copy paste dari poison ivy
Poison Ivy
Gui Xian membuka
matanya sebelum matahari muncul. Dia mempersiapkan barang bawaannya, melepas
semua perhiasan di tubuhnya kemudian berganti dengan baju yang lebih simple.
Gui Xian berencana mengitari bibir hutan itu sebentar, siapa tahu dia bisa
menemukan tanaman beracun yang jadi legenda di tiap negara itu.
Gui Xian
merapatkan baju tebalnya sesaat keluar dari tenda. Udara di luar tenda ternyata
amat dingin, tapi itu tak menyurutkan niatannya untuk tetap melangkah.
“Tuan putri”, sapa
seorang penjaga.
“Aku mau
berjalan-jalan di sekitar sini. Kau bisa temani aku!”, pintanya yang langsung diangguki
penjaga.
Gui Xian diantar
seorang penjaga berjalan di tepian tenda lalu merembet ke tepi-tepi hutan.
Mereka berjalan dua ratus meter ke kanan dan dua ratus meter ke kiri dari arah tenda,
namun Gui Xian tak menemukan rumput yang punya ciri-ciri sama dengan yang
dibacanya di kitab. Di sekitaran situ cuma ada satu dua jenis rumput yang di
istana dan di desa-desapun ada.
Setelah matahari
terbit, rombongan harus melanjutkan perjalanan. Mereka memang akan melewati
jalan di hutan itu, tapi kalau Gui Xian sudah dalam kereta dia tak mungkin
diperbolehkan keluar dari keretanya. Selain di luar berbahaya, kalau dia keluar
kereta dan mencari-cari rumput itu akan menghambat perjalanan.
“Apa di sekitar
sini ada sumber air?”
“Iya, disebelah
sana ada sungai”, jawab pengawal itu sambil menunjuk kerumunan pohon dan batu-batu
besar. “Di balik batu itu, Tuan putri”
“Aku perlu ke
sungai itu sekarang. Panggilkan Qi Fan dan seorang dayang, aku akan menunggu
disini!”
“Baik!”
Pengawal itu
menunduk kemudian segera berlari ke arah tenda. Tak lama kemudian seorang
dayang datang bersama panglima. Dayang itu terlihat masih mengantuk beda dengan
Qi Fan yang sepertinya memang tidak tidur dari semalam.
“Sedang apa kau
disini?”, tanya Qi Fan sedikit geram. Kalau terjadi hal buruk pada Gui Xian, Qi
Fan yang akan dituntut pertanggung jawaban. Bagaimanapun melindungi Gui Xian
itu adalah tugasnya. “Kemanapun kau pergi, kau harus minta ijin padaku”, tegur
Qi Fan.
“Karena itu aku
memanggilmu kemari. Aku mau pergi ke sungai”
“Kau bisa
menunggu di tenda, tidak harus berjalan kemari lebih dulu!”, tegur Qi Fan lagi.
“Yang penting
sekarang kau sudah tahu aku mau kemana”
Gui Xian
mengkode dayang untuk mengikutinya. Qi Fan dengan sendirinya mengikuti mereka.
Mereka menuju sungai yang tadi ditunjuk oleh pengawal. Gui Xian dan dayang itu
turun ke sungai sedangkan Qi Fan menunggu di balik bebatuan tak jauh dari
mereka.
“Tuan putri
sedang mencari apa?”, tanya dayang yang heran melihat Gui Xian mengamati
rerumputan dekat sungai.
“Tidak ada”,
jawabnya sambil kembali melangkah ke sungai ketika tak ditemukannya rumput yang
dia cari. “Aku butuh sedikit bantuanmu. Saat rombongan kembali meneruskan
perjalanan, aku perlu menyelinap keluar kereta”
“Keluar kereta?”
Dayang terkejut
dengan ide Gui Xian. Menyelinap keluar kereta lalu Gui Xian akan berjalan-jalan
di hutan sendirian? Itu sangat berbahaya, kalau sampai panglima tahu dia akan di
marahi. Kalau ada apa-apa dengan Gui Xian, dia bisa dijatuhi hukuman berat.
Dipenjara di bawah tanah bersama penjahat-penjahat lainnya.
“Aku perlu
mencari sesuatu yang cuma ada di dalam hutan”
“Kita juga
melewati jalan hutan”
“Bukan di
jalanan. Yang kucari cuma ada di dalam, jadi aku perlu masuk ke dalam-dalam
hutan”
“Tidak bisa.
Kalau ada apa-apa dengan Tuan putri bagaimana? Tuan putri masih ingat cerita
anak buah tabib yang kemarin, kan?”
“Tidak akan
terjadi hal demikian padaku. Lagi pula aku akan mengajak Qi Fan”
“Panglima tak
akan mengijinkan”
“Untuk itu aku
butuh bantuanmu. Kau lakukan apa yang kuperintahkan, dan semua akan berjalan
sesuai rencanaku”
“Tapi bagaimana
dengan tamu kerajaan?”
“Kalian yang
harus menjemputnya. Aku dan Qi Fan akan menyusul setelahnya”. Gui Xian masih
belum mendapati tanggapan memuaskan dari dayangnya. “Kau iyakan atau
kutinggalkan kau disini!”, ancam Gui Xian yang membuat dayang itu mengangguk.
Gui Xian menyelesaikan
urusannya di sungai itu. Dia mengajak dayangnya menemui Qi Fan setelahnya.
Mereka bertiga kembali ke tenda menunggu matahari bersinar lebih terik sambil
mempersiapkan diri untuk melanjutkan perjalanan.
Persiapan
selesai. Gui Xian dan kedua dayangnya masuk dalam kereta dan rombongan itupun
berangkat.
Lewat tengah
hari ketika panglima mengaba berhenti untuk istirahat. Prajurit-prajurit mulai
turun dari kudanya dan bersiap makan siang. Kedua dayang yang berada satu
kereta dengan Gui Xian-pun ikut turun, membuka bekal dan mempersiapkan makanan
seperti yang dilakukannya tadi padi untuk Gui Xian. Tapi Gui Xian tak terlihat keluar dari keretanya.
“Mana Putri Gui
Xian?”, Tanya Yi Fan pada kedua dayang itu. “Dia tak mau makan di luar?”
“Tidak”, jawab
seorang dayang sambil tersenyum kaku. Seorang dayang lainnya tak menfokuskan
diri pada Yi Fan. Dia sedang pura-pura sibuk dengan makan siang sang putri.
“Mana Putri
kalian?”. Kali ini pertanyaan datang dari panglima yang sengaja mendatangi
kedua dayang itu.
“Dia tak mau
makan di luar kereta”, jawab Yi Fan mencopy jawaban dayang. “Lebih baik kita
makan dulu, istirahat sebentar kemudian segera melanjutkan perjalanan!”,
katanya sambil beranjak dari hadapan kakaknya.
“Katakan
padanya, kalau dia ingin melakukan apapun, lakukan sekarang sebelum kita
berangkat lagi”.
Qi Fan akan
menyusul adiknya namun kepergiannya dicegah oleh kedua dayang itu.
“Tuan putri
membutuhkan bantuan”, kata dayang itu.
“Apa yang
dibutuhkannya kali ini?”
Gui Xian
sebenarnya tak ikut masuk dalam kereta ketika panglima mengaba semua untuk
bersiap berangkat tadi pagi. Gui Xian bersembunyi di balik pepohonan dekat
mereka mendirikan tenda. Dua dayang itu yang masuk ke kereta, mereka
berpura-pura kalau Gui Xian ada bersama mereka. Sejujurnya mereka takut
melakukan hal demikian, tapi tak mungkin juga mereka mencegah putri yang keras
kepala seperti Gui Xian.
“Tuan putri
masih ada di sekitar tempat kita mendirikan tenda tadi pagi”, terang dayang
satunya.
Qi Fan mulai
mengeram marah hingga kedua dayang itu mengkerut takut.
“Kenapa kalian
tak melapor padaku?”, bentak Qi Fan. “Kalau terjadi apa-apa dengannya, kalian
mau tanggung jawab?”
“Panglima,
ampuni kami!”, pinta kedua dayang itu sambil bersujud di bawah kaki Qi Fan.
“Kami tidak mampu mencegah keinginan Tuan putri!”, terangnya lagi.
“Merepotkan
saja!”, gerutu Qi Fan sambil mengabaikan kedua dayang yang masih bersujud di
kakinya.
Kemarahan Qi Fan
di dengar oleh prajurit lainnya. Yi Fan kembali menghampiri kakaknya mewakili
prajurit yang lain untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi.
“Yi Fan!”,
teriak Qi Fan.
“Ada apa?
Terjadi sesuatu dengan Putri Gui Xian?”, tebak Yi Fan. Dia sudah memprediksi
akan terjadi hal-hal buruk kalau berkaitan dengan putri satu itu.
“Dia menyelinap
keluar rombongan”, terang Qi Fan. “Pimpin mereka untuk melanjutkan perjalanan
ke perbatasan. Aku akan mencari Putri Gui Xian!”, perintahnya.
Qi Fan segera
kembali ke kudanya. Dia menaiki kudanya, membelokkan arah ketempat tadi pagi
mereka berkemah. Qi Fan mamacu kuda itu sekencang-kencangnya berharap menemukan
Gui Xian masih di tempat yang sama.
*******
Gui Xian sudah
berjalan cukup jauh. Dia melewati jalan yang sama dengan yang dilewati
rombongannya tadi. Sekarang dia terlalu lelah, dia memutuskan duduk sebentar di
pohon tumbang di tepian jalan. Tadi dia sudah yakin Qi Fan akan segera datang,
tapi sudah lebih dari setengah hari dan panglima muka datar itu belum juga
datang padanya. Gui Xian cuma takut, jangan-jangan Qi Fan belum tahu kalau dia
menyelinap keluar kereta? Kalau sampai malam Qi Fan tak datang, bagaimana kalau
benar-benar ada binatang buas di hutan itu lalu menerkamnya?
“Jangan-jangan
dayang-dayang bodoh itu tak memberitahukan kalau aku masih disini”. Gui Xian
berdiri mengambil batu besar dan dilemparkannya ke arah pohon di sampingnya.
“Awas saja kalau terjadi hal buruk padaku, ku penggal kepala dua dayang sialan
itu!”, umpatnya sambil mengambil batu lagi dan melemparkan ke pohon yang sama.
Gui Xian
mengambil batu, mengomel lalu melemparkan batu itu ke pohon. Dia lakukan
berkali-kali hingga mendapatkan ketenangannya kembali. Gui Xian duduk lagi. Dia
harus berfikir positif, Qi Fan akan datang sebentar lagi. Siapa tahu
panglimanya itu sekarang sedang ada di perjalanan ke arahnya.
Kesabaran Gui
Xian membuahkan hasil, selama hampir sejam menunggu dia mulai mendengar suara
derap kaki kuda menuju ke arahnya. Asal suara itu tepat dari arah rombongan
tadi pergi. Suara derap langkah kaki kuda itu makin dekat, lalu terdengar pula
suara Qi Fan menghela kuda. Ya, itu memang panglima yang sudah sejak tadi
ditunggunya. Gui Xian berdiri bermaksud memberitahukan keberadaannya pada Qi
Fan. Ketika Gui Xian ingin berjalan ke tepian jalan, Qi Fan beserta kudanya
lari dengan begitu kencang hingga melewati Gui Xian.
“Qi Fan!”,
teriak Gui Xian. “Qi Fan, aku disini!”, teriaknya ulang.
Qi Fan yang
mendengar teriakan Gui Xian segera menarik kekang kudanya. Dia ingin berhenti,
tapi kudanya berlari terlalu cepat. Qi Fan berusaha menarik kekang kudanya lagi
hingga kuda itu berhenti mendadak. Untung Qi Fan panglima perang yang mahir
menaiki kuda, dia bisa bertahan di atas kudanya ketika seharusnya orang lain
akan terlempar saat kudanya berhenti mendadak. Qi Fan membelokkan arah kudanya,
lalu menghelanya lagi mendekat ke arah Gui Xian.
Panglima
berhenti tepat di depan Gui Xian. Dia segera turun dan ingin memarahi putri
kurang kerjaan itu.
“Kenapa kau lama
sekali?”, tanya Gui Xian dengan nada marah. “Aku sudah berada disini sampai
tengah hari begini dan kau baru datang sekarang!”, makinya pada Qi Fan.
“Seharusnya aku
yang patut marah padamu”, balas Qi Fan menggunakan nada sama tinggi dengan Gui
Xian. “Kenapa kau harus menyelinap keluar rombongan segala?”
“Aku seorang
putri, jadi terserah apa mauku”, katanya seenak jidatnya.
“Tapi tidak
dengan menyelinap dari rombongan dan berkeliaran di hutan seperti ini. Kalau
kau dimangsa binatang buas, apa yang harus kukatakan pada ayahmu?”, tanya Qi
Fan mulai naik pitam.
“Aku tak akan
dimakan binatang buas”, jawabnya mulai merubah nada suaranya jadi acuh. Gui
Xian tak benar-benar ingin marah dengan Qi Fan. Dia cuma kesal panglimanya itu
terlambat mengetahui usaha menyelinapnya. “Baiklah karena kau sudah ada disini,
jadi kumaafkan kesalahanmu. Aku tak mau membuang waktu hanya untuk berdebat
denganmu”
“Aku tak sedang
minta maaf padamu”
“Terserah kau”
Gui Xian
mendekat pada Qi Fan. Dia menarik lengan Qi Fan dan menggantungkan tas
bawaannya disitu.
“Seperti katamu,
aku membawa barang secukupnya”, katanya sambil berbalik dan mulai berjalan.
“Kita akan melakukan petualangan kecil, tetap di belakangku agar kau tak
tersesat!”, candanya yang seketika membuat Qi Fan mengerutkan dahi.
“Jadi ini
alasanmu setuju ikut dalam rombongan penjemput tamu?”
“Salah satunya”.
Gui Xian berbalik kembali. “Tapi alasanku untuk ikut dan bertemu dengan
panglima perang dari kerajaan Piao itu juga termasuk”
Alasan pertama
Gui Xian ikut adalah untuk membuktikan ada atau tidak rumput beracun yang
tumbuh di hutan gunung DanXia. Dia perlu berburu rumput itu untuk dibuat
senjata perang. Baginya tidak semua putri harus duduk diam dalam istana dan
menunggu seorang pangeran datang meminangnya. Dia bukan putri yang tak mau
hidupnya monoton seperti putri-putri lainnya. Duduk di istana, menikah dengan
seorang pangeran, menjadi istri dan ibu yang baik untuk anak-anak dan suatu
saat menjadi seorang ratu, itu bukanlah Gui Xian. Ya kalau akhir hidupnya akan
menjadi seperti itu, setidaknya dimasa penantiannya dia bisa membuat hidupnya
lebih berwarna. Membantu membuat senjata perang untuk kerajaan ayahnya,
contohnya.
Alasan kedua dan
selanjutnya, sebenarnya dia tak punya alasan lain selain alasan pertama.
Gui Xian
menggenal You Tian dengan baik, tapi tak ada orang tahu kalau keduanya telah
berteman lama. Gui Xian tahu alasan You Tian menolak adiknya, karena pangeran itu
telah punya kekasih. Bahkan dia pernah dipertemukan You Tian dengan kekasihnya.
Gui Xian dan You Tian sudah menyangka kalau akan ada perjodohan diantara
mereka, maka dari itu You Tian segera mengenalkan kekasihnya pada Gui Xian.
Beruntung Gui Xian adalah seorang putri yang menganut paham kebebasan. Cinta
bukanlah hal yang diutamakan olehnya, maka dari itu antara Gui Xian dan You
Tian bisa berteman baik. Setelah mendengar kabar bahwa mereka akan dijodohkan
di pesta tahun ini, You Tian akan datang bersama kekasihnya.
Gui Xian sedang
tertarik dengan kitab kuno pemberian You Tian, tentang legenda gunung pelangi
dan rumput beracun. Pura-pura ikut rombongan ke perbatasan adalah sebuah
kesempatan untuk menyelinap dan menjelajah ke hutan.
“Jangan banyak
bicara, ikut saja denganku!”
“Kau yang harus
ikut denganku!”, tolak Qi Fan.
“Kau yang harus ikut
denganku!”
“Tujuanku adalah
mengawalmu ke perbatasan untuk menjemput Pangeran You Tian”
“Tapi tujuanku
adalah menjelajah hutan ini”
“Aku tak akan
ikut kalau begitu”, tolak Qi Fan lagi
“Dan aku
memutuskan tak akan pulang walau kau tak ikut denganku”
Qi Fan bukan
lelaki yang lemah lembut walau yang dihadapinya adalah wanita. Dia adalah
panglima perang yang lebih suka berteriak mengaba pasukannya untuk berperang.
Suka mengayunkan pedang, beradu kekuatan otot, menaiki kuda lalu memacunya
sekencang mungkin dan juga suka mejelajah hutan-hutan untuk mengamankan daerah
kekuasaan kerajaan. Sedangkan menghadapi Gui Xian adalah hal paling menyimpang
dari kesukaan Qi Fan.
“Kalau kau tak
mau ikut denganku secara baik- baik, aku akan memasakmu!”
“Oh ya?”, ledek
Gui Xian. “Memang kau bisa?”
Gui Xian
mendecih, bukan berarti dia menyerah kehabisan akal menghadapi Qi Fan. Qi Fan
boleh paling jenius di jajaran pertahanan kerajaan, tapi Gui Xian adalah orang
paling jenius di seluruh kerajaan. Gui Xian berbalik badan kemudian bergeming
pura-pura kalah. Namun ketika Qi Fan mulai lengah, dia berlari ke dalam hutan.
Menyadari tuan putrinya lari, Qi Fan terperanjat sejenak. Dia segera
menjatuhkan tas Gui Xian dan meninggalkan kudanya untuk mengejar tuan putri
itu. Gui Xian bukan perempuan yang tangguh, bukan apa-apa kalau beradu
kecepatan lari dengan Qi Fan. Dia sudah tahu akan ditangkap oleh panglimanya,
namun bukan berarti dia kalah disitu. Dia cerdik, itu yang membuat Qi Fan
kewalahan mengejarnya. Gui Xian berlari tak begitu cepat, namun dia berlari
berputar-putar terkadang bersembunyi di semak-semak.
Qi Fan bukan
tertinggal jauh dari Gui Xian, tapi Gui Xian sedang bersembunyi sehingga Qi Fan
tak menemukannya. Ketika panglima itu mencari ke sisi lain, Gui Xian segera
mendekat pada kuda Qi Fan. Dia menarik kuda itu ke jalanan, lalu menampar
pantat kuda agar lari menjauh darinya. Kuda meringkik sedikit kesakitan,
kemudian berlari menjauh dari Gui Xian.
“Kudaku!”,
teriak Qi Fan sambil berlari mengejar.
Melihat Qi Fan
mengejar kudanya, Gui Xian malah tertawa terbahak-bahak.
“Tak usah
dikejar, kau tak akan bisa menggapainya. Kuda itu tahu apa yang harus dia
lakukan”, kata Gui Xian sambil melenggang santai memungut tasnya.
“Kau benar-benar
kurang ajar!”, bentak Qi Fan yang kembali kehadapan Gui Xian dengan nafas
putus-putus. Qi Fan tak berhasil mengejar kudanya seperti yang dikatakan Gui
Xian.
“Lancang sekali
mengataiku demikian!”, tegur Gui Xian tapi tak terlihat marah. Dia menghampiri
Qi Fan, meraih lengan panglimanya itu dan menyampirkan tasnya kembali. “Kau
cerdik, tapi tidak dihadapanku. Ikut denganku sekarang!”, perintahnya sambil
berjalan angkuh mendahului Qi Fan.
*******
"Sebenarnya
apa yang kau cari?”
Qi Fan sedang
duduk di batu kecil di bawah pohon, sedangkan Gui Xian memperhatikan satu demi
satu rumput di sekitar situ.
“Kau diam saja
disitu”, tegurnya
“Aku bertanya
baik-baik, siapa tahu bisa membantumu”
“Keluarkan kitab
dalam tasku”. Qi Fan menurut mengeluarkan buku kuno warna coklat dalam tas.
“Buka di halaman ke 27!”
Qi Fan masih
menurut, dia membaca di bagian itu, tapi masih tak tahu apa yang dimaksud Gui
Xian. Dia menemukan penjelasan sebuah legenda, rumput beracun, ciri-ciri dan
gambarnya. Kalau tujuan Gui Xian mencari rumput itu, untuk apa? Apa
mungkin Gui Xian berniat meracuni
seseorang? Atau sekedar ingin membuktikan ada atau tidaknya rumput beracun itu
di hutan ini? Qi Fan sendiri mengenal hutan ini dengan sangat baik. Dia tahu
mana area yang boleh dilewati orang dan mana area yang dilarang dijamah. Karena
sebagaian besar dari hutan ini masih sangat berbahaya, maka dari itu dibuatlah
larangan untuk memasuki tempat-tempat tertentu di hutan demi keselamatan orang
itu sendiri.
“Ini legenda,
tak mungkin ada disini”
Gui Xian
mendekat dan menggeser tempat duduk Qi Fan. Dia mengambil paksa kitab itu lalu
mencari bagian yang ingin dia jelaskan pada Qi Fan.
“Kau kenal
dengan hutan ini, apa tidak sekalipun melihat rumput yang seperti ini?”,
tanyanya sambil menunjuk gambar daun yang tadi sudah dilihat Qi Fan. “Rumput
ini memiliki rambut-rambut halus di permukaan daunnya. Sebenarnya tidak mirip
rerumputan juga, ini tumbuhan yang kadang tumbuh mandiri, kadang juga merambat.
Ada tiga jenis sebenarnya, dan semuanya dijelaskan dalam kitab ini”
“Aku tak pernah
lihat yang seperti itu”
Bukan tak pernah
lihat, tapi tak pernah memperhatikan. Seorang panglima harus memperhatikan
rerumputan ketika dia sedang menjelajah
di hutan, demi apa dia mau melakukan itu?
“Tumbuhan ini
bukan legenda, tapi melegenda yang artinya sekarangpun masih ada. Kita hanya
perlu waktu dan ketelitian untuk mencarinya”
Qi Fan hanya
memandang Gui xian tanpa menyahutinya.
“Kau cukup bantu
aku menemukannya”
“Aku hanya akan
membantu mengantarmu ke perbatasan, bukan untuk menjelajah hutan”
“Kalau tumbuhan
ini sudah ketemu, kita bisa langsung menyusul ke perbatasan”
“Kalau tidak
ketemu?”
Gui Xian ingin
mengatakan ingin mencarinya sampai ketemu, tapi Qi Fan tak mungkin mau
menurutinya. Perlu sedikit berpura-pura agar panglimanya itu mau menemaninya
menjelajah hutan.
“Kita bisa
mencari sambil berjalan”. Qi Fan lagi-lagi tak menangapi. “Kalau kita memotong
jalan ke pemukiman lewat dalam hutan, kita kan cepat sampai”
Lewat jalan
hutan ini sudah memotong jalan, sekarang Gui Xian mau memotong lagi. Lewat
mana? Lewat dalam-dalam hutan bukannya mempercepat perjalanan tapi malah
memperlambat. Belum lagi ada jurang, tanaman beracun seperti yang dicari Gui
Xian, binatang buas dan hal-hal lain yang bisa muncul secara tak terduga.
Dengan berjalan kaki, tak cukup sehari perjalanan menuju pemukimanan penduduk.
Mereka harus istirahat dimana? Bisa jadi bukan cepat tapi malah tak sampai sama
sekali karena mati di dalam hutan.
“Aku tak mau
ambil resiko membawamu melewati hutan”. Qi Fan berdiri membuat Gui Xian yang
menempel padanya hampir terjungkal. “Kita kembali dulu, membeli kuda di tempat
kita menginap semalam lalu meneruskan perjalanan”
“Tidak bisa.
Kita akan sangat membuang waktu kalau harus kembali ke bibir hutan”
“Sebentar lagi
langit akan gelap. Kita tak punya cukup waktu untuk mencapai tempat
peristirahatan terdekat”
“Aku bisa
istirahat dimana saja”, kata Gui Xian sangat yakin. “Aku membawa selimutku,
jadi aku bisa tidur dengan tenang. Kau cukup terjaga sepanjang malam. Kalau ada
apa-apa yang sekiranya berbahaya, kau pasti bisa mengatasinya”
Qi Fan menghela
nafasnya jengah. Selalu saja Putri Gui Xian mengunakan kekuasaannya semaunya.
Qi fan memang sudah berjanji tak akan menuruti permintaan Gui Xian, tapi kalau
ditolak lalu berakhibat fatal untuk sang putri, Qi Fan juga nanti yang repot.
“Ayo jalan!”,
aba Qi Fan yang telah memutuskan menyerah berargumen.
“Memang kau mau
kemana?”
“Kau bilang mau
menjelajah hutan”
“Ya, tapi jangan
main pergi seenakmu. Bantu aku berdiri!”
Qi Fan tak ingin
berdebat. Dia segera menghampiri Gui Xian, menerima kitab yang diulurkan
padanya lalu memasukkan kitab itu dalam tas yang dibawanya. Dia juga menyambut
uluran tangan Gui Xian untuk ditariknya. Qi Fan menarik keras membuat sang
putri tersentak berdiri dari duduknya.
“Kau ini kasar
sekali!”, protes Gui Xian sambil menggosok pergelangan tangannya. “Aku ini
wanita, bisa kau perlakukan aku lebih lembut!”, perintahnya sambil mendengus
kemudian mengambil jalan duluan.
“Kau bisa berdiri
sendiri”
“Tapi aku mau
dibantu”. Bukti kalau Gui Xian itu memang suka memerintah. “Kita akan lewat
mana?”
“Ada jurang di
jalur kiri, jadi kita lewat kanan”. Gui Xian berjalan ke kanan sesuai petunjuk
Qi Fan namun Qi Fan mendahului langkah Gui Xian. “Aku yang lebih tahu jalanan
di hutan ini. Jalanlah di belakangku, tapi perhatikan langkahmu!”
Gui Xian
menggendikkan bahu. Dia tahu kalau Qi Fan berusaha menunjukkan dominasinya
sebagai lelaki. Mungkin dia tak mau dianggap pengecut seumpama harus berjalan
di belakang Gui Xian. Gui Xian tak ambil pusing, asal dia ditemani menjelajah
hutan itu saja sudah cukup.
Merasa sangat
tahu daerah hutan Qi Fan mantap melangkah. Dia membiarkan Gui Xian berkali-kali
tertinggal jauh darinya. Gui Xian harus meneriaki Qi Fan dan menyuruh panglima
itu berhenti sejenak untuk menunggunya. Seperti saat ini Qi Fan berjalan balik
hanya untuk menolong Gui Xian yang ujung gaunnya menyangkut di ranting kayu
tumbang.
“Kalau kau sudah
menyiapkan sebuah penjelajahan, harusnya kau juga siap meninggalkan gaun
merepotkanmu itu”, tuturnya sambil menghampiri Gui Xian yang kesulitan
menarik-narik ujung bajunya.
“Jangan banyak
bicara. Bantu aku melepaskan ini!”
Qi Fan bukannya
memisahkan ranting dengan ujung baju Gui Xian, dia malah ikut menarik bajunya
keatas.
Sreekkk
Itu suara ujung
baju Gui Xian yang robek.
“Kau merobekkan
bajuku!”, pekik Gui Xian heboh.
“Kau suruh aku
membantu”, jawab Qi Fan santai. “Lagi pula bajumu masih banyak. Kau seorang
putri, bisa membeli baju seberapa banyak kau mau”
“Issshhh, susah
bicara dengamu!”, celetuk Gui Xian. “Aku harus memperhatikan sekitar, kau
jangan berjalan terlalu cepat!”
“Kalau tidak
cepat kita tak akan cepat sampai pada zona aman hutan”
“Kan sudah
kubilang aku bisa istirahat dimanapun, walau di zona tak aman sekalipun”,
katanya sambil menyusul Qi Fan yang sudah berjalan terlebih dahulu. “Kalau ada
binatang buas, kau tentu sudah terbiasa menghadapinya”, katanya mengulang atau
lebih kepada mengumpankan Qi Fan pada binatang buas. Kalau memang ada.
Gui Xian masih
berusaha menjajarkan langkah dengan panglimanya. Walau terus tertinggal
setidaknya dia bisa berada tepat dibelakang panglima. Menakutkan juga
sebenarnya kalau membicarakan soal binatang buas atau mahkluk kasat mata yang
sewaktu waktu bisa menyerang mereka. Gui Xian adalah perempuan lemah dihadapkan
dengan hal-hal seperti itu, maka dari itu kehadran Qi Fan sangat membantunya.
Meski Gui Xian selalu bilang tak terlalu membutuhkan Qi Fan, namun sebenarnya
dia sangat butuh ditemani.
“Jangan berjalan
terlalu cepat!”, bentak Gui Xian. “Kau harusnya mengikuti perkataanku, bukan
pergi semaumu begini”, protesnya.
Langit makin
gelap. Memandang ke sekitarpun sudah sangat sulit membedakan tumbuhan satu
dengan lainnya. Udara juga makin dingin, yang menandakan malam akan segera
tiba. Ada suara burung-burung malam, mungkin burung hantu, mulai ber-uhu
menyambut gelap. Dan ada suara gemerisik menakutkan, suara jangkerik hutan dan
segala suara yang membuat bulu kuduk Gui Xian merinding. Ini belum benar-benar
gelap kalau berada di pemukiman penduduk, tapi hutan selalu punya caranya
sendiri untuk membuat wilayahnya menjadi menakutkan dimata manusia.
Qi Fan melangkah
cekatan, cepat dan tak mempedulikan sekitar. Sepertinya dia juga terlupa untuk
mempedulikan Gui Xian di belakangnya kesulitan mengikuti jejaknya. Gui Xian
menggerutu terus. Berkali-kali dia memanggil Qi Fan agar memelankan langkahnya,
namun sepelan apapun Qi Fan melangkah, Gui Xian tetap tak bisa menyepadani
kecepatannya. Berkali-kali Gui Xian tesandung, tersangkut dan hampir terjatuh.
Dia sering mengumpat, menyumpahi Qi Fan yang pura-pura tak dengar kalau
dipanggilnya.
“Cepat sedikit.
Sebentar lagi kita sampai”. Qi Fan berhenti sejenak menunggu Gui Xian
mendekatinya. “Ada beberapa gubuk di depan situ. Biasanya digunakan oleh
orang-orang yang kemalaman di hutan ini”
Biasanya
tabib-tabib pencari obat, atau prajurit yang bertugas di hutan yang menginap
disitu. Terkadang ada juga rombongan saudagar yang melewati jalur hutan dan
kemalaman di dalam hutan ini. Gubuk-gubuk itu memang dibuat untuk tempat
singgah bagi yang memerlukannya. Lumayan nyaman walau tak bisa dikatakan aman
dari serangan penghuni hutan. Setidaknya siapapun bisa beristirahat disana.
“Kalau memang
sudah dekat, pelankan langkahmu!”, perintah Gui Xian sambil meringis kesakitan.
Kakinya ngilu antara sakit terantuk dan tersangkut tetumbuhan, dia juga capek
berjalan seharian ini. “Kakiku sakit!”, eluhnya. “Kau masih punya banyak
tenaga, bisa kau gendong aku!”
Qi Fan memandang
Gui Xian sejenak, menimbang-nimbang untuk menyetujui permintaan Gui Xian atau
tidak. Ketika sang Putri sudah hampir mendekat padanya, dia segera berbalik
arah dan melanjutkan perjalanan. Dia sudah putuskan tak sudi memberi bantuan
Gui Xian.
“Qi Fan!”,
teriak Gui Xian kesal ketika permintaannya diabaikan.
“Gubuknya sudah
dekat. Kau tak akan mati hanya untuk berjalan sampai ke gubuk itu”
“Sepertinya
ayahku salah telah memilihmu jadi pengawalku”. Gui Xian mendecih keji namun
kemudian bergerak menyusul langkah Qi Fan. “Kalau kau tak mau menggendongku, setidaknya
kau harus menungguku berjalan!”
Panglima tak
menyahut sedikitpun kritikan dari Gui Xian. Dia terus berjalan cepat menuju
area persinggahan sementara. Qi Fan tak mempedulikan Gui Xian yang mulai
tertinggal jauh darinya. Instingnya bilang sang putri akan baik-baik saja, maka
dari itu dia mengabaikan Gui Xian. Asal Gui Xian masih berada di jarak aman di
belakangnya, Qi Fan terus pura-pura tak peduli.
Tak lama
berjalan Qi Fan mulai melihat gubuk-gubuk persinggahan itu dari sela-sela
pepohonan. Sudah tak jauh lagi perjalanan mereka sementara ini. Qi Fan mengkode
agar Gui Xian berjalan lebih cepat agar mereka lekas sampai. Gui Xian sampai
harus menjinjing gaunnya demi mengikuti kode dari panglimanya.
“Kita sampai”
Qi Fan berjalan
lebih cepat namun tak fokus. Dia terlalu bersemangat untuk memasuki area
persinggahan. Qi fan sedikit menggebu berlari kecil. Dia melompati batang pohon
tumbang besar dengan mudah namun mendarat tak semudah lompatannya. Qi Fan
melonpat tinggi, namun ranting-ranting pohon di sebelahnya menghalau kakinya
hingga dia jatuh karena tersangkut. Qi Fan terjatuh di tanah, minimbulkan bunyi
gedebum pelan diikuti tawa bahagia dari si tuan putri.
“Ckckckck!”. Gui
Xian menggeleng-geleng prihatin. “Kau tahu kenapa wanita ditakdirkan berjalan
di belakang pria? Itu karena bila pria terjatuh di depannya, wanita yang akan
menolong”, terangnya sedikit ada nada menggurui. “Tapi sayangnya aku bukan
bagian dari wanita yang suka menolong!”, tambahnya sambil menggeleng-geleng
lalu berjalan duluan ke area persinggahan.
Qi Fan bangkit
sendiri dengan perasaan dongkol. Dia terjatuh bukan berarti tak bisa berdiri
sendiri. Dia tak butuh bantu Gui Xian, namun kalau Putri itu tak ingin membantunya
harusnya tak juga menyindirnya.
Beberapa orang
datang menghampiri Gui Xian di depan pagar gubuk. Sepertinya mereka gerombolan
saudagar yang terpaksa menginap disitu. Mereka mengobrol sebentar,
bertanya-tanya tetang keadaan Gui Xian. Dari belakang Qi Fan melihat Gui Xian
menunduk-nunduk sambil menunjukkan kakinya pada beberapa orang itu. lalu
berikutnya, Gui Xian dipapah seorang pemuda dan perempuan lain di gerombolan
itu.
Jadi Gui Xian
berhasil mengelabui orang agar dapat bantuan.
*******
Qi Fan, Gui Xian
dan beberapa orang sedang duduk di salah satu gubuk. Mereka baru saja makan,
dan sekarang sedang mengobrol satu dengan lainnya. Gui Xian duduk berselonjor,
kakinya dipijat oleh seorang wanita gemuk yang ikut rombongan saudagar dari
desa sebelah.
Saudagar Xiao
membawa putra kembarnya, Xiao Lu dan Xiao Li. Dia juga membawa keponakan
cantiknya, Ying Ren dan seorang pelayan yang sekarang sedang memijit kaki Gui
Xian. Dan ada empat prajurit yang sedang duduk di luar gubuk sambil berjaga.
“Kalian sering
menginap disini?”, tanya Gui Xian sambil meringis-ringis menahan sakit karena
dipijat. Pelayan itu memijatnya terlalu keras, tapi Gui Xian tak mungkin bisa
protes karena pelayan itu bukan pelayannya sendiri.
“Tidak pernah.
Walau malam sekalipun kita tetap akan melanjutkan perjalanan”, terang saudagar
Xiao. “Di hutan ini sangat berbahaya untuk orang seperti kita. Tapi karena hari
ini kita mengajak Ying Ren, tak mungkin kita berjalan terus sementara dia
kelelahan”
Gui Xian
mengkode Qi fan agar duduk dekat dengannya. Setelah Qi Fan berada disampingnya,
dia menyandarkan tubuhnya pada badan tegap penglimanya itu. Dia lelah, dan
karena Qi Fan adalah pengawal pribadinya untuk saat ini, jadi terserah dia mau berbuat
apa pada panglima itu. Memang bukan hal wajar bagi seorang putri berdekatan
dengan lelaki sampai harus bersandar di badan panglima, tapi toh sekarang tak
ada yang tahu dia melakukan ini. Saudagar dan antek-anteknya juga tak kenal
siapa mereka.
“Kalian sendiri
bagaimana bisa berjalan di hutan seperti ini?”
“Kami akan ke
perbatasan..”
“Tapi ketingalan
rombongan”, serobot Gui Xian pada keterangan Qi Fan.
“Yang benar
saja. Bagimana bisa, jie jie?”, tanya Xiao Li
“Bisa. Qi Fan
terlalu lambat, makanya kita tertinggal”. Qi Fan melirik Gui Xian tanda tak
terima namun Gui Xian cuma menyenggir. “Aku cuma bercanda!”, tuturnya sambil
menepuk pundak Qi Fan.
“Ngomong-ngomong
kalian berasal dari mana? Kalau dilihat dari pakaian, kalian seperti warga
kerajaan”, sabung Xiao Lu.
“Kami berasal
dari ibu kota. Utusan kerajaan untuk menyalurkan bantuan pangan di desa
seberang gunung ini”
“Iya benar,
disana ada daerah yang mengalami gagal panen. Sekarang mereka kekurangan
pangan”
Mereka singgah
di daerah itu tadi pagi. Makanya mereka tahu keadaan disana.
“Heh, kau!”,
panggil Gui Xian pada Ying Ren. Gui Xian lupa nama gadis itu. Gui Xian heran
saja kenapa dia terus melihat ke arah Qi Fan. “Kenapa mau ikut ke ibu kota?
Bukankah kau tahu perjalanan dari kotamu ke ibu kota kerajaan itu sangat jauh”,
tanyanya setelah dapat atensi dari si gadis.
“Aku ingin
melihat suasana ibu kota”, jawabnya sambil tersenyum pula ke arah Qi Fan.
Kemudian Ying Ren menunduk masih sambil tersenyum karena baru saja tatapannya
beradu dengan Qi Fan.
Semua juga bisa
lihat kalau Ying Ren terpesona dengan Qi Fan. Mungkin cuma Qi Fan sendiri yang
tak sadar hal itu. Qi Fan masih diam saja walau sejak tadi disenyumi oleh Ying
Ren. Bahkan dia lebih fokus melihat ke luar gubuk. Qi Fan memang lebih peka
terhadap bahaya dari pada soal cinta-cintaan seperti sekarang.
“Kurasa sudah
malam, waktunya tidur!”, kata Gui Xian yang mulai risih karena atensi semua
orang cuma tertuju pada Ying Ren yang mencuri-curi pandang terus pada Qi Fan.
“Para lelaki, kalian boleh keluar dan tidur di gubuk sebelah!”, perintahnya
angkuh masih berasa kalau dia seorang putri.
“Jie jie, aku
belum mengantuk”, kata Ying Ren mulai beralasan.
“Kau bisa
mengobrol denganku”. Gui Xian menggetahui usaha Ying Ren untuk menolak tidur.
“Katanya kau ingin tahu suasana ibu kota. Aku tahu banyak hal soal itu”
Satu pesatu
lelaki keluar dari tempat itu, termasuk Qi Fan. Gui Xian menyuruh pelayan
berhenti memijatnya. Dia berterima kasih dan mengijinkan pelayan itu untuk
istirahat lebih dulu. Gui Xian sendiri mulai merebah di lantai kayu beralas
jerami itu. Jauh dari kata nyaman menurut Gui Xian, tapi dia terlanjur bilang
kalau dia bisa istirahat dimanapun. Tidak mungkin dia akan menarik omongannya
sendiri.
“Kenapa kau tak
segera tidur?”. Ying Ren geragaban. Dia segera mengalihkan pandang dari luar
gubuk. menoleh kesana kemari mencari barang-barangnya. “Apa Qi Fan terlihat
dari situ?”, tanya Gui Xian bukan maksud untuk menangkap basah Ying Ren yang
terus menatap Qi Fan.
“Iya”, jawabnya
gugup.
“Panggilkan
dia!”
“Hah? Panggil?”
“Iya. Panggil
dia sekarang!”. Ying Ren mengangguk mengerti. Kesempatannya untuk bisa
berbicara dengan Qi Fan walau cuma untuk memanggilnya menghadap Gui Xian. “Kau
mau kemana?”, tanya Gui Xian menghentikan langkah Ying Ren yang hendak ke luar
gubuk. “Panggil saja dari sini. Dia tidak tuli sampai kau harus dihampiri
kesana!”
Ying Ren
mengangguk lagi. Gagal sudah kesempatannya bicara dengan Qi Fan. Lagi pula
siapa Gui Xian sampai harus menyuruh nyuruhnya? Sepertinya Gui Xian sangat
tidak suka kalau Ying Ren menaruh hati pada Qi Fan. Tapi melihat raut muka Gui
Xian, Ying Ren takut membantah walau sebenarnya dia tak suka. Gui Xian terlihat
sangat sadis.
“Ada apa?”,
tanya Qi Fan setelah menerima panggilan dari Ying Ren.
Gui Xian tak mau
repot-repot beranjak dan memberikan selimutnya pada Qi Fan yang berdiri di
pintu gubuk. Gui Xian melempar selimut itu kearah Qi Fan. Tidak sopan dimata
Ying Ren, namun memang begitu sifat Gui Xian yang cuma diketahui keluarga
kerajaan.
“Dia mau berbagi
selimutnya denganku!”, tunjuk Gui Xian pada Ying Ren. “Kupikir dia juga setuju
kalau kau memerlukan selimut itu, benar?”, tanyanya yang dialihkan pada Ying
Ren.
“Iya. Iya”,
jawab Ying Ren gugup lagi.
“O”, sahut Qi
Fan.
Qi Fan segera
mengambil selimut itu dan berlalu tanpa berterima kasih.
*******
Ying Ren
menanyakan banyak hal pada Gui Xian. Tentang ibu kota, tentang cara hidup
disana, orang-orangnya dan kemungkinan untuk orang asing tinggal disana. Dia
bermaksud ingin tinggal di lingkup kerajaan. Siapa tahu saat Qi Fan kembali
dari tugas nanti, mereka bisa bertemu di daerah kerajaan. Gui Xian juga
menerangkan asal. Dia sekedar menjawab pertanyaan tanpa perlu menerangkan
detail lingkup ibu kota. Gui Xian sedang capek, dia mengantuk dan ingin tidur.
Dia masih berencana bangun pagi untuk mencari tumbuhan racun itu disekitaran
persinggahan ini. jadi dia butuh tidur.
“Jie jie, Qi Fan
ge sangat tampan ya”, katanya saat Gui Xian sudah mulai kehilangan
kesadarannya. “Sepertinya aku menyukainya”
Mendengar kata
tampan Gui Xian tak jadi menutup matanya. Dia sebenarnya geli mendengar Qi Fan
di katakan tampan oleh Ying Ren. Menurutnya sendiri, Qi Fan itu dekil. Apalagi
kalau Qi Fan baru pulang tugas. Kulitnya berdebu, pakaiannya tak jarang kena
lumpur, wajahnya hitam dan jelek. Dan Qi
Fan juga bau. Gui Xian tak bisa membayangkan Qi Fan tak mandi berhari-hari demi
bertugas di perbatasan penuh konflik daerah barat.
Qi Fan badannya
penuh otot yang keras hingga ketika Gui Xian bersandar di bahu Qi Fan saja
terasa bersandar di permukaan batu. Qi Fan juga irit bicara, minim ekspresi dan
kasar terhadap wanita. Kalau Ying Ren menyukai Qi Fan, dia mulai suka dari
mananya?
“Qi Fan ge itu
prajurit kerajaan ya?”
“Hmm”, jawab Gui
Xian sekenanya.
“Qi Fan ge itu
rumahnya di dekat rumahmu?”
“Tidak cuma
dekat”
“Sangat dekat?”
“Hmm”
Ying Ren tepat
sasaran kalau begitu. Dia perlu berteman dengan Gui Xian agar dibukakan jalan
untuk mendekati Qi Fan.
“Jie jie”
“Bisa kau simpan
pertanyaanmu untuk besok? Aku mengantuk!”, potong Gui Xian yang segera
diangguki Ying Ren.
Beberapa menit
terdiam, Gui Xian mulai nyaman tidur. Suara-suara binatang diluar mulai
terdengar samar ditelinganya. Dia akan terlelap detik berikutnya kalau Ying Ren
tak membuka percakapan lagi.
“Jie jie”
“Ssstt, kusuruh
kau untuk diam dari tadi!”, marah Gui Xian.
“Maaf. Aku ingin
bertanya sesuatu, pertanyaan terakhir!”
Gui Xian
bersungut sungut menahan marahnya. Dia mengantuk, itu alasannya tak menyukai
suara Ying Ren.
“Jie jie kan
temannya Qi Fan ge, Jie jie tahu wanita seperti apa yang disukai Qi Fan ge?”
Gui Xian
menghela nafas sebal. Cuma masalah Qi Fan saja harus mengganggu tidurnya.
Seumpama Ying Ren mau menyimpan pertanyaannya untuk besok, Gui Xian mungkin
akan berbaik hati menjawabnya walau jawabannya tak akan mengena. Tapi karena
gadis itu telah lancang mengganggu tidurnya, dia cuma menunjuk dirinya sendiri
sebagai jawaban.
“Maksudnya? Qi
Fan ge menyukai wanita yang seperti Jie jie?”
“Hmm”
“Sebagai teman
Qi Fan ge, Jie jie mau mengajariku menjadi sepertimu?”
“Siapa yang kau
bilang teman? Qi Fan dan aku? Apa kita terlihat sedang berteman?”. Ying Ren
menggeleng. Tapi apa mungkin mereka berdua musuhan? “Kau menyukai Qi Fan tapi
tak menanyakan status hubungannya denganku. Kau menyukainya dan mengatakan
terang-terangan di depanku”
“Maaf”, kata
Ying Ren spontan. Tapi Ying Ren belum tahu letak kesalaannya.
“Kau tahu siapa
dia?” Ying Ren menggeleng lagi. “Dia suamiku”, katanya yang langsung membuat
Ying Ren terkejut. “Kau mau merebutnya dariku?”
“Tidak, jie jie.
Maafkan aku!”
“Kalau tidak,
cepat tidur dan jangan sekali-kali membuka mulut sampai besok pagi!”, ancam Gui
Xian yang langsung dituruti Ying Ren. “Kau bersuara sedikit saja, kurobek
mulutmu!”
Rasakan! Itu
akibat bagi orang yang susah ditegur Gui Xian.
To be continue
