Kamis, 06 Agustus 2015

FENAS: Serie 2




TEKA TEKI

Akhir-akhir ini aku seperti berada di atas angin. Duniaku terasa berputar sempurna. Prestasiku di sekolah bukan hanya lumayan bagus tapi bisa dibilang terbagus dari seluruh siswa. Apalagi adanya Vebri sebagai teman sekaligus pacar melengkapi kegembiraanku. Aku lulus dengan nilai terbaik. Dengan rata-rata nilai mendekati sepuluh dari semua pelajaran yang di-UNAS-kan membuatku menduduki posisi ke-2 tingkat Provinsi pada tahun ajaran ini. Vebri melengkapinya. Tiga hari setelah pengumuman dia memintaku menjadi kekasihnya.
Dengan nilai rata-rata 9 koma tidak sulit bagiku memilih perguruan tinggi yang ku sukai. Apalagi di otakku terlintas keberhasilan dalam mengerjakan soal SPMB. Dan benar, SPMB bisa kukerjakan tanpa mengalami kesulitan yang berarti. Malahan menurutku soal masuk PTN ini tak lebih sulit dari soal UNAS kemarin. Karena semua itu aku bisa masuk PTN terkemuka dengan jurusan yang kusukai.
Mulai saat ini aku resmi menjadi mahasiswa dengan jurusan psikologi. Sebenarnya ada yang menyayangkan tindakanku memilih jurusan ini. Salah satunya Guru Matematika SMA ku yang menyarankan aku masuk jurusan Matematika. Karena menurut beliau kemampuan ilmu menghitungku di atas rata-rata. Beliau menyarankanku memilih MIPA, tapi apa boleh buat inilah yang kuinginkan dari dulu. Aku ingin jadi Psikolog handal di negeriku atau paling tidak jasaku berguna untuk membantu orang-orang yang punya masalah Psikis.
Hari ini tepat 3 bulan aku menghuni kelas Psikologi. Tak ada sesuatu yang mengurangi kegembiraanku sampai detik ini. Vebri sesekali mengantar jemput aku meskipun berbeda Universitas. Belajarku juga tidak menemui masalah. Teman-temanku bertambah banyak. Dosen-pun cukup mengenalku karena ketepatanku dalam menjawab soal, mengerjakan tugas dan kehadiranku di kelas. Hingga kutemukan sebuah perintah yang ditulis di selembar kertas  di dalam lokerku.

JIKA INGIN BANYAK ORANG SELAMAT, IKUTI PERINTAHKU DAN JANGAN SAMPAI ADA YANG TAHU

Begitulah bunyi perintah sekaligus ancaman yang ditulis dengan tinta merah. Awalnya aku menganggap ini perbuatan iseng anak-anak, tapi tidak lagi setelah aku menerima kertas berikutnya di anak tangga.

TEMUKAN AKU!
PERGI KEBELAKANG PINTU RUANG HIJAU!
‘F’

Tadinya aku tidak ingin menghiraukannya,tapi karena ada inisial ‘F’ di kertasnya, aku jadi ingin tahu. Aku menerka-nerka apa itu ruang hijau. Lalu kuhubung-hubungkan dengan ruangan yang berpintu hijau atau ruangan yang dicat hijau atau keduanya. Ada 5 ruangan yang berpintu hijau, 2 ruangan bercat hijau, kantin dan pos satpam. Dan yang memiliki pintu sekaligus dinding yang berwarna hijau adalah pos satpam itu.
Kudatangi satu per satu tempat itu dan kulihat belakang pintunya. Tidak ada tanda apapun disitu. Aku lelah harus berjalan kesana-kemari, tapi tak kutemuka apapun. Aku sampai berpikir akan melupakannya hingga ku lihat Midha dan Vivi di kantin. Ku hampiri mereka dan mencoba bertanya-tanya. Siapa tahu mereka punya solusi.
“Tiga bulan lebih kita berpisah dengan teman SMA, jadi kangen mereka”, celetuk Midha saat aku sudah duduk di samping mereka.
“Aku juga” sambung Vivi tak mau kalah.
“Sebentar lagi pasti ada reuni. Atau kalian saja yang mengkoordinir”
“Repot. Nggak usah lah. Tunggu kabar dari teman-teman yang lain saja”. Maklum Midha selalu begini. Dia bilang kangen tapi tidak mau bersusah-susah mengkoordinir acara reuni.
Midha dan Vivi kembali ke makanan mereka, sedangkan aku cuma melihat mereka makan tanpa ingin makan juga. Beberapa detik saling terdiam, aku baru ingat aku ingin menanyakan soal ruangan hijau. Lalu ku utarakan pertayaan itu sebelum lupa lagi.
”Eh, selama ada di sini, pernah mendengar yang namanya ruang hijau nggak?”
“Kantin nih, catnya hijau”, jawab Vivi sambil mengitarkan telunjuknya ke sekeliling ruangan.
“Selain tempat ini?” tanyaku lagi
“Di sini nggak ada kelas atau ruangan yang dijuluki seperti itu. Hijau itu identik dengan yang adem-adem. Mungkin taman” terang Midha sekaligus memberi jawaban.
Awalnya aku optimis dengan jawaban Midha tapi setelah kusadari kalau taman tidak punya pintu, aku kembali ragu. Petunjuknya mengatakan dibelakang pintu, berarti sebuah ruang yang berpintu.
“Memangnya untuk apa menanyakannya?” tanya Vivi diikuti anggukan Midha
“Iseng. Tadi pas jalan kesini sempat mendengan anak-anak membicarakan pertemuan di ruang hijau”
Aku kehilangan selera makan karena antusias dengan teka-teki dari inisial F ini. Kuputuskan mengundurkan diri setelahnya. Aku bilang pergi ke toilet dan mereka mengangguk begitu saja. Sambil menuju ke taman aku berpikir. Kalau taman adalah ruang hijau pintunya berarti pagar atau gapura masuknya. Taman identik dengan tanaman hijau, tapi menurutku terlalu luas untuk disebut ruang berpintu. Kupikirkan sekali lagi, mungkin ada tempat lebih kecil yang menyerupai taman atau sebuah ruangan yang memang sengaja disebut ruang hijau.
“Nas, temani aku bertemu Pak Junno dong!”, pinta seorang teman yang tiba-tiba menjajarkan langkah denganku.
“Pak Junno? Dimana?”
“Green House”
Aku tersenyum mendengar kata anak itu. Mungkin itu yang dimaksud kertas kecil yang kutemukan. Kuikuti anak itu sampai ke Green House, selagi dia membahas urusannya dengan Pak Junno, aku menungguinya di dekat pintu itu. Saat ada kesempatan sendirian itulah kulihat belakang pintu kaca itu. Ku temukan kertas lagi yang digulung rapi dan ditempelkan di bingkai pintu kaca. Segera kubuka dan kubaca kertas yang masih berinisial F itu.

JENDELA DUNIA MEMILIKI LUAS 4X4
‘F’

Kupikir ini akan jadi jawaban, tapi masih berisi teka-teki lagi. Sebenarnya kenapa aku harus mempercayai teka-teki seperti ini? ini bukan jamannya lagi berburu harta karun dari sebuah teka-teki. Atau demi menyelamatkan banyak orang seperti yang diancamkan di kertas pertama. Lagi pula aku tak yakin kalau aku bisa memecahkan semua teka-tekinya. Memecahkan satu teka-teki saja butuh waktu yang lama, capek pula. Dan kalau tahu pada akhirnya ini cuma sebuah lelucon, aku terlihat lucu karema mau-maunya mengikuti permainan ini.
Masih dalam mode berpikir. Aku ini jenius, fersiku sendiri. Aku calon psikolog hebat, memecahkan apapun adalah bagian dari mengasah otak. Walau sekarang ini cuma teka-teki lelucon, bisa jadi suatu saat aku menghadapi teka-teki yang betulan. Aku berpamitan dengan teman tadi setelah dapat SMS dari Vebri. Vebri menjemputku dan dia sudah menunggu di luar kampus. Sekarang sudah harus pulang, tapi besok akan ada petulangan lanjutan.

*****

Pagi berikutnya aku sampai di kampus sama awalnya seperti kemarin. Tak ada  kuliah pagi memang, tapi dengan datang lebih awal kesempatan berpikirku bisa lebih luas. Kubuka kembali kertas yang kutemukan di belakang pintu Grren House kemarin,

JENDELA DUNIA MEMILIKI LUAS 4X4
‘F’

Memangnya dunia punya jendela? Kenapa harus ada luasnya? Dimana kutemukan jendela itu? Bagaimana aku harus mengukurnya? Aku berpikir tapi tak ada hasil selama 2 jam ini. Kupejamkan mata dan kuhirup udara pagi, siapa tahu sebuah penyelesaian muncul di kepalaku. Kulakukan hal itu selam 1 menit. Setelah kubuka mata, yang kulihat sebuah poster yang bertuliskan BUKU ADALAH JENDELA DUNIA. Ya buku, berarti aku harus mencari buku. Yang kubingungkan, buku apa yang harus kucari? Dimana aku harus mencarinya? Dan apa arti luas 4X4? Mungkin sebuah buku ynag luasnya 4X4 meter atau 4X4 senti.
Otakku terus kugunakan untuk berpikir, sampai kuputuskan pergi keperpustakaan untuk mencari buku tersebut. Sampai di perpustakaan sebuah pemikiran lain muncul dan mengatakan perpustakaan adalah jendela itu. Luas perpustakaan itu mungkin 4X4 meter. Setelah kukira-kira luas ruangan ini lebih dari yang tertera di kertas. Bahkan bisa 3 sampai 4 kali lipat. Kulihat-lihat sekitar perpustakaan, siapa tahu dari situ aku menemukan petunjuk. Ada rak-rak buku yang kuhitung lebih dari 16. Ada jendela kurang dari 16, luasnya juga bukan 4X4. Lantai berpetak-petak, tapi tak kutemukan apapun di lantai. Kulihat atap masih tak ku temukan apapun. Mungkin bukan perpustakaan yang dimaksud petunjuk itu.
Ku ambil sebuah buku dan ku bawa ke pojokan. Kubuka buku itu tapi tak kubaca isinya. Aku lebih sibuk memikirkan hasil penelusuranku dari pada buku yang asal kucomot ini.  Mulai lelah fisik dan otakku memikirkan petunjuk sepele ini. Kuputuskan meninggalkan tempat ini sebelum otakku benar-benar tersumbat. Tapi kalau aku bisa memecahkan teka-teki ini dan mengetahui siapa pembuatnya, aku bisa menceramahinya nanti.
Kuperhatikan anak-anak yang sibuk membaca di sekitarku. Lumayan banyak, pasti sekarang sedang mendapat tugas dari Dosen. Tiga bangku yang sebaris denganku penuh, sekelilingku juga banyak mahasiswa lain. Atau mungkin yang dimaksud 4X4  adalah banyak  meja yang ada di perpustakaan ini? Aku mulai menghitungnya dan hasilnya ada 19 bangku. Lalu kuhitung dengan koordinat titik sumbu x:4, sumbu y:4, perpotongannya adalah bangku yang sekarang kutempati. Kuperiksa di balik meja, tak kutemukan apapun. Saat ku raba bagian bawah kursiku, kutemukan kertas yang ditempel dengan isolasi. Kubaca kalimat dalam kertas itu.

DI SAMPING KANAN DARI 19754 YANG MELEWATINYA
‘F’

Aku mengerutkan dahi membaca pesan yang tertulis dikertas warna biru ini. Kuputuskan melanjutkan perjalananku ini nanti setelah selesai kuliah. Dua mata kuliah kujalani, setelah selesai kulanjutkan menebak teka-teki yang masih kurasa menjengkelkan tapi juga menyenangkan. Aku berdiri di koridor bersandar pada tiang penyangga atap. Kupejamkan mataku dan kuhirup udara sedalam-dalamnya. Setelahnya, ku hembuskan berharap beban apapun terbawa bersama nafasku. Kubaca lagi tulisan di kertas itu.

DI SAMPING 19754 YANG MELEWATINYA
F

Di samping kanan. Aku tidak buta arah, aku bisa tentukan kanan kiri dan utara, selatan, barat, timur. 19754. Angka apa itu? Kata yang ‘melewatinya’ kuartikan dengan banyak makhluk. Mungkin manusia atau hewan. Berarti 19754 adalah jumlah sesuatu. Tapi apa maksudnya? Aku belum bisa mengaitkannya. Kali ini aku tidak akan bertindak sebelum benar-benar tahu arti teka-teki ini. Aku tak mau capek berjalan kesana kemari lalu hasilnya belum pasti.
Aku keluar kampus setelah Vebri meneleponku. Dia pasti sudah menungguku di luar kampus. Kutemui dia dulu sambil memikirkan pemecahan teka tekinya, mungkin setelah sampai rumah aku akan menemukan maksudnya.
“Tadi pagi kenapa kamu nggak bilang kalau berangkat sendiri?”, tanya Vebri meminta penjelasan.
“Aku buru-buru. Midha telepon, katanya dia butuh bantuan”
“Kok nggak telepon aku, padahal aku mau nganterin kamu?”
“Maaf!” pintaku membuatnya tersenyum.
“Apapun buat kamu aku maafin”
Aku bangga mempunyai Vebri. Sikap dewasanya itulah yang membuatku salut padanya.
“Midha dan Vivi mana? Biasanya kalian kemana-mana selalu bersama. Ibarat keluar gerbang kampus saja harus melangkah bersama dengan kaki yang sama pula. Kalian kan tidak bisa dipisahkan”
“Ada kok yang bisa memisahkan kita bertiga. Kamu itu yang bisa misahin aku dari Midha dan Vivi”. Vebri tersenyum lagi menanggapi omonganku.
Eh, tadi Vebri bilang apa? Gerbang? Gerbang dilewati banyak orang. Mungkin saja ada 19754 penghuni kampus yang hilir mudik melewatinya setiap hari. Sebelah kanan, mungkin gapuranya. Siapa tahu tebakan kali ini benar, aku perlu mengeceknya. Kupeluk Vebri sejenak dan kuberikan satu kecupan kecil di pipinya.
“Terima kasih!”, ucapku atas semua anugrah yang ada padanya.
“Terima kasih untuk apa?”
“Terima kasih telah menjemputku. Hari ini ada pelajaran tambahan, aku tidak bisa pulang bareng kamu. Nggak apa-apa ya!”
“Kamu pulang jam berapa?”
Kuangkat bahuku tanda tak tahu.
“Nanti aku dianter Vivi pulang. Kamu pulang duluan aja”
“Ok deh. Kamu hati-hati!”, tuturnya “Nanti malam aku telepon”
Vebri percaya padaku. Tak pernah sekalipun dia marah atau curiga pada apapun yang kulakukan.

*****

Setelah Vebri menghilang dari pandangan mataku, kuperiksa sisi kanan dan kiri gerbang. Dan memang kudapati kertas lagi tertempel dalam celah gapura. Aku puas mendapatkan ketasnya, tapi cemas akan teka-teki berikutnya.

PERTEMUAN
DIMANA KAU BISA MELIHAT DUNIA?
‘F’

Ini pasti teka-teki terakhir, terlihat dari kata yang tertulis di dalam kertas. Dimana aku bisa melihat dunia? Disini saja aku bisa melihatnya. Seulas senyum kusunggingkan untuk menanggapi pertanyaan itu. Dunia berarti sesuatu yamg luas. Bagaimana cara melihat sesuatu yang luas? Dunia harus dikecilkan atau pergi ke luar angkasa. Berarti dari atas. Ya, dari observatorium bisa melihat dunia di bawahnya, tapi sekitar sini tak ada observatorium. Aku memikirkan kemungkinan selain observatorium. Mungkin pohon yang tinggi, mungkin naik pesawat, mungkin naik gedung yang tinggi. Kampus ini punya gedung yang tinggi. Pasti di puncak gedung sesuatu itu berada. Teka-teki yang begitu mudah. Kalau sering memikirkan banyak kemungkinan, semuanya akan terlihat mudah.
Kunaiki gedung kampusku, mulanya lewat tangga tapi baru dua lantai saja aku sudah capek. Kemudian aku naik ke lantai paling atas dengan lift. Tak tak ada apa-apa sesaat sampai di atap gedung. Kucari-cari tak kutemukan surat lagi. Juga tak kutemukan apapun di tempat ini.
“Butuh waktu 2 hari untuk memecahkan teka-teki mudah seperti itu?” Suara di belakangku cukup jelas sebagai suara laki-laki. Setelah kulihat aku kaget siapa yang kudapati disitu
“Sebenarnya tak perlu sampai ke atas sini untuk mengetahui siapa penulisnya. Cukup satukan huruf-huruf kecil di balik kertas, di sudut kiri atas”
Kulihat lagi semua kertas yang ada. Setiap kertas memiliki satu huruf kecil yang hampir tak terlihat di baliknya, F.E.L.I.X. Felix. Menyebalkan sekali orang ini. Apa maksudnya membuat teka-teki untukku?
“Kau hebat tapi tak begitu jeli”
“Apa maumu membuat teka-teki lalu membawaku kemari?
“Tapi kau tertarik bukan?”
Tadinya memang aku tertarik, tapi setelah kutahu Felix yang membuat teka-teki itu kuurungkan untuk berterus terang.
“Aku sudah bilang akan mengejarmu, siap tidak siap kau akan menerimanya. Ngomong-ngomong kau semakin cantik setelah beberapa bulan tidak bertemu. Beruntung sekali kalau bisa jadi kekasihmu”
Sepertinya apa yang diucapkan Felix barusan itu bukan sebuah pujian. Aku ingat peristiwa di SMA waktu itu, dia memanipulasi pikiranku hanya dengan alasan dia menyukaiku. Sekarang demi bertemu denganku dia mengetes otakku dengan teka-teki. Aku yakin Felix akan melancarkan apa yang dikatakannya dulu, jadi aku patut berhati-hati dengannya.
“Kenapa cuma diam disitu, kau tidak merindukanku?” Dia tersenyum bangga mengucapkan kalimat itu
“Rindu? Pada orang yang pernah memanipulasi pikiranku sampai hampir gila? Yang benar saja. Bahkan aku aku hampir lupa siapa kau”, tanya dan jawabku sendiri. Buang-buang waktu bicara dengan orang sepertimu” Aku bermaksud meninggalkannya sebelum dia bicara lebih aneh lagi. Menjauhinya adalah salah satu cara agar tak terlibat masalah dengan Felix. Aku juga masih takut kalau pikiranku dimanipulasi lagi.
“Kenapa buru-buru?”, tanyanya masih memamerkan senyum menyebalkannya. “Ini baru permulaan, kau harus siap untuk yang berikutnya”
“Jangan macam-macam denganku atau kau akan menyesal nantinya!”, ancamku.
“Tak usah seserius itu. Nantinya kita akan sering bertemu dan kusarankan kau tak perlu melawan”
Aku benar-benar harus meninggalkan orang jahat ini. Aku tak mau jadi korban seperti waktu SMA dulu. Meskipun dia pernah berjanji tak mempengaruhi otakku lagi, tak membuktikan dia bisa berubah baik
“Sekali lagi kuperingatkan, jangan pernah ganggu aku!” ancamku lagi. Aku cepat-cepat meninggalkan tempat setelahya.
“Kalau butuh keterangan lebih lanjut, temui aku di kelas desain interior!” teriaknya.
Aku melihat senyum di wajahnya sebelum menjauh dari atap gedung. Rasanya menyebalkan kalau harus berurusan dengan fans gila seperti Felix. Tapi aku tak akan tinggal diam kalau dia akan menggangguku. Aku bisa mengandalkan status Vebri sebagai pacar. Paling tidak dia akan berfikir ulang kalau mau merebut kekasih orang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar