Rabu, 12 Agustus 2015

FENAS: Serie 3




Membaca Pikiran


“Nanti anterin aku kerumah Midha ya!”, pintaku pada Vebri.
“Nanti sore?”
“Ya”
“Dijemput juga nggak?”
“Boleh kalau kamu nggak keberatan”, kataku sedikit kumanis-maniskan agar Vebri tak menolak
“Ok, tapi sekarang aku harus bantuin kakak mau pindahan”
“Maaf ya, aku nggak bisa bantu”
“Nggak apa-apa, kamu kan harus kuliah. Pokoknya nanti sore kamu telepon, aku langsung kerumah kamu”
Masih seperti biasanya. Vebri nganter aku ke kampus. Hari ini dia tidak ada kuliah makanya dia bisa bantuin kakaknya pindahan. Terus masih dengan sejuta kepercayaan yang di berikannya padaku. Dia tidak tanya apapun tentang kegiatan yang kulakukan dengan teman-temanku. Vebri  juga tak pernah komplain saat aku minta ini itu. Menurutnya semua yang kuminta masih dalam taraf wajar. Dimana dia punya waktu dan sanggup melakukan, akan dipenuhinya permintaanku. Itulah kenapa aku salut padanya dan sayang pula.

*****

Koridor kampus masih sepi, cuma ada satu dua anak yang berjalan disitu. Udara berhembus tenang menghamburkan bau kuncup-kuncup bunga saat aku duduk. Sinar mataharipun belum sampai menyilaukan mata. Bahkan hawa dingin semalam masih melekat di sekitar. Aku menunggu Midha dan Vivi di koridar ini. Siapa tahu mereka akan datang kepagian seperti aku. Atau paling tidak, ada anak yang kukenal datang dan bisa kuajak berbincang-bincang.
“Sengaja datang pagi-pagi atau kepagian?”, kata seseorang yang benar-benar sudah kukenal suara dan tampangnya dalam seminggu ini. “Menunggu seseorang atau sedang mematai-matai seseorang?”, tanyanya lagi.
“Apa tidak ada pekerjaan lain selain menanyakan hal-hal bodoh padaku?”
“Ada, tapi yakin kau tidak akan suka”
Aku tidak suka setiap hari Felix datang padaku. Aku tidak suka semua tingkahnya, apalagi kata-katanya. Menyebalkan sekali ketika berbicara dengannya. Selalu muncul banyak tanya dari mulutnya. Takutnya dia akan melakukan yang dulu lagi. Percaya atau tidak dia benar-benar menakutkan.
“Kuberi tahu sekali lagi, lupakan kejadian yang dulu-dulu. Kau tidak perlu takut padaku, bukankah aku sudah pernah berjanji tak akan memanipulasi pikiranmu lagi
“Tapi kau membaca pikiranku!”
“Tidak”
Tidak apa? Benar kau telah melakukannya. Kau membaca pikiranku, memanipulasinya. Kau tidak bisa, sehari saja tak menemuiku?”
Dia tersenyum menanggapi kata-kataku. Sepertinya dia tidak punya rasa belas kasihan. Kalaupun tahu aku bicara seperti itu dia pasti mengerti aku cuma berusaha menutupi ketakutanku. Aku memang takut pada Felix bahkan aku merasa kehidupanku terancam olehnya.
“Kembali ke teman lama. Aku pernah bilang kalau aku akan mengejarmu. Yang perlu kau tahu, aku tidak akan berhenti sebelum apa yang kuinginkan tercapai.”
“Kau juga harus tahu satu hal kalau aku sudah punya Vebri. Aku tidak butuh orang lain, apalagi kau”, kataku sedikit kasar. “Lagi pula siapa kau berani ngejarku?”, sindirku.
“Aku Felix, satu-satunya orang yang akan melakukan segala cara untuk mendapatkanmu”, balasnya. “Sekarang kau boleh bilang begitu, tapi nanti kau akan bilang hanya Felix yang memiliki Anas”
Aku belum sempat menjawab, tapi memang itu kalimat Felix sebelum meninggalkan aku sendirian. Sepeninggal Felix, Midha dan Vivi datang bersamaan. Rumah mereka berlainan arah, pastinya meraka berpapasan di gerbang hingga mereka datang bersama. Aku senang mereka datang, bisa memecah kebuntuan suasana serta bisa menemani dan menjauhkanku dari Felix. Mungkin juga insting Felix terlalu tajam, sehingga dia pergi beberapa detik sebelum Midha dan Vivi datang. Walaupun itu benar aku tak akan menganggapnya sehebat itu.

*****

“Kepala kamu kenapa, Veb?” tanya Midha saat Aku dan Vebri tiba di rumahnya
“Kejatuhan kotak di atas lemari”
“Lain kali kamu harus hati-hati, kalau rusak itu kepala nggak ada yang jual resepnya!”, kata Midha mengingatkan sekaligus bercanda.
“Masuk dulu yuk, Vivi sudah menunggu di dalam!”, ajaknya yang kami sambut dengan anggukan. Di dalam rumah Vivi juga menyakan hal yang sama seperti pertanyakan Midha. Dan masih dengan jawaban yang sama pula Vebri menjawabnya
Sedikit kasihan melihat Vebri yang kepalanya ditempeli kapas dengan obat merah membasahi kapas itu. Kelihatannya tadi dia kesakitan, sedangkan aku tak berbuat apa-apa. Cuma kalimat yang sama oleh Midha dan Vivi yang kulontarkan padanya, setelah itu aku tak katakana apapun. Sebenarnya aku sayang Vebri dan itu tidak bisa dipungkiri hanya dengan tak berbuat apa-apa saat dia sakit. Toh sakitnya telah diobati, kalaupun belum aku baru yang akan bertindak.

******

Entah apa yang terjadi padaku beberapa hari ini, yang pasti semua yang kukerjakan akan kacau kalau aku tidak berkonsentrasi. Seperti aku memaksakan kehendak sata kerja kelompok di rumah Midha. Minta yang aneh-aneh dari Vebri, meskipun dia tak menganggapnya aneh. Kadang aku merasa harus tidak peduli pada Vebri dan dua temanku. Suka memerintah dan berkata kasar pula. Menurutku begitulah aku seminggu ini, dan itu semua terjadi karena sering datangnya Felix  kepadaku.
Benar-benar kacau keadaanku gara-gara dia. Apa mungkin dia yang membuatku begini? Apa mungkin dia yang menggerakkan pikiranku sehingga aku merasa berbeda dari aku sebelumnya? Apa mungkin dia perlahan menggerakkan pikiranku agar aku bisa menjauhi teman-temanku serta Vebri? Ataukah  mungkin dia akan berbuat sama seperti sebelumnya?
Ah aku tidak mau bermain kemungkinan. Kalaupun iya, harusnya aku tidak terpengaruh atas semua tindakannya. Aku calon psikolog, aku yang harusnya bisa mempengaruhi orang, bukan sebaliknya. Mestinya aku berusaha menjauhi Felix, bila tidak bisa mengantisipasi adanya kemungkinan buruk yang akan timbulkan Felix itu sudah cukup. Aku  harus mulai dari menguatkan pikiranku untuk menepis sugesti yang di berikannya padaku.
“Nas!” Vivi menepuk pundakku dari belakang untuk membangunkanku dari lamunan. “Ngelamun aja kesambet setan baru tahu rasa!”
“Sorry!”, kataku setelah Vivi dan Midha duduk di depanku.
“Mikirin apaan?”, tanya Midha.
“Beberapa hari ini aku kelihatan beda nggak?
Beda apanya? Enggak lah, jawab Midha.
“Kalau menurutku ada”, tambah Vivi.
Aku terkejut perkataan Vivi. Jangan-jangan dia tahu apa yang ku hadapi? Atau dia tahu perubahanku karena sesuatu.
“Bedanya dimana?”, tanya Midha mewakili pertanyaanku.
“Dulu kamu pintar, sekarang agak berkurang kepintaranmu. Jarang belajar ya? Jangan-jangan pacaran melulu sama Vebri”
Aku tersenyum mendengar jawaban Vivi. Tak ada sangkut pautnya dengan kejanggalan yang ku rasakan.
“Makanya kalian sebagai teman harus sering mengajakku belajar bersama. Biar aku tetep pintar”, kataku yang kusambung dengan senyuman.
“Kalaupun belajar pikiranmu tetap dengan Vebri, sama juga bohong”
“Janji deh, tidak akan kulakukan itu. Belajar ya belajar dan pacaran waktunya setelah belajar”
“Janji bukan hanya untuk diucapkan tapi dilaksanakan juga”
Aku cuma manggut-manggut mendengar penegasan Vivi. Rasanya memang benar aku jarang belajar karena hal itu.
Aduh aku menambahkan saus ke dalam baksoku.
“Katanya nggak suka saus, kenapa pake saus banyak banget?”, tanya Vivi heran.
“Tadi yang kuambil kecap bukan saos”. Alhasil kutukarkan baksoku dengan bakso Midha. Untungnya dia tidak keberatan.
Itulah awal dari kekacauan dalam diriku. Berikutnya aku disuruh ambil sendok ku ambilkan garpu. Saat tergesa-gesa keperpustakaan aku masuk ke toilet. Beberapa kali aku absen bertanya. Aku selalu mengacungkan jari dan jawabanku selalu salah, padahal jawabanku kuprediksi benar, tapi setelah aku mulai bicara, selalu kata-kata lain yang muncul. Rasanya memang benar-benar ada orang yang mengendalikan pikiranku.

*****

“Katanya kamu mau diantar ke toko roti, kok minta berhenti di pasar?”, tanya Vebri saat kami jalan bersama.
“Aku juga nggak tahu kenapa aku minta berhenti disini. Mending kita ke toko roti saja” usulku selanjutnya.
Kami putar arah ke toko roti setelah sempat berhenti di pasar. Untung tadi Vebri tidak tanya macam-macam soal berhenti di pasar.
“Besok Midha ulang tahun, kamu mau belikan roti apa?”, tanya Vebri setelah sampai di toko.
“Tart”
“Besok aku yang ambil disini dan langsung aku bawa ketempat kalian”
Terima masih!”
Hari ini di bawah pohon mangga yang rindang, aku berkumpul dengan dua sahabatku Vivi dan Midha. Tepatnya untuk memberi Midha kejutan ulang tahun. Awalnya aku harus berdiplomasi bersama Vivi agar Midha tarsanjung, tapi sayangnya diplomasiku tak menjurus ke ulang tahunnya. Vivi saja mengerutkan dahi karena tak mengerti arti diplomasiku.
“Langit begitu cerah hari ini” Padahal banyak awan hitam yang menghalangi sinar matahari. ”Udara semilir lembut dan hangat”. Soal udara aku tak yakin karena menurutku tak ada angin yang berhembus dan karena mendung udara jadi dingin.
Kenapa kata-kataku kacau, semestinya sebagai mahasiswa psikologi aku bisa mendiskripsikan suasana dengan mudah.
”Dengan segala keunikan hari ini kuucapkan selamat ulang tahun untukmu”, kataku menutup diplomasi konyol setelah ditoel oleh Vivi.
“Kukira kau tak bercanda berdiplomasi seperti itu”, kata Vivi mulai lega.
“Aku calon psikolog, apapun yang kukatakan harusnya bisa mempengaruhi kalian. Karena hari ini mendung kukatakan cerah dan kalian tidak percaya itu artinya kalian masih waras” Kataku sambil tersenyum bangga.
“O… Jadi kita ini kelinci percobaan?”, Midha memprotes tindakanku.
Aku tertawa melihat dua temanku cemberut. Sebenarnya tidak seperti itu, pemikiranku agak kacau saja. Dari pada semua kata-kataku salah, mendingan aku belokkan. Walaupun tidak menghibur tapi cukup membuatku nyaman.
 Vebri datang dengan kue yang dijanjikan. Kami memberikannya kepada Midha. Lucunya saat Midha membukanya bukan tulisan Happy Birthday yang ada di kue, tapi tulisan Happy Anniversary malah menghiasi permukaan tart. Sebenarnya Vebri yang salah ambil atau aku yang salah pesan?
“Anniversary? Siapa?”
Aku langsung menoleh ke Vebri meminta bantuan dan penjelasan.
“Mungkin aku salah ambil, tapi di kertas bon-nya bener itu”
“Mungkin aja yang nulis salah”, kata Vivi memberikan pemikiran positifnya.
Aku tidak berkata apa-apa karena yakin kalau kemarin aku pesan kue tart. Tapi juga yakin kalau pikiranku digerakkan seseorang dari jarak jauh, apapun akan menjadi kesalahan. Contohnya ucapan pada kue tart ini.

******

Aku tak tahu satu-satunya orang yang harus memberikan penjelasan adalah Felix. Saat aku tidak bersama Vivi, Midha, dan Vebri, aku putuskan mencari Felix di kelasnya atau di sekitar biasa dia muncul. Tapi sebelum beranjak dari dudukku dia sudah di sampingku. Cukup kaget dengan kehadiran tiba-tibanya, namun membuatku lega karena tak perlu mencarinya jauh-jauh.
“Ini namanya panggilan hati”, katanya menanggapi kekagetanku. “Dan aku datang untuk menemuhinya”, cukup untuk tidak membuatku terkesan. “Ada yang mau kau tanyakan?”
“Kau menghipnotisku lagi?”, tanyaku to the Point. “Kau memanipulasi pikiranku kan? Kau ngerecokin semuanya, tahu?
“Memanipulasi? Maksudnya?”
“Jangan pura-pura tak tahu, kau pernah bilang kalau bisa membuat semua orang berhalusinasi. Kau pasti memanipulasiku lagi?”
“Sebenarnya ini cuma permainan, tidak perlu seserius itu menanggapinya”
“Serius atau tidak, ini semua berhubungan denganku”, bentakku. “Ok, ini untuk yang terakhir kalinya aku minta padamu, jangan ganggu aku!”, pintaku agak kupaksakan.
“Aku tak akan mengganggumu lagi setelah impianku tercapai”
“Kalau begitu capailah impianmu tanpa menggangguku”
Felix tersenyum menunjukkan pesona bibirnya. Vebri-pun kalah kalau harus menghadapi Felix dalam hal adu ketampanan. Felix lebih tampan dari Vebri, dia memiliki aura lebih. Dia juga pintar. Tapi dalam hal kebaikan, Vebri lebih unggul dari Felix. Dia memilik ketampanan hati yang luar biasa jauh dari felix. Bersikap selalu baik, membuat orang lain nyaman berada di dekatnya bahkan jarang sekali membuat masalah. Beda dengan Felix yang tak mudah akrab dengan teman dan sering membuat masalah.
“Mauku juga begitu, tapi tak mungkin aku mencapai impianku tanpa mengganggumu”
“Memangnya impianmu sampai harus melibatkan aku?”, tanyaku mempercepat pembicaraan.
Impianku adalah kau. Kenapa kau masih tak sadar juga?, jawabnya singkat.
“Aku tidak sudi jadi impianmu
“Sudah kukatakan berulang-ulang kalau aku menyukaimu, jadi kaulah impianku. Dan aku sudah bilang tak akan berhenti sebelum menjadikanmu kekasihku
Lebih baik kau mencari orang lain yang mau menjadi kekasihmu dan tidak keberatan dengan tingkah konyolmu itu!”, tegasku
Aku segera berdiri untuk meningggalkan Felix, tapi sebelum aku beranjak dia mencegahku
“Aku yang datang kemari, berarti aku yang harus pergi!”
Bagus kau sadar. Kalau begitu cepatlah pergi!, usirku tanpa peduli tanggapannya. “Sekali lagi kuingatkan, aku akan mendapatkan yang aku mau, apapun caranya. Bukankah kalimat itu sudah kuucapkan sebelumnya, jadi apapun permainannya kau harus ikuti?”, katanya lagi dan lagi. “Mengenai permintaanmu aku tidak bisa mengabulkan
“Aku bisa menuntutmu kalau kau terus mengancam!”, bentakku tanpa ada yang dengar kecuali Felix.
“Kau tak punya bukti untuk menuntutku. Lebih baik kau pikirkan tawaran dariku daripada harus repot-repot mencari bukti untuk menuntutku. Kau tinggalkan pacarmu untukku atau kau akan terus mengalami kesialan bersama pacarmu”
“Kau sudah tahu apa jawabanku”.
Felix cuma mengangguk-anggukan kepala, sedikit mengerutkan kening dan tersenyum simpul.
“Aku tidak butuh jawabanmu sekarang. Pikirkan lagi, lagi, dan lagi”
Aku tahu pasti apa jawabanku dan aku yakin dengan itu. Walaupun aku akan mengalami beribu kesialan aku rela, dari pada harus melepas Vebri dan menerima Felix.

******

Setelah pembicaraanku dengan felix, seminggu ini tak kurasakan lagi kejanggalan dalam diriku. Mungkin Felix sudah mencabut kata-katanya, cuma itu yang kutahu. Tapi lain dengan hari ini. Pikiranku kalut, resah dan selalu ada yang salah padaku. Gerakan yang dilakukan Felix mungkin dimulai lagi, aku harus pulang dan istirahat dirumah untuk kali ini.
Ku tinggalkan seluruh kegiatanku hari ini dan kuputuskan pulang tanpa harus merepotkan siapapun. Karena pikiranku kalut aku tak sempat memperhatikan jalanku. Aku baru sadar setelah ditengah jalan sebuah mobil membunyikan klakson. Gerak refleksku telah hilang setelah pemikiranku terpusat pada keresahan hatiku. Semenit aku tak sadar apa yang terjadi setelah mobil tadi hampir menabrakku. Yang ku tahu seseorang menarikku dan sekarang aku berada di tepi jalan dengan Felix memegangi tubuhku. Aku menamparnya walau tahu dia yang telah menyelamatkanku.
“Lebih baik aku mati dari pada harus menerima pertolongan darimu”
Kutinggalkan dia di tepi jalan tanpa ucapan terima kasih. Meskipun banyak anak-anak lain berbisik-bisik mengataiku sebagai orang yang tak tahu terima kasih, aku tak akan luluh karena pertolongan Felix. Lagi pula pasti dialah yang merencakan semua itu, jadi tak perlu berterima kasih padanya.

******

Hari ini aku tidak kuliah. Aku memang tidak sakit, tapi aku merasa harus istirahat sejenak dari permainan Felix. Aku tidak mengeluh karena ini sudah jadi keputusanku. Siang hari Vivi dan Midha ke rumah untuk melihat keadaaanku. Setelah tahu aku tidak masuk karena bolos, mereka tak simpatik lagi padaku. Dan sebentar kemudian mereka pergi. Saat Vebri ke rumahku, reaksinya sama seperti Vivi dan Midha setelah tahu keadaanku. Mereka memang kompak kalau tidak suka sesuatu. Salah satunya tidak suka melihat anak bolos kuliah.
Dasar maniak pelajaran!
Ups, sebenarnya aku sendiri juga tak suka, tapi karena alasanku tepat untuk diriku sendiri, aku tidak keberatan predikat maniak pelajaran dicabut dariku. Toh membolos sekali-kali tak mempengaruhi otakku.
Aku pergi ke blok depan untuk membeli sekoteng. Malam ini dingin sekali, kalau minum sekoteng akan mencegah masuk angin dan menghangatkan badan. Saat aku di tenda tukang sekoteng, aku lihat Felix di dalam. Dia berbincang-bincang dengan pengunjung lain. Nampak berbeda dengan Felix kalau di Kampus. Dia akrab dengan orang-orang disitu. Aku terus mengamatiya dari jarak yang tak begitu jauh darinya, tapi sepertinya dia tak melihatku. Tetap kuamati dia sampai akhirnya pandanganya tertuju padaku, tapi sebentar kemudian dia menghindarkan pandangannya dan kembali fokus pada topik perbincangannya.
Masih kupikirkan akan kejadian barusan. Heran saja dia tidak menghiraukanku seperti biasanya. Bukannya mulai ada rasa untuknya, tapi melihat perbuatannya padaku selama ini tidak mungkin kalau dia seacuh itu. Atau mungkin dia tidak mau orang sekelilingnya tahu apa yang sedang dikerjakannya. Atau karena kebetulan bertemu dia tak punya ide untuk mengerjaiku. Kemungkinan lain dia tak lagi mengangguku karena ku tampar kemarin.
“Suka sekoteng juga?”, tanyanya yang muncul dari balik pohon.
“Tidak bisakah kau datang secara wajar?”, kataku yang menanggapi kedatangan tiba-tiba-nya.
“Hari ini kau menghindar dariku atau sedang memikirkan pilihan yang kuberikan?”, tanyanya sambil menyejajarkan langkahnya denganku.
“Tidak ada alasan untuk menghindar darimu dan tidak ada waktu untuk memikirkan pilihan konyolmu itu”, jawabku sinis.
Felix tersenyum lagi. Entah kenapa setiap denganku selalu memamerkan senyumnya itu. Tapi kuakui itulah nilai plus darinya.
“Aku sudah ubah rencanaku. Tidak akan kuulang kejadian di SMA dulu, tapi kamu harus memilih”
“Aku tidak akan memilihmu”, tegasku sekali lagi.
“Ini bukan antara kau dan aku lagi, tapi menyangkut pacarmu juga”
“Apa maksudmu?”
“Aku tidak akan tahan menyakitimu selama ini, tapi kalau pacarmu…”
“Jangan sentuh dia!”
“Makanya kau harus memilih. Aku atau dia, dengan kensekuensi tersebut tentunya”
Dia tersenyum, tapi tak ku anggap nilai plus lagi. Itu adalah senyum ejekan yang di tujukan padaku dan Vebri. Kalau saja membunuh orang itu tidak ada hukumnya, aku akan membunuhnya sebelum dia menyakiti orang lain. Sayangnya aku bukan orang yang seberani itu untuk membunuh orang lain.
Kami sudah sampai di depan rumahku dan saatnya aku menutup pembicaraan tanpa ada kelanjutan.
“Kau tak perlu komentar”, katanya menutup rencanaku.
“Kau memberiku pilihan lumayan berat, tapi aku tidak akan memilihmu”
“Jangan langsung dijawab, masuklah, istirahat sambil pikirkan lagi. Dan kalau kau sayang padanya memilihku adalah keputusan tepat!”. Dia tersenyum lagi bahkan mengerling padakuku.
Aku buru-buru meninggalkannya, membuka pagar dan terus berjalan ke rumah tanpa menoleh padanya. Dia menyuruhku berpikir dan akan aku lakukan malam ini. Aku benci Felix, tapi tak mau Vebri celaka. Aku akan mencoba mencari jawaban tanpa menyakiti Vebri, meskipun hasilnya akan sulit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar