TEKA TEKI
Akhir-akhir
ini aku seperti berada di atas angin. Duniaku terasa berputar sempurna.
Prestasiku di sekolah bukan hanya lumayan bagus tapi bisa dibilang terbagus
dari seluruh siswa. Apalagi adanya Vebri sebagai teman sekaligus pacar
melengkapi kegembiraanku. Aku lulus dengan nilai terbaik. Dengan rata-rata
nilai mendekati sepuluh dari semua pelajaran yang di-UNAS-kan membuatku
menduduki posisi ke-2 tingkat Provinsi pada tahun ajaran ini. Vebri
melengkapinya. Tiga hari setelah pengumuman dia memintaku menjadi kekasihnya.
Dengan nilai
rata-rata 9 koma tidak sulit bagiku memilih perguruan tinggi yang ku sukai.
Apalagi di otakku terlintas keberhasilan dalam mengerjakan soal SPMB. Dan benar,
SPMB bisa kukerjakan tanpa mengalami kesulitan yang berarti. Malahan menurutku
soal masuk PTN ini tak lebih sulit dari soal UNAS kemarin. Karena semua itu aku
bisa masuk PTN terkemuka dengan jurusan yang kusukai.
Mulai saat ini
aku resmi menjadi mahasiswa dengan jurusan psikologi. Sebenarnya ada yang
menyayangkan tindakanku memilih jurusan ini. Salah satunya Guru Matematika SMA
ku yang menyarankan aku masuk jurusan Matematika. Karena menurut beliau
kemampuan ilmu menghitungku di atas rata-rata. Beliau menyarankanku memilih MIPA, tapi apa boleh buat inilah yang
kuinginkan dari dulu. Aku ingin jadi Psikolog handal di negeriku atau paling
tidak jasaku berguna untuk membantu orang-orang yang punya masalah Psikis.
Hari ini tepat
3 bulan aku menghuni kelas Psikologi. Tak ada sesuatu yang mengurangi
kegembiraanku sampai detik ini. Vebri sesekali mengantar jemput aku meskipun
berbeda Universitas. Belajarku juga tidak menemui masalah. Teman-temanku
bertambah banyak. Dosen-pun cukup mengenalku karena ketepatanku dalam menjawab
soal, mengerjakan tugas dan kehadiranku di kelas. Hingga kutemukan sebuah
perintah yang ditulis di selembar kertas
di dalam lokerku.
JIKA INGIN
BANYAK ORANG SELAMAT, IKUTI PERINTAHKU DAN JANGAN SAMPAI ADA YANG TAHU
Begitulah
bunyi perintah sekaligus ancaman yang ditulis dengan tinta merah. Awalnya aku
menganggap ini perbuatan iseng anak-anak, tapi tidak lagi setelah aku menerima
kertas berikutnya di anak tangga.
TEMUKAN AKU!
PERGI
KEBELAKANG PINTU RUANG HIJAU!
‘F’
Tadinya aku
tidak ingin menghiraukannya,tapi karena ada inisial ‘F’ di kertasnya, aku jadi ingin
tahu. Aku menerka-nerka apa itu ruang hijau. Lalu kuhubung-hubungkan dengan
ruangan yang berpintu hijau atau ruangan yang dicat hijau atau keduanya. Ada 5
ruangan yang berpintu hijau, 2 ruangan bercat hijau, kantin dan pos satpam. Dan
yang memiliki pintu sekaligus dinding yang berwarna hijau adalah pos satpam itu.
Kudatangi satu
per satu tempat itu dan kulihat belakang pintunya. Tidak ada tanda apapun
disitu. Aku lelah harus berjalan kesana-kemari, tapi tak kutemuka apapun. Aku
sampai berpikir akan melupakannya hingga ku lihat Midha dan Vivi di kantin. Ku
hampiri mereka dan mencoba bertanya-tanya. Siapa tahu mereka punya solusi.
“Tiga bulan lebih
kita berpisah dengan teman SMA, jadi kangen mereka”, celetuk Midha saat aku
sudah duduk di samping mereka.
“Aku juga”
sambung Vivi tak mau kalah.
“Sebentar lagi
pasti ada reuni. Atau kalian saja yang mengkoordinir”
“Repot. Nggak
usah lah. Tunggu kabar dari teman-teman yang lain saja”. Maklum Midha selalu
begini. Dia bilang kangen tapi tidak mau bersusah-susah mengkoordinir acara
reuni.
Midha dan Vivi
kembali ke makanan mereka, sedangkan aku cuma melihat mereka makan tanpa ingin
makan juga. Beberapa detik saling terdiam, aku baru ingat aku ingin menanyakan
soal ruangan hijau. Lalu ku utarakan pertayaan itu sebelum lupa lagi.
”Eh, selama ada
di sini, pernah mendengar yang namanya ruang hijau nggak?”
“Kantin nih,
catnya hijau”, jawab Vivi sambil mengitarkan telunjuknya ke sekeliling ruangan.
“Selain tempat
ini?” tanyaku lagi
“Di sini nggak
ada kelas atau ruangan yang dijuluki seperti itu. Hijau itu identik dengan yang
adem-adem. Mungkin taman” terang Midha sekaligus memberi jawaban.
Awalnya aku
optimis dengan jawaban Midha tapi setelah kusadari kalau taman tidak punya
pintu, aku kembali ragu. Petunjuknya mengatakan dibelakang pintu, berarti
sebuah ruang yang berpintu.
“Memangnya
untuk apa menanyakannya?” tanya Vivi diikuti anggukan Midha
“Iseng. Tadi
pas jalan kesini sempat mendengan anak-anak membicarakan pertemuan di ruang
hijau”
Aku kehilangan
selera makan karena antusias dengan teka-teki dari inisial F ini. Kuputuskan
mengundurkan diri setelahnya. Aku bilang pergi ke toilet dan mereka mengangguk
begitu saja. Sambil menuju ke taman aku berpikir. Kalau taman adalah ruang hijau
pintunya berarti pagar atau gapura masuknya. Taman identik dengan tanaman hijau,
tapi menurutku terlalu luas untuk disebut ruang berpintu. Kupikirkan sekali lagi,
mungkin ada tempat lebih kecil yang menyerupai taman atau sebuah ruangan yang
memang sengaja disebut ruang hijau.
“Nas, temani
aku bertemu Pak Junno dong!”, pinta seorang teman yang tiba-tiba menjajarkan langkah
denganku.
“Pak Junno? Dimana?”
“Green House”
Aku tersenyum
mendengar kata anak itu. Mungkin itu yang dimaksud kertas kecil yang kutemukan.
Kuikuti anak itu sampai ke Green House, selagi dia membahas urusannya dengan
Pak Junno, aku menungguinya di dekat pintu itu. Saat ada kesempatan sendirian
itulah kulihat belakang pintu kaca itu. Ku temukan kertas lagi yang digulung
rapi dan ditempelkan di bingkai pintu kaca. Segera kubuka dan kubaca kertas
yang masih berinisial F itu.
JENDELA DUNIA
MEMILIKI LUAS 4X4
‘F’
Kupikir ini
akan jadi jawaban, tapi masih berisi teka-teki lagi. Sebenarnya kenapa aku harus
mempercayai teka-teki seperti ini? ini bukan jamannya lagi berburu harta karun
dari sebuah teka-teki. Atau demi menyelamatkan banyak orang seperti yang diancamkan
di kertas pertama. Lagi pula aku tak yakin kalau aku bisa memecahkan semua
teka-tekinya. Memecahkan satu teka-teki saja butuh waktu yang lama, capek pula.
Dan kalau tahu pada akhirnya ini cuma sebuah lelucon, aku terlihat lucu karema
mau-maunya mengikuti permainan ini.
Masih dalam
mode berpikir. Aku ini jenius, fersiku sendiri. Aku calon psikolog hebat, memecahkan
apapun adalah bagian dari mengasah otak. Walau sekarang ini cuma teka-teki
lelucon, bisa jadi suatu saat aku menghadapi teka-teki yang betulan. Aku
berpamitan dengan teman tadi setelah dapat SMS dari Vebri. Vebri menjemputku
dan dia sudah menunggu di luar kampus. Sekarang sudah harus pulang, tapi besok
akan ada petulangan lanjutan.
*****
Pagi
berikutnya aku sampai di kampus sama awalnya seperti kemarin. Tak ada kuliah pagi memang, tapi dengan datang lebih
awal kesempatan berpikirku bisa lebih luas. Kubuka kembali kertas yang
kutemukan di belakang pintu Grren House kemarin,
JENDELA DUNIA
MEMILIKI LUAS 4X4
‘F’
Memangnya dunia
punya jendela? Kenapa harus ada luasnya? Dimana kutemukan jendela itu?
Bagaimana aku harus mengukurnya? Aku berpikir tapi tak ada hasil selama 2 jam
ini. Kupejamkan mata dan kuhirup udara pagi, siapa tahu sebuah penyelesaian
muncul di kepalaku. Kulakukan hal itu selam 1 menit. Setelah kubuka mata, yang
kulihat sebuah poster yang bertuliskan BUKU ADALAH JENDELA DUNIA. Ya buku, berarti
aku harus mencari buku. Yang kubingungkan, buku apa yang harus kucari? Dimana
aku harus mencarinya? Dan apa arti luas 4X4? Mungkin sebuah buku ynag luasnya
4X4 meter atau 4X4 senti.
Otakku terus
kugunakan untuk berpikir, sampai kuputuskan pergi keperpustakaan untuk mencari
buku tersebut. Sampai di perpustakaan sebuah pemikiran lain muncul dan
mengatakan perpustakaan adalah jendela itu. Luas perpustakaan itu mungkin 4X4
meter. Setelah kukira-kira luas ruangan ini lebih dari yang tertera di kertas.
Bahkan bisa 3 sampai 4 kali lipat. Kulihat-lihat sekitar perpustakaan, siapa
tahu dari situ aku menemukan petunjuk. Ada rak-rak buku yang kuhitung lebih
dari 16. Ada jendela kurang dari 16, luasnya juga bukan 4X4. Lantai
berpetak-petak, tapi tak kutemukan apapun di lantai. Kulihat atap masih tak ku
temukan apapun. Mungkin bukan perpustakaan yang dimaksud petunjuk itu.
Ku ambil sebuah
buku dan ku bawa ke pojokan. Kubuka buku itu tapi tak kubaca isinya. Aku lebih
sibuk memikirkan hasil penelusuranku dari pada buku yang asal kucomot ini. Mulai lelah fisik dan otakku memikirkan
petunjuk sepele ini. Kuputuskan meninggalkan tempat ini sebelum otakku
benar-benar tersumbat. Tapi kalau aku bisa memecahkan teka-teki ini dan
mengetahui siapa pembuatnya, aku bisa menceramahinya nanti.
Kuperhatikan
anak-anak yang sibuk membaca di sekitarku. Lumayan banyak, pasti sekarang
sedang mendapat tugas dari Dosen. Tiga bangku yang sebaris denganku penuh,
sekelilingku juga banyak mahasiswa lain. Atau mungkin yang dimaksud 4X4 adalah banyak
meja yang ada di perpustakaan ini? Aku mulai menghitungnya dan hasilnya
ada 19 bangku. Lalu kuhitung dengan koordinat titik sumbu x:4, sumbu y:4,
perpotongannya adalah bangku yang sekarang kutempati. Kuperiksa di balik meja,
tak kutemukan apapun. Saat ku raba bagian bawah kursiku, kutemukan kertas yang
ditempel dengan isolasi. Kubaca kalimat dalam kertas itu.
DI SAMPING KANAN
DARI 19754 YANG MELEWATINYA
‘F’
Aku
mengerutkan dahi membaca pesan yang tertulis dikertas warna biru ini.
Kuputuskan melanjutkan perjalananku ini nanti setelah selesai kuliah. Dua mata
kuliah kujalani, setelah selesai kulanjutkan menebak teka-teki yang masih
kurasa menjengkelkan tapi juga menyenangkan. Aku berdiri di koridor bersandar
pada tiang penyangga atap. Kupejamkan mataku dan kuhirup udara sedalam-dalamnya.
Setelahnya, ku hembuskan berharap beban apapun terbawa bersama nafasku. Kubaca lagi
tulisan di kertas itu.
DI SAMPING
19754 YANG MELEWATINYA
F
Di samping
kanan. Aku tidak buta arah, aku bisa tentukan kanan kiri dan utara, selatan,
barat, timur. 19754. Angka apa itu? Kata yang ‘melewatinya’ kuartikan dengan
banyak makhluk. Mungkin manusia atau hewan. Berarti 19754 adalah jumlah
sesuatu. Tapi apa maksudnya? Aku belum bisa mengaitkannya. Kali ini aku tidak
akan bertindak sebelum benar-benar tahu arti teka-teki ini. Aku tak mau capek
berjalan kesana kemari lalu hasilnya belum pasti.
Aku keluar
kampus setelah Vebri meneleponku. Dia pasti sudah menungguku di luar kampus. Kutemui
dia dulu sambil memikirkan pemecahan teka tekinya, mungkin setelah sampai rumah
aku akan menemukan maksudnya.
“Tadi pagi kenapa
kamu nggak bilang kalau berangkat sendiri?”, tanya Vebri meminta penjelasan.
“Aku
buru-buru. Midha telepon, katanya dia butuh bantuan”
“Kok nggak
telepon aku, padahal aku mau nganterin kamu?”
“Maaf!”
pintaku membuatnya tersenyum.
“Apapun buat
kamu aku maafin”
Aku bangga
mempunyai Vebri. Sikap dewasanya itulah yang membuatku salut padanya.
“Midha dan
Vivi mana? Biasanya kalian kemana-mana selalu bersama. Ibarat keluar gerbang
kampus saja harus melangkah bersama dengan kaki yang sama pula. Kalian kan
tidak bisa dipisahkan”
“Ada kok yang
bisa memisahkan kita bertiga. Kamu itu yang bisa misahin aku dari Midha dan
Vivi”. Vebri tersenyum lagi menanggapi omonganku.
Eh, tadi Vebri
bilang apa? Gerbang? Gerbang dilewati banyak orang. Mungkin saja ada 19754
penghuni kampus yang hilir mudik melewatinya setiap hari. Sebelah kanan,
mungkin gapuranya. Siapa tahu tebakan kali ini benar, aku perlu mengeceknya.
Kupeluk Vebri sejenak dan kuberikan satu kecupan kecil di pipinya.
“Terima kasih!”,
ucapku atas semua anugrah yang ada padanya.
“Terima kasih
untuk apa?”
“Terima kasih
telah menjemputku. Hari ini ada pelajaran tambahan, aku tidak bisa pulang
bareng kamu. Nggak apa-apa ya!”
“Kamu pulang
jam berapa?”
Kuangkat
bahuku tanda tak tahu.
“Nanti aku
dianter Vivi pulang. Kamu pulang duluan aja”
“Ok deh. Kamu
hati-hati!”, tuturnya “Nanti malam aku telepon”
Vebri percaya
padaku. Tak pernah sekalipun dia marah atau curiga pada apapun yang kulakukan.
*****
Setelah Vebri
menghilang dari pandangan mataku, kuperiksa sisi kanan dan kiri gerbang. Dan
memang kudapati kertas lagi tertempel dalam celah gapura. Aku puas mendapatkan
ketasnya, tapi cemas akan teka-teki berikutnya.
PERTEMUAN
DIMANA KAU
BISA MELIHAT DUNIA?
‘F’
Ini pasti
teka-teki terakhir, terlihat dari kata yang tertulis di dalam kertas. Dimana
aku bisa melihat dunia? Disini saja aku bisa melihatnya. Seulas senyum kusunggingkan
untuk menanggapi pertanyaan itu. Dunia berarti sesuatu yamg luas. Bagaimana
cara melihat sesuatu yang luas? Dunia harus dikecilkan atau pergi ke luar
angkasa. Berarti dari atas. Ya, dari observatorium bisa melihat dunia di
bawahnya, tapi sekitar sini tak ada observatorium. Aku memikirkan kemungkinan selain
observatorium. Mungkin pohon yang tinggi, mungkin naik pesawat, mungkin naik
gedung yang tinggi. Kampus ini punya gedung yang tinggi. Pasti di puncak gedung
sesuatu itu berada. Teka-teki yang begitu mudah. Kalau sering memikirkan banyak
kemungkinan, semuanya akan terlihat mudah.
Kunaiki gedung
kampusku, mulanya lewat tangga tapi baru dua lantai saja aku sudah capek.
Kemudian aku naik ke lantai paling atas dengan lift. Tak tak ada apa-apa sesaat
sampai di atap gedung. Kucari-cari tak kutemukan surat lagi. Juga tak kutemukan
apapun di tempat ini.
“Butuh waktu 2
hari untuk memecahkan teka-teki mudah seperti itu?” Suara di belakangku cukup
jelas sebagai suara laki-laki. Setelah kulihat aku kaget siapa yang kudapati
disitu
“Sebenarnya
tak perlu sampai ke atas sini untuk mengetahui siapa penulisnya. Cukup satukan
huruf-huruf kecil di balik kertas, di sudut kiri atas”
Kulihat lagi
semua kertas yang ada. Setiap kertas memiliki satu huruf kecil yang hampir tak
terlihat di baliknya, F.E.L.I.X. Felix. Menyebalkan sekali orang ini. Apa
maksudnya membuat teka-teki untukku?
“Kau hebat
tapi tak begitu jeli”
“Apa maumu
membuat teka-teki lalu membawaku kemari?
“Tapi kau
tertarik bukan?”
Tadinya memang
aku tertarik, tapi setelah kutahu Felix yang membuat teka-teki itu kuurungkan
untuk berterus terang.
“Aku sudah
bilang akan mengejarmu, siap tidak siap kau akan menerimanya. Ngomong-ngomong
kau semakin cantik setelah beberapa bulan tidak bertemu. Beruntung sekali kalau
bisa jadi kekasihmu”
Sepertinya apa
yang diucapkan Felix barusan itu bukan sebuah pujian. Aku ingat peristiwa di
SMA waktu itu, dia memanipulasi pikiranku hanya dengan alasan dia menyukaiku. Sekarang
demi bertemu denganku dia mengetes otakku dengan teka-teki. Aku yakin Felix
akan melancarkan apa yang dikatakannya dulu, jadi aku patut berhati-hati
dengannya.
“Kenapa cuma
diam disitu, kau tidak merindukanku?” Dia tersenyum bangga mengucapkan kalimat
itu
“Rindu? Pada
orang yang pernah memanipulasi pikiranku sampai hampir gila? Yang benar saja.
Bahkan aku aku hampir lupa siapa kau”, tanya dan jawabku sendiri. Buang-buang
waktu bicara dengan orang sepertimu” Aku bermaksud meninggalkannya sebelum dia
bicara lebih aneh lagi. Menjauhinya adalah salah satu cara agar tak terlibat
masalah dengan Felix. Aku juga masih takut kalau pikiranku dimanipulasi lagi.
“Kenapa
buru-buru?”, tanyanya masih memamerkan senyum menyebalkannya. “Ini baru
permulaan, kau harus siap untuk yang berikutnya”
“Jangan
macam-macam denganku atau kau akan menyesal nantinya!”, ancamku.
“Tak usah
seserius itu. Nantinya kita akan sering bertemu dan kusarankan kau tak perlu
melawan”
Aku
benar-benar harus meninggalkan orang jahat ini. Aku tak mau jadi korban seperti
waktu SMA dulu. Meskipun dia pernah berjanji tak mempengaruhi otakku lagi, tak
membuktikan dia bisa berubah baik
“Sekali lagi
kuperingatkan, jangan pernah ganggu aku!” ancamku lagi. Aku cepat-cepat meninggalkan
tempat setelahya.
“Kalau butuh
keterangan lebih lanjut, temui aku di kelas desain interior!” teriaknya.
Aku melihat
senyum di wajahnya sebelum menjauh dari atap gedung. Rasanya menyebalkan kalau
harus berurusan dengan fans gila seperti Felix. Tapi aku tak akan tinggal diam
kalau dia akan menggangguku. Aku bisa mengandalkan status Vebri sebagai pacar. Paling
tidak dia akan berfikir ulang kalau mau merebut kekasih orang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar