biasanya. “Felix!”, panggil mama yang belum
benar-benar jauh. “Nanti sore kamu ada waktu?”
“Ada,. Memangnya kenapa Tante?”
“Nggak keberatan kalau Tante minta bantuan, antar Tante ke beautique Mama
kamu?”
“Tante mau shopping ya?”
Mama, cuma mengangguk dan tersenyum menirukan gaya Felix
“Nanti sore saya antar”
“Terima kasih!”, ucap mama
lantas pergi.
Felix duduk di sebelahku. Dia tersenyum garing ke arahku
“Apa senyum-senyum?”, Felix menggeleng. “Kau hipnotis mamaku juga, kan?”,
Felix menggeleng juga.
“Enggaklah. Mamamu tidak kebal dihipnotis”, jawabnya sambil tersenyum
kembali. “Ambilin minum donk, haus nih!”
“Memangnya disini Restoran, seenaknya nyuruh-nyuruh orang”, sahutku yang lagi-lagi
dibahasnya dengan senyuman.
“Keputusanmu sudah bagus, tidak usah disesali lagi”
Baik. Baik apanya? Aku jadi seperti orang jahat dimata teman-temanku. Kuputuskan Vebri tanpa alasan karena diancam
Felix, bagusnya ada di bagian mana?
“Lagipula sudah sebulan
lewat, masih dipikirkan”
“Sebulan, setahun atau seumur hidup aku tetap saja rugi!”
“Suatu saat kamu pasti menemukan keuntungan pacaran denganku”, katanya tanpa peduli
protesku.
“Aku sedang tidak mencari keuntungan denganmu. Selama ada kau, aku rugi.
Rugi lahir batin!”, protesku lagi.
“Kalian jualan apa, kok membicarakan untung rugi sampai segitunya?” tanya Mama memotong
pembicaraanku. Kali ini mama datang membawakan jus jeruk untuk Felix
“Repot-repot amat tante”
“Cuma air minum, kebetulan tante ingin ke dapur terus sekalian tante bawa minum
buat kamu”
“Terima kasih, Tante!” Mama manggut-manggut dan ikut duduk disamping Felix
“Lix, mumpung lagi libur begini. Kamu ajak Anas jalan-jalan kemana gitu!” Usul Mama
nggak lihat sikon. “Lihat itu,
tampangnya manyun terus seminggu ini!”
“Mama apa apaan. Aku mau
di rumah saja”
Kelihatannya Felix tahu harus berbuat apa. Aku memang ingin keluar rumah,
tapi tidak dengan Felix. Karena alasanku keluar rumah kan untuk menghindarinya, jadi tidak mungkin
dia pergi denganku.
“Niatan saya datang kesini
memang itu, Tante”
“Nah, mumpung masih pagi kalian
berangkat terus pulangnya jangan terlalu sore”, saran Mama sekaligus mengingatkan Felix
pada tugasnya sore ini. “Nas, kamu cepat ganti baju
sana!”
Aku tidak merespon perintah mamaku hanya untuk memfokuskan pandanganku pada layar TV.
“Anas!” panggil Mama lagi
“Apa, Ma? Anas mau di
rumah saja!”
“Di rumah cuma nonton TV, tidak bosan? Cepat ganti baju!” perintah Mama lagi
Aku berganti baju seperti apa yang diperintahkan Mama. Kemudian berpamitan dan pergi
berjalan-jalan dengan Felix. Terserah Felix membawaku kemana, karena bagiku dimanapun tempatnya tak
akan membuatku senang kalau perginya dengan Felix. Menganggapnya tak ada juga tidak mungkin. Dia
bersamaku sekarang ini. Predikatnya
sebagai pacar benar-benar membuatku muak. Kalau saja aku bisa lari darinya hari ini, aku akan mengambil kesempatan itu.
“Kemarin kamu kemana?”, tanya Midha
“Dirumah”
“Betulan?”, Midha tak percaya.
“Dirumah sebentar, lalu jalan-jalan dengan Felix”
“Kemarin aku juga jalan-jalan”, sahut Vivi
Sebenarnya Midha tak suka aku menyebut nama Felix, untungnya Vivi selalu memihak padaku.
Dia punya banyak cara agar Midha tak terus memojokkanku soal Felix.
“Aku tidak begitu suka dengan Felix”, ungkap Midha. “Keputusanmu berpisah dengan Vebri menurutku tidak tepat ” Lanjutnya
“Kalau aku jodoh dengan
Vebri, nanti pasti bertemu lagi”, jawabku ketus
“Makin lama kamu makin seperti Felix!”, celetuk Midha menampakkan ketidak senangannya.
“Sebenarnya aku masih sayang Vebri, tapi kalau sudah tidak cocok mau
bagaimana lagi. Jalan terbaik
ya putus”
“Putus tanpa alasan bukan penyelesaian. Sekarang kamu dengan Felix, bisa dibilang kalau dia
penyebab putusmu dengan Vebri”
“Sudahlah, kejadiannya sudah berlalu. Apa yang terbaik buat kamu sajalah. Yang penting kita masih berteman”, Vivi menengahi.
Iya, Vivi saja tahu
itu. Midha terlalu ikut campur urusan orang. Yang pacaran dengan Felix itu aku,
Midha yang repot sendiri. Aku tahu niatannya baik, tapi untuk kasus ini
keikutcampurannya sangat tidak kubutuhkan.
Aku juga tidak ingin ini
terjadi, tapi kalau aku cerita apa
mungkin mereka akan percaya? Felix itu menyebalkan. Dia yang menyebabkan halusina parah tentang kematian-kematian
saat SMA dulu, membuat teka-teki membingungkan dan sekarang dia mengancam menyakiti Vebri
kalau permintaannya tak terkabulkan. Itu semua tak akan mungkin dipercayai Midha dan Vivi. Aku lebih suka dianggap orang yang
bersalah dalam hal ini dari pada dianggap orang yang suka mengada-ada. Lebih
baik aku dipersalahkan karena memutuskan Vebri dari pada aku harus cerita lalu ditertawakan.
Teman-temanku sangat baik dan karena itu aku sayang mereka. Cuma
kadang-kadang aku merasa tidak enak
kalau pembicaraan mereka tentang aku, Vebri, dan Felix. Bukannya aku risih
dengan tema mereka, tapi aku kesulitan menjawab kalau ditanya ini itu. Sulit
sekali berbohong dihadapan mereka. Apapun yang kualami mereka akan tahu,
kalaupun belum, cepat atau lambat akan ketahuan juga. Dan di saat seperti itu
aku sering menghindar dengan dalih pergi ke toilet atau perpustkaan untuk lari
dari kejaran pertanyaan mereka.
Hari ini kulakukan hal yang sama seperti kemarin-kemarin. Aku pergi
keperpustakaan untuk menjauhi pertanyaan Midha seperti biasa juga aku asal
ambil buku dan duduk menghabiskan waktu serta berharap Midha dan Vivi lupa akan pertanyaan mereka. Kututup mataku sebagai selingan sebelum aku
membuka dan membaca buku.
“Kenapa? Mengantuk?”, seseorang menanggapi kegiatanku.
“Sedang apa
disini?”, tanyaku sedikit
terkejut Felix berada di depanku
“Mencari
kamu” Felix menopang dagunya. “Mau pulang, tidak?”
“Kamu pulang duluan saja, aku masih
ingin disini”
“Ok”
Felix pergi, tanpa tanya apapun kegiatanku itu bukan berarti dia percaya padaku seperti
Vebri dulu. Pastinya dia
sudah tahu apa-apa yang kukerjakan dan apa yang aku pikirkan. Dia kan suka membaca pikiran orang.
Aku pulang tidak lama setelah Felix pergi. Kuputuskan jalan kaki untuk
mengulur waktu. Capek berjalan dari kampus sampai rumah, tapi cukup
menyenangkan lama-lama dijalan. Sekarang aku harus berbaring di sofa sambil nonton TV. Kecapekan berjalan tadi siang membuat kakiku pegal-pegal.
Aku susah bergerak cepat tanpa merasakan sakit ditulang-tulangku. Makanya aku
tak beraktivitas. Coba aku berjalan kaki lebih jauh lagi mungkin aku tak akan
bisa bergerak lagi. Hari ini capek sekali.
“Sudah mau tidur?” Aku hampir memejamkan mata saat Felix menanyakan itu “Pasti capek berjalan sejauh
itu. Panas-panas lagi.”
“Kamu tahu aku jalan kaki, kenapa tidak didatangi? Senang melihat orang kecapekan?”, marahku padanya.
“Katanya kamu tidak mau dianterin
pulang, makanya saat
aku melihatmu sedang berjalan kaki ya kubiarkan saja”
“Bilang saja tidak mau direpotkan”
Felix selalu tak terpengaruh dengan semua omelanku, selalu tanggapan
pisitif yang ditunjukkannya.
“Bawa apa?” tanyaku melihat tas belanjaan yang dibawanya.
“Barang Mama kamu”
“Buat aku mana?” Ditunjukkannya obat gosok dari balik tas.
“Kamu ini
pacarku atau pacar
Mama? Masak kamu bawain
barang-barang buat Mama, tapi buat aku tidak membawa apapun
untukku”
Felix tak menjawab apapun yang kukatakan padanya. Dia cuma memandangku prihatin. Diraihnya
kakiku ke atas
pangkuannya lalu dipijitnya. Dia juga membalurkan minyak gosok disitu. Aku tak
protes karena kebetulan kakiku butuh dipijat. Bahkan kalau bisa akan kucegah Felix pulang agar terus memijitku sampai
aku benar-benar merasa tak butuh lagi.
“Besok pagi-pagi sekali kamu harus sudah ada disini”
“Pagi-pagi? Jam berapa?”
“Jam 5 pagi. Dan jangan
telat”,perintahku.
“Memang mau kemana? Sepertinya kamu tidak unya jadwal kuliah sepagi itu?”
“Insting kamukan hebat, kenapa harus tanya besok aku mau kemana?”
“Aku tidak bisa baca pikiran orang yang marah-marah”, katanya. “Orang yang sedang marah pikirannya bercabang-cabang”
“Aku tidak marah-marah”, belaku.
Felix memijit daerah
pergelangan kakiku dengan keras. Dia tak sengaja, tapi sakit.
“Auw.. Jangan
keras-keras!”, bentakku sambil memukul tangannya. Dia
hentikan pijatannya sejenak, tapi diteruskannya setelah kuletakkan kakiku di
pangkuannya lagi.
Pagi ini Felix sampai
di rumahku pukul lma lewat lima menit. Karena aku sedang tidak mood dengan
kehadirannya, aku marah saja padanya.
“Kenapa telat?”
“5 menit”, katanya meminta toleransi. “Lagi pula kamu baru bangun tidur, kan?”, tambahnya saat melihatku yang masih acak-acakan.
“Alasan saja” celetukku. “Cepat masuk, tunggu di dalam!”
Kutarik Felix untuk duduk di ruang tamuku. Disitu ada Mama yang
kebetulanlewat mau ke dapur.
“Anas, buat apa kamu suuruh Felix pagi-pagi kesini? Ngrepotin saja kamu itu!”
“Suka-suka aku lah, Ma!”, jawabku sewot.
“Kamu itu kenapa sih, Mama kan cuma tanya?”
Aku tak menjawab pertanyaan mama. Kemarahan karena hal-hal yang tak aku
inginkan tidak bisa kutahan dan ingin terus kulampiaskan. Kutinggalkan Felix
dan Mama yang aku yakin akan membicarakanku.
Dua jam kemudian aku bergabung dengan mereka. Aku sudah
mandi, berpenampilan rapi dan siap bepergian.
“Kamu lama sekali?”,tanya Mama yang kuanggap selalu ikut
campur kalau masalahnya menyangkut Felix.
“Ya tidur dulu, pagi-pagi kampus juga belum buka”, jawabku tanpa santun.
“Kalau tahu kampus belum buka, terus kenapa menyuruh Felix datang pagi-pagi kesini?”
“Sekali-kali permintaanku ingin dipenuhi, masa Mama terus”
“Jadi maksudnya apa? Kamu tidak mungkin cemburu sama Mama kan?”
“Tidak juga. Itu namanya uji kesetiaan, Ma”, jawabku ketus.
Felix cuma diam melihat tingkahku. Kelihatannya dia tahu apa yang
kurasakan. Perbuatanku dan kata-kataku membuatnya mengerti harus berbuat apa.
“Kita pergi sekarang saja ya!” ajaknya berusaha memisahkanku dari Mama
“Ya iyala, sudah rapi
begini mau menunggu apa lagi”
Felix berpamitan dengan
mama. Aku juga, biar bagaimanapun aku tak mau dianggap anak durhaka cuma karena
tak berpamitan dengan mama saat keluar rumah.
“Ma, aku pergi dulu!”, pamitku sambil menarik Felix meninggalkan Mama.
Hari ini kupaksa Felix membolos kuliah. Kuajak dia berputar-putar dan berhenti di pantai. Selama
perjalanan tak kukatakan apapun kecuali intruksi-intruksi yang kupaksakan
kepada Felix agar dia mengemudikan mobilnya seperti permintaanku. Sekarang aku duduk bersandar di bawah pohon kelapa tepi pantai. Felix
juga masih bersamaku, cuma dia belum bertanya apapun atas kelakuan menyebalkanku hari ini.
“Masih belum bisa terima keadaan?”, tanya Felix tiba-tiba. “Untuk apa bersikap
seperti ini?”
“Untuk menjauhkanmu dari Mama”, jawabku tanpa merubah posisi.
“Cuma itu?”
“Bentuk protes juga”,
tambahku. “Aku tidak nyaman bersamamu”
“Nyaman tidak nyaman,
sudah terlanjur”, katanya tega. “Sekarang kau sedang di pantai, nikmati saja.
Hibur dirumu sendiri, kalau aku jelas tak bisa menghiburmu”
“Ya”
“Kubelikan
minuman”, kata Felix dan langsung beranjak dari tempatnya.
Felix memberiku
kelonggaran, makanya aku dibiarkan
sendirian. Kutinggalkan dia sebelum kembali dari membeli minuman. Seperti kata Felix, aku harus menghibur diriku sendiri. Cuma itu satu
satunya jalan, karena bertahan dengan Felix sama dengan melindungi Vebri.
Aku berjalan sedirian
saat ini. Ketepian pantai menyusur jauh ke arah barat.
“Vebri!”, sapaku saat
melihat seseorang yang masih spesial itu dipantai.
“Hai Nas. Kamu kenapa bisa
disini?”, tanyanya masih sama ramah seperti sebelumnya.
“Refreshing aja.
Suntuk terus-terusan belajar”
“Sama siapa? Felix?”
“Ya. Aku tidak
tahu dia pergi kemana, katanya sebentar
tapi belum kembali sampai sekarang”
Dari pembicaraan yang biasa saja menuntunku minta maaf pada Vebri. Aku jelaskan
apa-apa yang menyebabkan aku memutuskannya
tanpa menyinggung ancaman Felix padanya. “Tidak apa-apa. Kalau jodoh kita pasti ketemu
lagi’ Itu tanggapan dari Vebri. Dia benar-benar berpikiran dewasa,
tidak mau menghakimiku meski aku telah melakukan tindakan buruk padanya.
Aku abaikan Felix saat
ini karena erjalan-jalan dengan Vebri lebih menyenangkan. Jadi seperti
nostalgia saat kami bersama dulu.
Setelah ketemu Vebri suasan hatiku kembali tenang, meskipun perjalanan
pulang malam ini aku kembali duduk semobil dengan Felix. Aku tidak bicara tapi
juga tidak memerintah seperti tadi pagi. Aku cuma diam memandang lurus kedepan
dengan sesekali melihat wajah Felix untuk kubandingkan dengan Vebri. Masih lebih
enak memandang wajah Vebri dari pada Felix. Karena semua dari Vebri bernilai positif di mataku.
Terlalu banyak memikirkan Vebri, perjalanan jadi terasa singkat. Aku tiba dirumah disambut
pertanyaan-pertanyaan dari Mama seperti biasanya. Karena ada Felix, semua jawabanku di
anggap benar oleh Mama. Mungkin cuma dibagian itu untungnya dari Felix.
Mataku masih sulit dibuka saat handphoneku meneriakkan nada panggilan masuk. Karena pulang
terlalu malam disambung
begadang, lewat jam delapan pagi aku masih meringkuk di tempat tidur. Dan pagi
setengah siang ini aku dibangunkan suara Midha ynag memberitakan kejadian yang
menimpa Vebri. Kebetulan Midha melihat Vebri kecelakaan saat di jalan.
Walaupun kata Midha tidak parah tapi cukup membuatku kaget. Kuputuskan
memastikan keadaannnya sebelum kuliah siang ini. Saat bertemu Vebri lega
rasanya melihat dia baik-baik saja. Luka kecil ditangan dan muka tak membuatnya
kehilangan ketampanannya selama ini.
Besoknya aku masih dibangunkan
deringan handphoneku. Kali ini Vivi menggantikan suara Midha memberi informasi
soal Vebri. Jatuh dari tangga rumahnya, begitu yang Vivi bilang. Karena Vivi
tetanggaan denganVebri, aku percaya kalau dia tak bohong.
Hari-hari berikutnya Vivi dan Midha sering melaporkan kejadian kecil yang dialami
Vebri. Seperti, motornya tiba-tiba mogok di tengah jalan padahal jalansedangi ramai, jatuh di trotoar, dimarahi dosen, dihukum rector, dikejar
anjing bahkan sampai dikeroyok preman. Selain laporan Midha dan Vivi, Vebri
juga banyak cerita tentang kesialan kecilnya padaku. Walaupun menurutnya itu Cuma kebetulan, tapi aku yakin itu sebuah pertanda. Pasti ada yang menyebabkan semua itu. Apalagi
kalau ada barang-barang Vebri yang hilang saat diperlukan dan muncul bila tak
dicari. Itu bisa jadi bukti keterlibatan seseorang. Dan Felix adalah kandidat
terkuat.
Kalau membicarakan penyebab kekacauan kecil yang dialami Vebri karena
Felix, harus dibicarakan juga alasan Felix melakukannya. Walaupun belum lama
aku kenal Felix, aku tahu kalau dia tak mungkin melakukan sesuatu tanpa sebab
yang jelas. Vebri memang tak begitu kenal dengan Felix, tapi Felix bisa sangat
mengenal Vebri tanpa harus berjabat tangan atau berteman lama. Vebri tak mungkin
melakukan kesalahan pada Felix, karena
dia tak begitu mengenal Felix. Felix mungkin melukai Vebri dari kesalahan orang
lain. Pertanyaan berikutnya adalah aku. Mungkinkah Felix tahu kalau aku dekat
lagi dengan Vebri? Tidak bisa dipungkiri lagi kalau itu adalah alasan Felix
melakukan kejahatan kasat mata. Kalau dia menganggap kedekatanku dengan Vebri
melebihi teman, akan celaka lagi nasib Vebri selanjutnya.
“Eh, Anas. Masuk Nas!” Sambut Mamanya Felix yang kebetulan membuka pintu
sebelum kuketuk.
“Felix ada di kamar sama Fera. Kamu langsung saja kesitu. Tante mau keluar dulu”
“Iya, Tante”, jawabku tanpa mengurangi santun.
“Tante ada janji sama mama kamu. Kita mau ketemu teman-teman lama. Tante pergi
dulu ya!”, pamit mamanya Felix.
“Iya, Tante hati-hati!”
Itulah satu alasan mengapa mamaku selalu akrab
dengan Felix. Mamaku dan mamanya Felix teman dekat waktu SMA. Mama juga sudah mengenal Felix jauh sebelum aku. Makanya
keluargaku dengan keluarga Felix cepat akrab. Cuma aku saja yang sulit menerima
ini semua.
Kedatanganku cukup tak direspon
Felix yang sedang bermain PS. Dia tak menyambutku dan begitulah
reaksinya setiap aku datang kerumahnya. Aku duduk di ranjang dengan Fera yang sedang membaca novel
“Kak Anas, tumben hari minggu pagi-pagi datang kesini?”
“Ingin main saja”
“Tapi akhir-akhir
ini jarang
kesini?”
“Memang kapan pernah datang kesini?”, sahut Felix di sela-sela permainannya. Ada nada
mengejek dalam kata-katanya.
“Aku benar-benar tidak
diterima ya disini?”
“Kamu selalu diterima, tapi maksud kedatanganmu tak begitu bagus”
Jawab Felix.
“Jangan dengarkan,
kakak memang begitu kalau
lagi kumat”, bela Fera. “Sebentar
ya kak, aku ambilkan minum!”
Fera pergi meninggalkan aku berdua dengan Felix. Dan itu saat yang tepat untuk mengutarakan maksud.
“Pasti soal mantan
kamu itu? Tenang saja,
kalau kamu menepati janji, aku juga akan
menepati janji”
Sudah tidak asing kalau Felix menebak pikiran orang dengan tepat
“Apa berteman itu tidak boleh?” tanyaku
“Tentu saja boleh. Pacaran lagi dengannya juga boleh” Walau Felix tak menampakkan muka keras, aku tahu dia marah.
“Aku harus bagaimana?
Menjauhi Vebri bukan solusi tepat”
“Dekat dengannya juga bukan solusi tepat”, jawab Felix masih tak memindahkan
pandangannya dari layar TV
“Kamu mau aku dibenci Vebri dan teman-temanku?”
“Aku mau kamu jadi pacarku seutuhnya, dengan cara apapun!”
“Aku akan lakukan semua maumu asal kau lepaskan dia”
“Seperti janjiku dulu!”, jawabnya seenak mulutnya berkata.
Aku ikut apa kata Felix
dan Vebri akan aman.
Fera datang dengan tiga gelas jus jeruk. Dia bergabung denganku dan Felix
untuk ikut berbincang. Walaupun topik pembicaraan berbeda, aku senang sudah melewatinya. Semoga setelah ini tak ada lagi kejadian
buruk menimpa Vebri.
