Membaca Pikiran
“Nanti
anterin aku kerumah Midha ya!”, pintaku pada Vebri.
“Nanti
sore?”
“Ya”
“Dijemput
juga nggak?”
“Boleh kalau
kamu nggak keberatan”, kataku sedikit kumanis-maniskan agar Vebri tak menolak
“Ok, tapi
sekarang aku harus bantuin kakak mau pindahan”
“Maaf ya,
aku nggak bisa bantu”
“Nggak
apa-apa, kamu
kan harus kuliah. Pokoknya nanti sore kamu telepon, aku langsung kerumah kamu”
Masih
seperti biasanya. Vebri nganter aku ke kampus. Hari ini dia tidak ada kuliah makanya dia bisa bantuin kakaknya pindahan.
Terus masih dengan sejuta kepercayaan yang di berikannya padaku. Dia tidak
tanya apapun tentang kegiatan yang kulakukan dengan teman-temanku. Vebri juga tak pernah komplain saat aku minta ini itu. Menurutnya semua yang
kuminta masih dalam taraf wajar. Dimana dia punya waktu dan sanggup melakukan,
akan dipenuhinya permintaanku. Itulah kenapa aku salut padanya dan sayang
pula.
*****
Koridor
kampus masih sepi, cuma ada satu dua anak yang berjalan disitu. Udara
berhembus tenang menghamburkan bau kuncup-kuncup bunga saat aku duduk. Sinar
mataharipun belum sampai menyilaukan mata. Bahkan hawa dingin semalam masih
melekat di sekitar. Aku menunggu Midha dan Vivi di koridar ini. Siapa tahu mereka akan datang kepagian
seperti aku. Atau paling tidak, ada anak yang kukenal datang dan bisa kuajak berbincang-bincang.
“Sengaja datang
pagi-pagi atau kepagian?”, kata seseorang yang benar-benar sudah kukenal suara
dan tampangnya dalam seminggu ini. “Menunggu
seseorang atau sedang mematai-matai seseorang?”, tanyanya lagi.
“Apa tidak
ada pekerjaan lain selain menanyakan hal-hal bodoh
padaku?”
“Ada, tapi
yakin kau tidak akan suka”
Aku tidak
suka setiap hari Felix datang padaku. Aku tidak suka semua tingkahnya, apalagi
kata-katanya. Menyebalkan sekali ketika berbicara dengannya. Selalu muncul banyak tanya dari mulutnya. Takutnya dia
akan melakukan yang dulu lagi. Percaya atau tidak dia benar-benar menakutkan.
“Kuberi tahu
sekali lagi, lupakan kejadian yang dulu-dulu. Kau tidak perlu takut padaku, bukankah aku
sudah pernah berjanji tak akan memanipulasi pikiranmu lagi”
“Tapi kau membaca pikiranku!”
“Tidak”
“Tidak apa? Benar
kau telah melakukannya. Kau membaca pikiranku, memanipulasinya. Kau tidak bisa,
sehari saja tak menemuiku?”
Dia
tersenyum menanggapi kata-kataku. Sepertinya dia tidak punya rasa belas
kasihan. Kalaupun tahu aku bicara seperti itu dia pasti mengerti aku cuma berusaha menutupi ketakutanku. Aku memang takut pada Felix bahkan aku merasa kehidupanku terancam
olehnya.
“Kembali ke
teman lama. Aku pernah bilang kalau aku akan mengejarmu. Yang perlu kau tahu, aku tidak akan berhenti sebelum apa yang
kuinginkan tercapai.”
“Kau juga
harus tahu satu hal kalau aku sudah punya Vebri. Aku tidak butuh orang lain, apalagi
kau”, kataku sedikit kasar. “Lagi
pula siapa kau berani ngejarku?”, sindirku.
“Aku Felix,
satu-satunya orang yang akan melakukan segala cara untuk mendapatkanmu”, balasnya. “Sekarang kau boleh
bilang begitu,
tapi nanti kau akan bilang hanya Felix yang memiliki
Anas”
Aku belum
sempat menjawab, tapi memang itu kalimat Felix sebelum meninggalkan aku sendirian. Sepeninggal Felix, Midha dan Vivi datang bersamaan. Rumah mereka berlainan arah, pastinya
meraka berpapasan di gerbang hingga mereka datang bersama. Aku senang mereka
datang, bisa memecah kebuntuan suasana serta bisa menemani dan menjauhkanku
dari Felix. Mungkin juga insting Felix terlalu tajam, sehingga dia pergi beberapa
detik sebelum Midha dan Vivi
datang. Walaupun itu benar aku tak akan menganggapnya
sehebat itu.
*****
“Kepala kamu
kenapa, Veb?” tanya Midha saat Aku dan Vebri tiba di rumahnya
“Kejatuhan
kotak di atas lemari”
“Lain kali
kamu harus hati-hati, kalau rusak itu kepala
nggak ada yang jual resepnya!”, kata Midha
mengingatkan sekaligus bercanda.
“Masuk dulu
yuk, Vivi sudah menunggu di dalam!”, ajaknya yang kami sambut dengan anggukan. Di dalam rumah Vivi juga menyakan hal
yang sama
seperti pertanyakan Midha. Dan
masih dengan jawaban yang sama pula Vebri menjawabnya
Sedikit
kasihan melihat Vebri yang kepalanya ditempeli kapas dengan obat merah membasahi
kapas itu. Kelihatannya tadi dia kesakitan, sedangkan aku tak berbuat apa-apa.
Cuma kalimat yang sama oleh Midha dan Vivi yang kulontarkan padanya, setelah itu aku tak katakana apapun. Sebenarnya
aku sayang Vebri dan itu tidak bisa dipungkiri hanya dengan tak berbuat apa-apa
saat dia sakit. Toh sakitnya telah diobati,
kalaupun belum aku baru
yang akan bertindak.
******
Entah apa
yang terjadi padaku beberapa hari ini, yang pasti semua yang kukerjakan akan
kacau kalau aku tidak berkonsentrasi. Seperti aku memaksakan kehendak sata
kerja kelompok di rumah Midha. Minta yang aneh-aneh dari Vebri, meskipun dia
tak menganggapnya aneh. Kadang aku merasa harus tidak peduli pada Vebri dan dua
temanku. Suka memerintah dan berkata kasar pula. Menurutku begitulah aku
seminggu ini, dan itu semua terjadi karena sering datangnya Felix kepadaku.
Benar-benar
kacau keadaanku gara-gara dia. Apa mungkin dia yang membuatku begini? Apa
mungkin dia yang menggerakkan pikiranku sehingga aku merasa berbeda dari aku
sebelumnya? Apa mungkin dia perlahan menggerakkan pikiranku agar aku bisa
menjauhi teman-temanku serta Vebri? Ataukah
mungkin dia akan berbuat sama seperti sebelumnya?
Ah aku tidak
mau bermain kemungkinan. Kalaupun iya, harusnya aku tidak terpengaruh atas
semua tindakannya. Aku calon psikolog, aku yang harusnya bisa mempengaruhi
orang, bukan sebaliknya. Mestinya aku berusaha menjauhi Felix, bila tidak bisa
mengantisipasi adanya kemungkinan buruk yang akan timbulkan Felix itu sudah
cukup. Aku harus mulai dari menguatkan
pikiranku untuk menepis sugesti yang di berikannya padaku.
“Nas!” Vivi menepuk pundakku dari belakang untuk membangunkanku dari
lamunan. “Ngelamun aja kesambet setan baru tahu rasa!”
“Sorry!”, kataku setelah Vivi dan Midha duduk di depanku.
“Mikirin
apaan?”, tanya Midha.
“Beberapa
hari ini aku kelihatan beda nggak?”
“Beda apanya?
Enggak lah”, jawab Midha.
“Kalau
menurutku ada”, tambah Vivi.
Aku terkejut
perkataan Vivi. Jangan-jangan dia tahu apa yang ku hadapi? Atau dia tahu perubahanku karena sesuatu.
“Bedanya
dimana?”, tanya Midha mewakili pertanyaanku.
“Dulu kamu
pintar, sekarang agak berkurang kepintaranmu. Jarang belajar ya? Jangan-jangan pacaran melulu sama Vebri”
Aku
tersenyum mendengar jawaban Vivi. Tak ada sangkut pautnya dengan kejanggalan yang ku rasakan.
“Makanya
kalian sebagai teman harus sering mengajakku belajar bersama. Biar aku tetep
pintar”, kataku yang kusambung dengan senyuman.
“Kalaupun
belajar pikiranmu tetap dengan Vebri, sama juga bohong”
“Janji deh,
tidak akan kulakukan itu. Belajar ya belajar dan pacaran waktunya setelah
belajar”
“Janji bukan
hanya untuk diucapkan
tapi dilaksanakan juga”
Aku cuma
manggut-manggut mendengar penegasan Vivi. Rasanya memang benar aku jarang belajar karena hal itu.
Aduh aku
menambahkan saus ke dalam baksoku.
“Katanya
nggak suka saus, kenapa pake saus banyak banget?”, tanya Vivi heran.
“Tadi yang
kuambil kecap bukan saos”.
Alhasil kutukarkan baksoku dengan bakso Midha. Untungnya
dia tidak keberatan.
Itulah awal
dari kekacauan dalam diriku. Berikutnya aku disuruh ambil sendok ku ambilkan
garpu. Saat tergesa-gesa keperpustakaan aku masuk ke toilet. Beberapa kali aku
absen bertanya.
Aku selalu mengacungkan jari dan jawabanku selalu salah, padahal jawabanku kuprediksi benar, tapi setelah aku mulai
bicara, selalu kata-kata lain yang muncul. Rasanya memang benar-benar ada orang
yang mengendalikan pikiranku.
*****
“Katanya
kamu mau diantar ke toko roti, kok minta berhenti di pasar?”, tanya Vebri saat kami jalan bersama.
“Aku juga
nggak tahu kenapa aku minta berhenti disini. Mending kita ke toko roti saja”
usulku selanjutnya.
Kami putar arah ke toko roti setelah sempat
berhenti di pasar. Untung tadi Vebri tidak tanya macam-macam soal berhenti di
pasar.
“Besok Midha
ulang tahun, kamu mau belikan roti apa?”, tanya Vebri
setelah sampai di toko.
“Tart”
“Besok aku
yang ambil disini dan langsung aku bawa ketempat kalian”
“Terima masih!”
Hari ini di
bawah pohon mangga yang rindang, aku berkumpul dengan dua sahabatku Vivi dan Midha. Tepatnya
untuk memberi Midha kejutan ulang tahun. Awalnya aku harus berdiplomasi bersama
Vivi agar Midha tarsanjung, tapi sayangnya diplomasiku tak menjurus
ke ulang tahunnya. Vivi
saja mengerutkan dahi karena tak mengerti arti
diplomasiku.
“Langit begitu cerah hari ini” Padahal
banyak awan hitam yang menghalangi sinar matahari. ”Udara semilir lembut dan hangat”. Soal udara
aku tak yakin karena menurutku tak ada angin
yang berhembus dan karena mendung udara jadi dingin.
Kenapa
kata-kataku kacau, semestinya sebagai mahasiswa psikologi aku bisa
mendiskripsikan suasana
dengan mudah.
”Dengan
segala keunikan hari ini kuucapkan selamat ulang tahun untukmu”, kataku menutup
diplomasi konyol setelah ditoel oleh Vivi.
“Kukira kau
tak bercanda berdiplomasi seperti itu”, kata Vivi mulai lega.
“Aku calon
psikolog, apapun yang kukatakan harusnya bisa mempengaruhi kalian. Karena hari
ini mendung kukatakan cerah dan kalian tidak percaya itu artinya kalian masih
waras” Kataku sambil tersenyum bangga.
“O… Jadi
kita ini kelinci percobaan?”, Midha memprotes
tindakanku.
Aku tertawa
melihat dua temanku cemberut. Sebenarnya tidak seperti itu, pemikiranku agak
kacau saja. Dari pada semua kata-kataku salah, mendingan
aku belokkan. Walaupun tidak menghibur tapi cukup membuatku nyaman.
Vebri datang dengan kue yang dijanjikan. Kami
memberikannya kepada Midha. Lucunya saat Midha membukanya bukan tulisan Happy
Birthday yang ada di kue, tapi tulisan Happy Anniversary malah menghiasi permukaan tart. Sebenarnya Vebri yang salah
ambil atau aku yang salah pesan?
“Anniversary?
Siapa?”
Aku langsung
menoleh ke Vebri meminta bantuan dan penjelasan.
“Mungkin aku
salah ambil, tapi di kertas bon-nya bener itu”
“Mungkin aja
yang nulis salah”, kata Vivi memberikan
pemikiran positifnya.
Aku tidak
berkata apa-apa karena yakin kalau kemarin aku pesan kue tart. Tapi juga yakin
kalau pikiranku digerakkan seseorang dari jarak jauh, apapun akan menjadi
kesalahan. Contohnya ucapan pada kue tart ini.
******
Aku tak tahu
satu-satunya orang yang harus memberikan penjelasan adalah Felix. Saat aku
tidak bersama Vivi, Midha, dan Vebri, aku putuskan mencari Felix di
kelasnya atau di sekitar biasa dia muncul. Tapi sebelum beranjak dari dudukku
dia sudah di
sampingku. Cukup kaget dengan kehadiran tiba-tibanya,
namun membuatku lega karena tak perlu mencarinya jauh-jauh.
“Ini namanya
panggilan hati”, katanya menanggapi kekagetanku. “Dan aku datang untuk menemuhinya”, cukup untuk tidak membuatku terkesan. “Ada yang mau kau tanyakan?”
“Kau menghipnotisku
lagi?”, tanyaku to the Point. “Kau
memanipulasi pikiranku
kan? Kau ngerecokin semuanya, tahu?”
“Memanipulasi?
Maksudnya?”
“Jangan
pura-pura tak
tahu, kau pernah bilang kalau bisa membuat semua orang
berhalusinasi. Kau pasti memanipulasiku
lagi?”
“Sebenarnya
ini cuma permainan, tidak perlu seserius itu menanggapinya”
“Serius atau
tidak, ini semua berhubungan denganku”, bentakku. “Ok, ini untuk
yang terakhir kalinya aku minta padamu, jangan ganggu aku!”, pintaku agak kupaksakan.
“Aku tak
akan mengganggumu lagi setelah impianku tercapai”
“Kalau
begitu capailah impianmu tanpa menggangguku”
Felix
tersenyum menunjukkan pesona bibirnya. Vebri-pun kalah
kalau harus menghadapi Felix dalam hal adu ketampanan. Felix lebih tampan dari
Vebri, dia memiliki aura lebih. Dia juga pintar. Tapi dalam hal kebaikan, Vebri lebih unggul dari Felix. Dia memilik ketampanan
hati yang luar biasa jauh dari felix. Bersikap selalu baik, membuat orang lain
nyaman berada di
dekatnya bahkan jarang sekali membuat masalah. Beda
dengan Felix yang tak mudah akrab dengan teman dan sering membuat
masalah.
“Mauku juga
begitu, tapi tak mungkin aku mencapai impianku tanpa mengganggumu”
“Memangnya
impianmu sampai harus melibatkan aku?”, tanyaku mempercepat pembicaraan.
“Impianku adalah
kau.
Kenapa kau masih tak sadar juga?”, jawabnya singkat.
“Aku tidak sudi jadi
impianmu”
“Sudah
kukatakan berulang-ulang kalau aku menyukaimu,
jadi kaulah impianku.
Dan aku sudah bilang tak akan berhenti sebelum menjadikanmu kekasihku”
“Lebih baik
kau mencari orang lain yang mau menjadi kekasihmu dan tidak keberatan dengan tingkah konyolmu itu!”, tegasku
Aku segera
berdiri untuk meningggalkan Felix, tapi sebelum aku beranjak dia mencegahku
“Aku yang
datang kemari, berarti aku yang harus pergi!”
“Bagus kau sadar.
Kalau begitu cepatlah pergi!”, usirku
tanpa peduli tanggapannya. “Sekali lagi
kuingatkan, aku akan mendapatkan yang aku mau, apapun caranya.
Bukankah kalimat itu sudah kuucapkan sebelumnya, jadi apapun permainannya kau
harus ikuti?”,
katanya lagi dan lagi. “Mengenai permintaanmu aku
tidak bisa mengabulkan”
“Aku bisa
menuntutmu kalau kau terus mengancam!”, bentakku tanpa ada yang dengar kecuali Felix.
“Kau tak
punya bukti untuk menuntutku. Lebih baik kau pikirkan tawaran dariku daripada
harus repot-repot mencari bukti untuk menuntutku. Kau tinggalkan pacarmu
untukku atau kau akan terus mengalami kesialan bersama pacarmu”
“Kau sudah tahu apa jawabanku”.
Felix cuma mengangguk-anggukan kepala, sedikit mengerutkan
kening dan tersenyum simpul.
“Aku tidak butuh jawabanmu sekarang. Pikirkan lagi, lagi, dan lagi”
Aku tahu
pasti apa jawabanku dan aku yakin dengan itu. Walaupun aku akan mengalami
beribu kesialan aku rela, dari pada harus melepas Vebri dan menerima Felix.
******
Setelah
pembicaraanku dengan felix, seminggu ini tak kurasakan lagi kejanggalan dalam diriku.
Mungkin Felix sudah mencabut kata-katanya, cuma itu yang kutahu. Tapi lain dengan hari ini. Pikiranku kalut, resah dan selalu ada
yang salah padaku. Gerakan
yang dilakukan Felix mungkin dimulai lagi, aku harus pulang dan istirahat dirumah untuk kali ini.
Ku
tinggalkan seluruh kegiatanku hari ini dan kuputuskan pulang tanpa harus
merepotkan siapapun. Karena pikiranku kalut aku tak sempat memperhatikan
jalanku. Aku baru sadar setelah ditengah jalan sebuah mobil membunyikan
klakson. Gerak refleksku telah hilang setelah pemikiranku terpusat pada
keresahan hatiku. Semenit aku tak sadar apa yang terjadi setelah mobil tadi
hampir menabrakku. Yang ku tahu seseorang menarikku dan sekarang aku berada di tepi jalan dengan Felix memegangi tubuhku. Aku
menamparnya walau tahu dia yang telah menyelamatkanku.
“Lebih baik aku mati dari pada harus
menerima pertolongan darimu”
Kutinggalkan dia di tepi jalan tanpa ucapan terima kasih. Meskipun banyak anak-anak lain
berbisik-bisik mengataiku sebagai orang yang tak tahu terima kasih, aku tak
akan luluh karena pertolongan
Felix. Lagi pula pasti dialah yang merencakan semua itu, jadi tak
perlu berterima kasih padanya.
******
Hari ini aku
tidak kuliah. Aku memang tidak sakit, tapi aku merasa harus istirahat sejenak
dari permainan Felix. Aku tidak mengeluh karena ini sudah jadi keputusanku.
Siang hari Vivi dan Midha ke rumah untuk melihat keadaaanku. Setelah tahu aku tidak masuk
karena bolos,
mereka tak simpatik lagi padaku. Dan sebentar kemudian
mereka pergi. Saat
Vebri ke rumahku,
reaksinya sama seperti Vivi dan Midha setelah tahu keadaanku. Mereka memang kompak
kalau tidak suka sesuatu. Salah satunya tidak suka melihat anak bolos kuliah.
Dasar maniak
pelajaran!
Ups,
sebenarnya aku sendiri juga tak suka, tapi karena alasanku tepat untuk diriku
sendiri, aku tidak keberatan predikat maniak
pelajaran dicabut dariku. Toh membolos sekali-kali tak mempengaruhi otakku.
Aku pergi ke
blok depan untuk membeli sekoteng. Malam ini dingin sekali, kalau minum
sekoteng akan mencegah masuk angin dan menghangatkan badan. Saat aku di
tenda tukang sekoteng, aku lihat
Felix di
dalam. Dia berbincang-bincang
dengan pengunjung lain. Nampak berbeda dengan Felix kalau di Kampus. Dia akrab
dengan orang-orang disitu. Aku terus
mengamatiya dari jarak yang tak begitu jauh darinya, tapi sepertinya dia tak
melihatku. Tetap kuamati dia sampai akhirnya pandanganya tertuju padaku, tapi
sebentar kemudian dia menghindarkan pandangannya dan kembali fokus pada topik perbincangannya.
Masih
kupikirkan akan kejadian barusan. Heran saja dia tidak
menghiraukanku seperti biasanya. Bukannya mulai ada rasa untuknya, tapi melihat
perbuatannya padaku selama
ini tidak mungkin kalau dia seacuh itu. Atau mungkin dia
tidak mau orang sekelilingnya tahu apa yang sedang dikerjakannya. Atau karena
kebetulan bertemu dia tak punya ide untuk mengerjaiku. Kemungkinan lain dia tak lagi mengangguku karena ku tampar kemarin.
“Suka
sekoteng juga?”, tanyanya yang muncul dari balik pohon.
“Tidak bisakah
kau datang secara wajar?”,
kataku yang menanggapi kedatangan tiba-tiba-nya.
“Hari ini kau
menghindar dariku atau sedang memikirkan pilihan yang kuberikan?”, tanyanya sambil menyejajarkan langkahnya denganku.
“Tidak ada
alasan untuk menghindar darimu dan tidak ada waktu untuk memikirkan pilihan konyolmu itu”, jawabku sinis.
Felix
tersenyum lagi. Entah kenapa setiap denganku selalu memamerkan senyumnya itu.
Tapi kuakui itulah nilai plus darinya.
“Aku sudah
ubah rencanaku. Tidak akan kuulang kejadian di SMA dulu, tapi kamu harus
memilih”
“Aku tidak
akan memilihmu”,
tegasku sekali lagi.
“Ini bukan
antara kau dan aku lagi, tapi menyangkut pacarmu juga”
“Apa
maksudmu?”
“Aku tidak
akan tahan menyakitimu selama ini, tapi kalau pacarmu…”
“Jangan
sentuh dia!”
“Makanya kau
harus memilih. Aku atau dia, dengan kensekuensi tersebut tentunya”
Dia
tersenyum, tapi tak ku anggap nilai plus lagi. Itu adalah senyum ejekan yang di tujukan padaku dan Vebri. Kalau saja membunuh
orang itu tidak
ada hukumnya, aku akan membunuhnya sebelum dia menyakiti orang lain. Sayangnya
aku bukan orang yang seberani itu untuk membunuh orang lain.
Kami sudah
sampai di
depan rumahku dan saatnya aku menutup pembicaraan tanpa
ada kelanjutan.
“Kau tak
perlu komentar”,
katanya menutup rencanaku.
“Kau
memberiku pilihan lumayan berat, tapi aku tidak akan memilihmu”
“Jangan
langsung dijawab, masuklah, istirahat sambil pikirkan lagi. Dan kalau kau
sayang padanya memilihku adalah keputusan tepat!”. Dia tersenyum lagi bahkan mengerling padakuku.
Aku
buru-buru meninggalkannya, membuka pagar dan terus berjalan ke rumah tanpa menoleh padanya. Dia menyuruhku berpikir dan
akan aku lakukan malam ini. Aku benci Felix, tapi tak mau Vebri celaka. Aku
akan mencoba mencari jawaban tanpa menyakiti Vebri, meskipun hasilnya akan sulit.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar