Rabu, 16 September 2015

Poison Ivy part 2

copy paste dari poison ivy


Poison Ivy

Gui Xian membuka matanya sebelum matahari muncul. Dia mempersiapkan barang bawaannya, melepas semua perhiasan di tubuhnya kemudian berganti dengan baju yang lebih simple. Gui Xian berencana mengitari bibir hutan itu sebentar, siapa tahu dia bisa menemukan tanaman beracun yang jadi legenda di tiap negara itu.

Gui Xian merapatkan baju tebalnya sesaat keluar dari tenda. Udara di luar tenda ternyata amat dingin, tapi itu tak menyurutkan niatannya untuk tetap melangkah.

“Tuan putri”, sapa seorang penjaga.

“Aku mau berjalan-jalan di sekitar sini. Kau bisa temani aku!”, pintanya yang langsung diangguki penjaga.

Gui Xian diantar seorang penjaga berjalan di tepian tenda lalu merembet ke tepi-tepi hutan. Mereka berjalan dua ratus meter ke kanan dan dua ratus meter ke kiri dari arah tenda, namun Gui Xian tak menemukan rumput yang punya ciri-ciri sama dengan yang dibacanya di kitab. Di sekitaran situ cuma ada satu dua jenis rumput yang di istana dan di desa-desapun ada.

Setelah matahari terbit, rombongan harus melanjutkan perjalanan. Mereka memang akan melewati jalan di hutan itu, tapi kalau Gui Xian sudah dalam kereta dia tak mungkin diperbolehkan keluar dari keretanya. Selain di luar berbahaya, kalau dia keluar kereta dan mencari-cari rumput itu akan menghambat perjalanan.

“Apa di sekitar sini ada sumber air?”

“Iya, disebelah sana ada sungai”, jawab pengawal itu sambil menunjuk kerumunan pohon dan batu-batu besar. “Di balik batu itu, Tuan putri”

“Aku perlu ke sungai itu sekarang. Panggilkan Qi Fan dan seorang dayang, aku akan menunggu disini!”

“Baik!”

Pengawal itu menunduk kemudian segera berlari ke arah tenda. Tak lama kemudian seorang dayang datang bersama panglima. Dayang itu terlihat masih mengantuk beda dengan Qi Fan yang sepertinya memang tidak tidur dari semalam.

“Sedang apa kau disini?”, tanya Qi Fan sedikit geram. Kalau terjadi hal buruk pada Gui Xian, Qi Fan yang akan dituntut pertanggung jawaban. Bagaimanapun melindungi Gui Xian itu adalah tugasnya. “Kemanapun kau pergi, kau harus minta ijin padaku”, tegur Qi Fan.

“Karena itu aku memanggilmu kemari. Aku mau pergi ke sungai”

“Kau bisa menunggu di tenda, tidak harus berjalan kemari lebih dulu!”, tegur Qi Fan lagi.

“Yang penting sekarang kau sudah tahu aku mau kemana”

Gui Xian mengkode dayang untuk mengikutinya. Qi Fan dengan sendirinya mengikuti mereka. Mereka menuju sungai yang tadi ditunjuk oleh pengawal. Gui Xian dan dayang itu turun ke sungai sedangkan Qi Fan menunggu di balik bebatuan tak jauh dari mereka.

“Tuan putri sedang mencari apa?”, tanya dayang yang heran melihat Gui Xian mengamati rerumputan dekat sungai.

“Tidak ada”, jawabnya sambil kembali melangkah ke sungai ketika tak ditemukannya rumput yang dia cari. “Aku butuh sedikit bantuanmu. Saat rombongan kembali meneruskan perjalanan, aku perlu menyelinap keluar kereta”

“Keluar kereta?”

Dayang terkejut dengan ide Gui Xian. Menyelinap keluar kereta lalu Gui Xian akan berjalan-jalan di hutan sendirian? Itu sangat berbahaya, kalau sampai panglima tahu dia akan di marahi. Kalau ada apa-apa dengan Gui Xian, dia bisa dijatuhi hukuman berat. Dipenjara di bawah tanah bersama penjahat-penjahat lainnya.

“Aku perlu mencari sesuatu yang cuma ada di dalam hutan”

“Kita juga melewati jalan hutan”

“Bukan di jalanan. Yang kucari cuma ada di dalam, jadi aku perlu masuk ke dalam-dalam hutan”

“Tidak bisa. Kalau ada apa-apa dengan Tuan putri bagaimana? Tuan putri masih ingat cerita anak buah tabib yang kemarin, kan?”

“Tidak akan terjadi hal demikian padaku. Lagi pula aku akan mengajak Qi Fan”

“Panglima tak akan mengijinkan”

“Untuk itu aku butuh bantuanmu. Kau lakukan apa yang kuperintahkan, dan semua akan berjalan sesuai rencanaku”

“Tapi bagaimana dengan tamu kerajaan?”

“Kalian yang harus menjemputnya. Aku dan Qi Fan akan menyusul setelahnya”. Gui Xian masih belum mendapati tanggapan memuaskan dari dayangnya. “Kau iyakan atau kutinggalkan kau disini!”, ancam Gui Xian yang membuat dayang itu mengangguk.

Gui Xian menyelesaikan urusannya di sungai itu. Dia mengajak dayangnya menemui Qi Fan setelahnya. Mereka bertiga kembali ke tenda menunggu matahari bersinar lebih terik sambil mempersiapkan diri untuk melanjutkan perjalanan.

Persiapan selesai. Gui Xian dan kedua dayangnya masuk dalam kereta dan rombongan itupun berangkat.

Lewat tengah hari ketika panglima mengaba berhenti untuk istirahat. Prajurit-prajurit mulai turun dari kudanya dan bersiap makan siang. Kedua dayang yang berada satu kereta dengan Gui Xian-pun ikut turun, membuka bekal dan mempersiapkan makanan seperti yang dilakukannya tadi padi untuk Gui Xian. Tapi Gui Xian  tak terlihat keluar dari keretanya.

“Mana Putri Gui Xian?”, Tanya Yi Fan pada kedua dayang itu. “Dia tak mau makan di luar?”

“Tidak”, jawab seorang dayang sambil tersenyum kaku. Seorang dayang lainnya tak menfokuskan diri pada Yi Fan. Dia sedang pura-pura sibuk dengan makan siang sang putri.

“Mana Putri kalian?”. Kali ini pertanyaan datang dari panglima yang sengaja mendatangi kedua dayang itu.

“Dia tak mau makan di luar kereta”, jawab Yi Fan mencopy jawaban dayang. “Lebih baik kita makan dulu, istirahat sebentar kemudian segera melanjutkan perjalanan!”, katanya sambil beranjak dari hadapan kakaknya.

“Katakan padanya, kalau dia ingin melakukan apapun, lakukan sekarang sebelum kita berangkat lagi”.

Qi Fan akan menyusul adiknya namun kepergiannya dicegah oleh kedua dayang itu.

“Tuan putri membutuhkan bantuan”, kata dayang itu.

“Apa yang dibutuhkannya kali ini?”

Gui Xian sebenarnya tak ikut masuk dalam kereta ketika panglima mengaba semua untuk bersiap berangkat tadi pagi. Gui Xian bersembunyi di balik pepohonan dekat mereka mendirikan tenda. Dua dayang itu yang masuk ke kereta, mereka berpura-pura kalau Gui Xian ada bersama mereka. Sejujurnya mereka takut melakukan hal demikian, tapi tak mungkin juga mereka mencegah putri yang keras kepala seperti Gui Xian.

“Tuan putri masih ada di sekitar tempat kita mendirikan tenda tadi pagi”, terang dayang satunya.

Qi Fan mulai mengeram marah hingga kedua dayang itu mengkerut takut.

“Kenapa kalian tak melapor padaku?”, bentak Qi Fan. “Kalau terjadi apa-apa dengannya, kalian mau tanggung jawab?”

“Panglima, ampuni kami!”, pinta kedua dayang itu sambil bersujud di bawah kaki Qi Fan. “Kami tidak mampu mencegah keinginan Tuan putri!”, terangnya lagi.

“Merepotkan saja!”, gerutu Qi Fan sambil mengabaikan kedua dayang yang masih bersujud di kakinya.

Kemarahan Qi Fan di dengar oleh prajurit lainnya. Yi Fan kembali menghampiri kakaknya mewakili prajurit yang lain untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi.

“Yi Fan!”, teriak Qi Fan.

“Ada apa? Terjadi sesuatu dengan Putri Gui Xian?”, tebak Yi Fan. Dia sudah memprediksi akan terjadi hal-hal buruk kalau berkaitan dengan putri satu itu.

“Dia menyelinap keluar rombongan”, terang Qi Fan. “Pimpin mereka untuk melanjutkan perjalanan ke perbatasan. Aku akan mencari Putri Gui Xian!”, perintahnya.

Qi Fan segera kembali ke kudanya. Dia menaiki kudanya, membelokkan arah ketempat tadi pagi mereka berkemah. Qi Fan mamacu kuda itu sekencang-kencangnya berharap menemukan Gui Xian masih di tempat yang sama.

*******

Gui Xian sudah berjalan cukup jauh. Dia melewati jalan yang sama dengan yang dilewati rombongannya tadi. Sekarang dia terlalu lelah, dia memutuskan duduk sebentar di pohon tumbang di tepian jalan. Tadi dia sudah yakin Qi Fan akan segera datang, tapi sudah lebih dari setengah hari dan panglima muka datar itu belum juga datang padanya. Gui Xian cuma takut, jangan-jangan Qi Fan belum tahu kalau dia menyelinap keluar kereta? Kalau sampai malam Qi Fan tak datang, bagaimana kalau benar-benar ada binatang buas di hutan itu lalu menerkamnya?

“Jangan-jangan dayang-dayang bodoh itu tak memberitahukan kalau aku masih disini”. Gui Xian berdiri mengambil batu besar dan dilemparkannya ke arah pohon di sampingnya. “Awas saja kalau terjadi hal buruk padaku, ku penggal kepala dua dayang sialan itu!”, umpatnya sambil mengambil batu lagi dan melemparkan ke pohon yang sama.

Gui Xian mengambil batu, mengomel lalu melemparkan batu itu ke pohon. Dia lakukan berkali-kali hingga mendapatkan ketenangannya kembali. Gui Xian duduk lagi. Dia harus berfikir positif, Qi Fan akan datang sebentar lagi. Siapa tahu panglimanya itu sekarang sedang ada di perjalanan ke arahnya.

Kesabaran Gui Xian membuahkan hasil, selama hampir sejam menunggu dia mulai mendengar suara derap kaki kuda menuju ke arahnya. Asal suara itu tepat dari arah rombongan tadi pergi. Suara derap langkah kaki kuda itu makin dekat, lalu terdengar pula suara Qi Fan menghela kuda. Ya, itu memang panglima yang sudah sejak tadi ditunggunya. Gui Xian berdiri bermaksud memberitahukan keberadaannya pada Qi Fan. Ketika Gui Xian ingin berjalan ke tepian jalan, Qi Fan beserta kudanya lari dengan begitu kencang hingga melewati Gui Xian.

“Qi Fan!”, teriak Gui Xian. “Qi Fan, aku disini!”, teriaknya ulang.

Qi Fan yang mendengar teriakan Gui Xian segera menarik kekang kudanya. Dia ingin berhenti, tapi kudanya berlari terlalu cepat. Qi Fan berusaha menarik kekang kudanya lagi hingga kuda itu berhenti mendadak. Untung Qi Fan panglima perang yang mahir menaiki kuda, dia bisa bertahan di atas kudanya ketika seharusnya orang lain akan terlempar saat kudanya berhenti mendadak. Qi Fan membelokkan arah kudanya, lalu menghelanya lagi mendekat ke arah Gui Xian.

Panglima berhenti tepat di depan Gui Xian. Dia segera turun dan ingin memarahi putri kurang kerjaan itu.

“Kenapa kau lama sekali?”, tanya Gui Xian dengan nada marah. “Aku sudah berada disini sampai tengah hari begini dan kau baru datang sekarang!”, makinya pada Qi Fan.

“Seharusnya aku yang patut marah padamu”, balas Qi Fan menggunakan nada sama tinggi dengan Gui Xian. “Kenapa kau harus menyelinap keluar rombongan segala?”

“Aku seorang putri, jadi terserah apa mauku”, katanya seenak jidatnya.

“Tapi tidak dengan menyelinap dari rombongan dan berkeliaran di hutan seperti ini. Kalau kau dimangsa binatang buas, apa yang harus kukatakan pada ayahmu?”, tanya Qi Fan mulai naik pitam.

“Aku tak akan dimakan binatang buas”, jawabnya mulai merubah nada suaranya jadi acuh. Gui Xian tak benar-benar ingin marah dengan Qi Fan. Dia cuma kesal panglimanya itu terlambat mengetahui usaha menyelinapnya. “Baiklah karena kau sudah ada disini, jadi kumaafkan kesalahanmu. Aku tak mau membuang waktu hanya untuk berdebat denganmu”

“Aku tak sedang minta maaf padamu”

“Terserah kau”

Gui Xian mendekat pada Qi Fan. Dia menarik lengan Qi Fan dan menggantungkan tas bawaannya disitu.

“Seperti katamu, aku membawa barang secukupnya”, katanya sambil berbalik dan mulai berjalan. “Kita akan melakukan petualangan kecil, tetap di belakangku agar kau tak tersesat!”, candanya yang seketika membuat Qi Fan mengerutkan dahi.

“Jadi ini alasanmu setuju ikut dalam rombongan penjemput tamu?”

“Salah satunya”. Gui Xian berbalik kembali. “Tapi alasanku untuk ikut dan bertemu dengan panglima perang dari kerajaan Piao itu juga termasuk”

Alasan pertama Gui Xian ikut adalah untuk membuktikan ada atau tidak rumput beracun yang tumbuh di hutan gunung DanXia. Dia perlu berburu rumput itu untuk dibuat senjata perang. Baginya tidak semua putri harus duduk diam dalam istana dan menunggu seorang pangeran datang meminangnya. Dia bukan putri yang tak mau hidupnya monoton seperti putri-putri lainnya. Duduk di istana, menikah dengan seorang pangeran, menjadi istri dan ibu yang baik untuk anak-anak dan suatu saat menjadi seorang ratu, itu bukanlah Gui Xian. Ya kalau akhir hidupnya akan menjadi seperti itu, setidaknya dimasa penantiannya dia bisa membuat hidupnya lebih berwarna. Membantu membuat senjata perang untuk kerajaan ayahnya, contohnya.

Alasan kedua dan selanjutnya, sebenarnya dia tak punya alasan lain selain alasan pertama.

Gui Xian menggenal You Tian dengan baik, tapi tak ada orang tahu kalau keduanya telah berteman lama. Gui Xian tahu alasan You Tian menolak adiknya, karena pangeran itu telah punya kekasih. Bahkan dia pernah dipertemukan You Tian dengan kekasihnya. Gui Xian dan You Tian sudah menyangka kalau akan ada perjodohan diantara mereka, maka dari itu You Tian segera mengenalkan kekasihnya pada Gui Xian. Beruntung Gui Xian adalah seorang putri yang menganut paham kebebasan. Cinta bukanlah hal yang diutamakan olehnya, maka dari itu antara Gui Xian dan You Tian bisa berteman baik. Setelah mendengar kabar bahwa mereka akan dijodohkan di pesta tahun ini, You Tian akan datang bersama kekasihnya.

Gui Xian sedang tertarik dengan kitab kuno pemberian You Tian, tentang legenda gunung pelangi dan rumput beracun. Pura-pura ikut rombongan ke perbatasan adalah sebuah kesempatan untuk menyelinap dan menjelajah ke hutan.

“Jangan banyak bicara, ikut saja denganku!”

“Kau yang harus ikut denganku!”, tolak Qi Fan.

“Kau yang harus ikut denganku!”

“Tujuanku adalah mengawalmu ke perbatasan untuk menjemput Pangeran You Tian”

“Tapi tujuanku adalah menjelajah hutan ini”

“Aku tak akan ikut kalau begitu”, tolak Qi Fan lagi

“Dan aku memutuskan tak akan pulang walau kau tak ikut denganku”

Qi Fan bukan lelaki yang lemah lembut walau yang dihadapinya adalah wanita. Dia adalah panglima perang yang lebih suka berteriak mengaba pasukannya untuk berperang. Suka mengayunkan pedang, beradu kekuatan otot, menaiki kuda lalu memacunya sekencang mungkin dan juga suka mejelajah hutan-hutan untuk mengamankan daerah kekuasaan kerajaan. Sedangkan menghadapi Gui Xian adalah hal paling menyimpang dari kesukaan Qi Fan.

“Kalau kau tak mau ikut denganku secara baik- baik, aku akan memasakmu!”

“Oh ya?”, ledek Gui Xian. “Memang kau bisa?”

Gui Xian mendecih, bukan berarti dia menyerah kehabisan akal menghadapi Qi Fan. Qi Fan boleh paling jenius di jajaran pertahanan kerajaan, tapi Gui Xian adalah orang paling jenius di seluruh kerajaan. Gui Xian berbalik badan kemudian bergeming pura-pura kalah. Namun ketika Qi Fan mulai lengah, dia berlari ke dalam hutan. Menyadari tuan putrinya lari, Qi Fan terperanjat sejenak. Dia segera menjatuhkan tas Gui Xian dan meninggalkan kudanya untuk mengejar tuan putri itu. Gui Xian bukan perempuan yang tangguh, bukan apa-apa kalau beradu kecepatan lari dengan Qi Fan. Dia sudah tahu akan ditangkap oleh panglimanya, namun bukan berarti dia kalah disitu. Dia cerdik, itu yang membuat Qi Fan kewalahan mengejarnya. Gui Xian berlari tak begitu cepat, namun dia berlari berputar-putar terkadang bersembunyi di semak-semak.

Qi Fan bukan tertinggal jauh dari Gui Xian, tapi Gui Xian sedang bersembunyi sehingga Qi Fan tak menemukannya. Ketika panglima itu mencari ke sisi lain, Gui Xian segera mendekat pada kuda Qi Fan. Dia menarik kuda itu ke jalanan, lalu menampar pantat kuda agar lari menjauh darinya. Kuda meringkik sedikit kesakitan, kemudian berlari menjauh dari Gui Xian.

“Kudaku!”, teriak Qi Fan sambil berlari mengejar.

Melihat Qi Fan mengejar kudanya, Gui Xian malah tertawa terbahak-bahak.

“Tak usah dikejar, kau tak akan bisa menggapainya. Kuda itu tahu apa yang harus dia lakukan”, kata Gui Xian sambil melenggang santai memungut tasnya.

“Kau benar-benar kurang ajar!”, bentak Qi Fan yang kembali kehadapan Gui Xian dengan nafas putus-putus. Qi Fan tak berhasil mengejar kudanya seperti yang dikatakan Gui Xian.

“Lancang sekali mengataiku demikian!”, tegur Gui Xian tapi tak terlihat marah. Dia menghampiri Qi Fan, meraih lengan panglimanya itu dan menyampirkan tasnya kembali. “Kau cerdik, tapi tidak dihadapanku. Ikut denganku sekarang!”, perintahnya sambil berjalan angkuh mendahului Qi Fan.

*******

"Sebenarnya apa yang kau cari?”

Qi Fan sedang duduk di batu kecil di bawah pohon, sedangkan Gui Xian memperhatikan satu demi satu rumput di sekitar situ.

“Kau diam saja disitu”, tegurnya

“Aku bertanya baik-baik, siapa tahu bisa membantumu”

“Keluarkan kitab dalam tasku”. Qi Fan menurut mengeluarkan buku kuno warna coklat dalam tas. “Buka di halaman ke 27!”

Qi Fan masih menurut, dia membaca di bagian itu, tapi masih tak tahu apa yang dimaksud Gui Xian. Dia menemukan penjelasan sebuah legenda, rumput beracun, ciri-ciri dan gambarnya. Kalau tujuan Gui Xian mencari rumput itu, untuk apa? Apa mungkin  Gui Xian berniat meracuni seseorang? Atau sekedar ingin membuktikan ada atau tidaknya rumput beracun itu di hutan ini? Qi Fan sendiri mengenal hutan ini dengan sangat baik. Dia tahu mana area yang boleh dilewati orang dan mana area yang dilarang dijamah. Karena sebagaian besar dari hutan ini masih sangat berbahaya, maka dari itu dibuatlah larangan untuk memasuki tempat-tempat tertentu di hutan demi keselamatan orang itu sendiri.

“Ini legenda, tak mungkin ada disini”

Gui Xian mendekat dan menggeser tempat duduk Qi Fan. Dia mengambil paksa kitab itu lalu mencari bagian yang ingin dia jelaskan pada Qi Fan.

“Kau kenal dengan hutan ini, apa tidak sekalipun melihat rumput yang seperti ini?”, tanyanya sambil menunjuk gambar daun yang tadi sudah dilihat Qi Fan. “Rumput ini memiliki rambut-rambut halus di permukaan daunnya. Sebenarnya tidak mirip rerumputan juga, ini tumbuhan yang kadang tumbuh mandiri, kadang juga merambat. Ada tiga jenis sebenarnya, dan semuanya dijelaskan dalam kitab ini”

“Aku tak pernah lihat yang seperti itu”

Bukan tak pernah lihat, tapi tak pernah memperhatikan. Seorang panglima harus memperhatikan rerumputan ketika dia sedang  menjelajah di hutan, demi apa dia mau melakukan itu?

“Tumbuhan ini bukan legenda, tapi melegenda yang artinya sekarangpun masih ada. Kita hanya perlu waktu dan ketelitian untuk mencarinya”

Qi Fan hanya memandang Gui xian tanpa menyahutinya.

“Kau cukup bantu aku menemukannya”

“Aku hanya akan membantu mengantarmu ke perbatasan, bukan untuk menjelajah hutan”

“Kalau tumbuhan ini sudah ketemu, kita bisa langsung menyusul ke perbatasan”

“Kalau tidak ketemu?”

Gui Xian ingin mengatakan ingin mencarinya sampai ketemu, tapi Qi Fan tak mungkin mau menurutinya. Perlu sedikit berpura-pura agar panglimanya itu mau menemaninya menjelajah hutan.

“Kita bisa mencari sambil berjalan”. Qi Fan lagi-lagi tak menangapi. “Kalau kita memotong jalan ke pemukiman lewat dalam hutan, kita kan cepat sampai”

Lewat jalan hutan ini sudah memotong jalan, sekarang Gui Xian mau memotong lagi. Lewat mana? Lewat dalam-dalam hutan bukannya mempercepat perjalanan tapi malah memperlambat. Belum lagi ada jurang, tanaman beracun seperti yang dicari Gui Xian, binatang buas dan hal-hal lain yang bisa muncul secara tak terduga. Dengan berjalan kaki, tak cukup sehari perjalanan menuju pemukimanan penduduk. Mereka harus istirahat dimana? Bisa jadi bukan cepat tapi malah tak sampai sama sekali karena mati di dalam hutan.

“Aku tak mau ambil resiko membawamu melewati hutan”. Qi Fan berdiri membuat Gui Xian yang menempel padanya hampir terjungkal. “Kita kembali dulu, membeli kuda di tempat kita menginap semalam lalu meneruskan perjalanan”

“Tidak bisa. Kita akan sangat membuang waktu kalau harus kembali ke bibir hutan”

“Sebentar lagi langit akan gelap. Kita tak punya cukup waktu untuk mencapai tempat peristirahatan terdekat”

“Aku bisa istirahat dimana saja”, kata Gui Xian sangat yakin. “Aku membawa selimutku, jadi aku bisa tidur dengan tenang. Kau cukup terjaga sepanjang malam. Kalau ada apa-apa yang sekiranya berbahaya, kau pasti bisa mengatasinya”

Qi Fan menghela nafasnya jengah. Selalu saja Putri Gui Xian mengunakan kekuasaannya semaunya. Qi fan memang sudah berjanji tak akan menuruti permintaan Gui Xian, tapi kalau ditolak lalu berakhibat fatal untuk sang putri, Qi Fan juga nanti yang repot.

“Ayo jalan!”, aba Qi Fan yang telah memutuskan menyerah berargumen.

“Memang kau mau kemana?”

“Kau bilang mau menjelajah hutan”

“Ya, tapi jangan main pergi seenakmu. Bantu aku berdiri!”

Qi Fan tak ingin berdebat. Dia segera menghampiri Gui Xian, menerima kitab yang diulurkan padanya lalu memasukkan kitab itu dalam tas yang dibawanya. Dia juga menyambut uluran tangan Gui Xian untuk ditariknya. Qi Fan menarik keras membuat sang putri tersentak berdiri dari duduknya.

“Kau ini kasar sekali!”, protes Gui Xian sambil menggosok pergelangan tangannya. “Aku ini wanita, bisa kau perlakukan aku lebih lembut!”, perintahnya sambil mendengus kemudian mengambil jalan duluan.

“Kau bisa berdiri sendiri”

“Tapi aku mau dibantu”. Bukti kalau Gui Xian itu memang suka memerintah. “Kita akan lewat mana?”

“Ada jurang di jalur kiri, jadi kita lewat kanan”. Gui Xian berjalan ke kanan sesuai petunjuk Qi Fan namun Qi Fan mendahului langkah Gui Xian. “Aku yang lebih tahu jalanan di hutan ini. Jalanlah di belakangku, tapi perhatikan langkahmu!”

Gui Xian menggendikkan bahu. Dia tahu kalau Qi Fan berusaha menunjukkan dominasinya sebagai lelaki. Mungkin dia tak mau dianggap pengecut seumpama harus berjalan di belakang Gui Xian. Gui Xian tak ambil pusing, asal dia ditemani menjelajah hutan itu saja sudah cukup.

Merasa sangat tahu daerah hutan Qi Fan mantap melangkah. Dia membiarkan Gui Xian berkali-kali tertinggal jauh darinya. Gui Xian harus meneriaki Qi Fan dan menyuruh panglima itu berhenti sejenak untuk menunggunya. Seperti saat ini Qi Fan berjalan balik hanya untuk menolong Gui Xian yang ujung gaunnya menyangkut di ranting kayu tumbang.

“Kalau kau sudah menyiapkan sebuah penjelajahan, harusnya kau juga siap meninggalkan gaun merepotkanmu itu”, tuturnya sambil menghampiri Gui Xian yang kesulitan menarik-narik ujung bajunya.

“Jangan banyak bicara. Bantu aku melepaskan ini!”

Qi Fan bukannya memisahkan ranting dengan ujung baju Gui Xian, dia malah ikut menarik bajunya keatas.

Sreekkk

Itu suara ujung baju Gui Xian yang robek.

“Kau merobekkan bajuku!”, pekik Gui Xian heboh.

“Kau suruh aku membantu”, jawab Qi Fan santai. “Lagi pula bajumu masih banyak. Kau seorang putri, bisa membeli baju seberapa banyak kau mau”

“Issshhh, susah bicara dengamu!”, celetuk Gui Xian. “Aku harus memperhatikan sekitar, kau jangan berjalan terlalu cepat!”

“Kalau tidak cepat kita tak akan cepat sampai pada zona aman hutan”

“Kan sudah kubilang aku bisa istirahat dimanapun, walau di zona tak aman sekalipun”, katanya sambil menyusul Qi Fan yang sudah berjalan terlebih dahulu. “Kalau ada binatang buas, kau tentu sudah terbiasa menghadapinya”, katanya mengulang atau lebih kepada mengumpankan Qi Fan pada binatang buas. Kalau memang ada.

Gui Xian masih berusaha menjajarkan langkah dengan panglimanya. Walau terus tertinggal setidaknya dia bisa berada tepat dibelakang panglima. Menakutkan juga sebenarnya kalau membicarakan soal binatang buas atau mahkluk kasat mata yang sewaktu waktu bisa menyerang mereka. Gui Xian adalah perempuan lemah dihadapkan dengan hal-hal seperti itu, maka dari itu kehadran Qi Fan sangat membantunya. Meski Gui Xian selalu bilang tak terlalu membutuhkan Qi Fan, namun sebenarnya dia sangat butuh ditemani.

“Jangan berjalan terlalu cepat!”, bentak Gui Xian. “Kau harusnya mengikuti perkataanku, bukan pergi semaumu begini”, protesnya.

Langit makin gelap. Memandang ke sekitarpun sudah sangat sulit membedakan tumbuhan satu dengan lainnya. Udara juga makin dingin, yang menandakan malam akan segera tiba. Ada suara burung-burung malam, mungkin burung hantu, mulai ber-uhu menyambut gelap. Dan ada suara gemerisik menakutkan, suara jangkerik hutan dan segala suara yang membuat bulu kuduk Gui Xian merinding. Ini belum benar-benar gelap kalau berada di pemukiman penduduk, tapi hutan selalu punya caranya sendiri untuk membuat wilayahnya menjadi menakutkan dimata manusia.

Qi Fan melangkah cekatan, cepat dan tak mempedulikan sekitar. Sepertinya dia juga terlupa untuk mempedulikan Gui Xian di belakangnya kesulitan mengikuti jejaknya. Gui Xian menggerutu terus. Berkali-kali dia memanggil Qi Fan agar memelankan langkahnya, namun sepelan apapun Qi Fan melangkah, Gui Xian tetap tak bisa menyepadani kecepatannya. Berkali-kali Gui Xian tesandung, tersangkut dan hampir terjatuh. Dia sering mengumpat, menyumpahi Qi Fan yang pura-pura tak dengar kalau dipanggilnya.

“Cepat sedikit. Sebentar lagi kita sampai”. Qi Fan berhenti sejenak menunggu Gui Xian mendekatinya. “Ada beberapa gubuk di depan situ. Biasanya digunakan oleh orang-orang yang kemalaman di hutan ini”

Biasanya tabib-tabib pencari obat, atau prajurit yang bertugas di hutan yang menginap disitu. Terkadang ada juga rombongan saudagar yang melewati jalur hutan dan kemalaman di dalam hutan ini. Gubuk-gubuk itu memang dibuat untuk tempat singgah bagi yang memerlukannya. Lumayan nyaman walau tak bisa dikatakan aman dari serangan penghuni hutan. Setidaknya siapapun bisa beristirahat disana.

“Kalau memang sudah dekat, pelankan langkahmu!”, perintah Gui Xian sambil meringis kesakitan. Kakinya ngilu antara sakit terantuk dan tersangkut tetumbuhan, dia juga capek berjalan seharian ini. “Kakiku sakit!”, eluhnya. “Kau masih punya banyak tenaga, bisa kau gendong aku!”

Qi Fan memandang Gui Xian sejenak, menimbang-nimbang untuk menyetujui permintaan Gui Xian atau tidak. Ketika sang Putri sudah hampir mendekat padanya, dia segera berbalik arah dan melanjutkan perjalanan. Dia sudah putuskan tak sudi memberi bantuan Gui Xian.

“Qi Fan!”, teriak Gui Xian kesal ketika permintaannya diabaikan.

“Gubuknya sudah dekat. Kau tak akan mati hanya untuk berjalan sampai ke gubuk itu”

“Sepertinya ayahku salah telah memilihmu jadi pengawalku”. Gui Xian mendecih keji namun kemudian bergerak menyusul langkah Qi Fan. “Kalau kau tak mau menggendongku, setidaknya kau harus menungguku berjalan!”

Panglima tak menyahut sedikitpun kritikan dari Gui Xian. Dia terus berjalan cepat menuju area persinggahan sementara. Qi Fan tak mempedulikan Gui Xian yang mulai tertinggal jauh darinya. Instingnya bilang sang putri akan baik-baik saja, maka dari itu dia mengabaikan Gui Xian. Asal Gui Xian masih berada di jarak aman di belakangnya, Qi Fan terus pura-pura tak peduli.

Tak lama berjalan Qi Fan mulai melihat gubuk-gubuk persinggahan itu dari sela-sela pepohonan. Sudah tak jauh lagi perjalanan mereka sementara ini. Qi Fan mengkode agar Gui Xian berjalan lebih cepat agar mereka lekas sampai. Gui Xian sampai harus menjinjing gaunnya demi mengikuti kode dari panglimanya.

“Kita sampai”

Qi Fan berjalan lebih cepat namun tak fokus. Dia terlalu bersemangat untuk memasuki area persinggahan. Qi fan sedikit menggebu berlari kecil. Dia melompati batang pohon tumbang besar dengan mudah namun mendarat tak semudah lompatannya. Qi Fan melonpat tinggi, namun ranting-ranting pohon di sebelahnya menghalau kakinya hingga dia jatuh karena tersangkut. Qi Fan terjatuh di tanah, minimbulkan bunyi gedebum pelan diikuti tawa bahagia dari si tuan putri.

“Ckckckck!”. Gui Xian menggeleng-geleng prihatin. “Kau tahu kenapa wanita ditakdirkan berjalan di belakang pria? Itu karena bila pria terjatuh di depannya, wanita yang akan menolong”, terangnya sedikit ada nada menggurui. “Tapi sayangnya aku bukan bagian dari wanita yang suka menolong!”, tambahnya sambil menggeleng-geleng lalu berjalan duluan ke area persinggahan.

Qi Fan bangkit sendiri dengan perasaan dongkol. Dia terjatuh bukan berarti tak bisa berdiri sendiri. Dia tak butuh bantu Gui Xian, namun kalau Putri itu tak ingin membantunya harusnya tak juga menyindirnya.

Beberapa orang datang menghampiri Gui Xian di depan pagar gubuk. Sepertinya mereka gerombolan saudagar yang terpaksa menginap disitu. Mereka mengobrol sebentar, bertanya-tanya tetang keadaan Gui Xian. Dari belakang Qi Fan melihat Gui Xian menunduk-nunduk sambil menunjukkan kakinya pada beberapa orang itu. lalu berikutnya, Gui Xian dipapah seorang pemuda dan perempuan lain di gerombolan itu.

Jadi Gui Xian berhasil mengelabui orang agar dapat bantuan.


*******

Qi Fan, Gui Xian dan beberapa orang sedang duduk di salah satu gubuk. Mereka baru saja makan, dan sekarang sedang mengobrol satu dengan lainnya. Gui Xian duduk berselonjor, kakinya dipijat oleh seorang wanita gemuk yang ikut rombongan saudagar dari desa sebelah.

Saudagar Xiao membawa putra kembarnya, Xiao Lu dan Xiao Li. Dia juga membawa keponakan cantiknya, Ying Ren dan seorang pelayan yang sekarang sedang memijit kaki Gui Xian. Dan ada empat prajurit yang sedang duduk di luar gubuk sambil berjaga.

“Kalian sering menginap disini?”, tanya Gui Xian sambil meringis-ringis menahan sakit karena dipijat. Pelayan itu memijatnya terlalu keras, tapi Gui Xian tak mungkin bisa protes karena pelayan itu bukan pelayannya sendiri.

“Tidak pernah. Walau malam sekalipun kita tetap akan melanjutkan perjalanan”, terang saudagar Xiao. “Di hutan ini sangat berbahaya untuk orang seperti kita. Tapi karena hari ini kita mengajak Ying Ren, tak mungkin kita berjalan terus sementara dia kelelahan”

Gui Xian mengkode Qi fan agar duduk dekat dengannya. Setelah Qi Fan berada disampingnya, dia menyandarkan tubuhnya pada badan tegap penglimanya itu. Dia lelah, dan karena Qi Fan adalah pengawal pribadinya untuk saat ini, jadi terserah dia mau berbuat apa pada panglima itu. Memang bukan hal wajar bagi seorang putri berdekatan dengan lelaki sampai harus bersandar di badan panglima, tapi toh sekarang tak ada yang tahu dia melakukan ini. Saudagar dan antek-anteknya juga tak kenal siapa mereka.

“Kalian sendiri bagaimana bisa berjalan di hutan seperti ini?”

“Kami akan ke perbatasan..”

“Tapi ketingalan rombongan”, serobot Gui Xian pada keterangan Qi Fan.

“Yang benar saja. Bagimana bisa, jie jie?”, tanya Xiao Li

“Bisa. Qi Fan terlalu lambat, makanya kita tertinggal”. Qi Fan melirik Gui Xian tanda tak terima namun Gui Xian cuma menyenggir. “Aku cuma bercanda!”, tuturnya sambil menepuk pundak Qi Fan.

“Ngomong-ngomong kalian berasal dari mana? Kalau dilihat dari pakaian, kalian seperti warga kerajaan”, sabung Xiao Lu.

“Kami berasal dari ibu kota. Utusan kerajaan untuk menyalurkan bantuan pangan di desa seberang gunung ini”

“Iya benar, disana ada daerah yang mengalami gagal panen. Sekarang mereka kekurangan pangan”

Mereka singgah di daerah itu tadi pagi. Makanya mereka tahu keadaan disana.

“Heh, kau!”, panggil Gui Xian pada Ying Ren. Gui Xian lupa nama gadis itu. Gui Xian heran saja kenapa dia terus melihat ke arah Qi Fan. “Kenapa mau ikut ke ibu kota? Bukankah kau tahu perjalanan dari kotamu ke ibu kota kerajaan itu sangat jauh”, tanyanya setelah dapat atensi dari si gadis.

“Aku ingin melihat suasana ibu kota”, jawabnya sambil tersenyum pula ke arah Qi Fan. Kemudian Ying Ren menunduk masih sambil tersenyum karena baru saja tatapannya beradu dengan Qi Fan.

Semua juga bisa lihat kalau Ying Ren terpesona dengan Qi Fan. Mungkin cuma Qi Fan sendiri yang tak sadar hal itu. Qi Fan masih diam saja walau sejak tadi disenyumi oleh Ying Ren. Bahkan dia lebih fokus melihat ke luar gubuk. Qi Fan memang lebih peka terhadap bahaya dari pada soal cinta-cintaan seperti sekarang.

“Kurasa sudah malam, waktunya tidur!”, kata Gui Xian yang mulai risih karena atensi semua orang cuma tertuju pada Ying Ren yang mencuri-curi pandang terus pada Qi Fan. “Para lelaki, kalian boleh keluar dan tidur di gubuk sebelah!”, perintahnya angkuh masih berasa kalau dia seorang putri.

“Jie jie, aku belum mengantuk”, kata Ying Ren mulai beralasan.

“Kau bisa mengobrol denganku”. Gui Xian menggetahui usaha Ying Ren untuk menolak tidur. “Katanya kau ingin tahu suasana ibu kota. Aku tahu banyak hal soal itu”

Satu pesatu lelaki keluar dari tempat itu, termasuk Qi Fan. Gui Xian menyuruh pelayan berhenti memijatnya. Dia berterima kasih dan mengijinkan pelayan itu untuk istirahat lebih dulu. Gui Xian sendiri mulai merebah di lantai kayu beralas jerami itu. Jauh dari kata nyaman menurut Gui Xian, tapi dia terlanjur bilang kalau dia bisa istirahat dimanapun. Tidak mungkin dia akan menarik omongannya sendiri.

“Kenapa kau tak segera tidur?”. Ying Ren geragaban. Dia segera mengalihkan pandang dari luar gubuk. menoleh kesana kemari mencari barang-barangnya. “Apa Qi Fan terlihat dari situ?”, tanya Gui Xian bukan maksud untuk menangkap basah Ying Ren yang terus menatap Qi Fan.

“Iya”, jawabnya gugup.

“Panggilkan dia!”

“Hah? Panggil?”

“Iya. Panggil dia sekarang!”. Ying Ren mengangguk mengerti. Kesempatannya untuk bisa berbicara dengan Qi Fan walau cuma untuk memanggilnya menghadap Gui Xian. “Kau mau kemana?”, tanya Gui Xian menghentikan langkah Ying Ren yang hendak ke luar gubuk. “Panggil saja dari sini. Dia tidak tuli sampai kau harus dihampiri kesana!”

Ying Ren mengangguk lagi. Gagal sudah kesempatannya bicara dengan Qi Fan. Lagi pula siapa Gui Xian sampai harus menyuruh nyuruhnya? Sepertinya Gui Xian sangat tidak suka kalau Ying Ren menaruh hati pada Qi Fan. Tapi melihat raut muka Gui Xian, Ying Ren takut membantah walau sebenarnya dia tak suka. Gui Xian terlihat sangat sadis.

“Ada apa?”, tanya Qi Fan setelah menerima panggilan dari Ying Ren.

Gui Xian tak mau repot-repot beranjak dan memberikan selimutnya pada Qi Fan yang berdiri di pintu gubuk. Gui Xian melempar selimut itu kearah Qi Fan. Tidak sopan dimata Ying Ren, namun memang begitu sifat Gui Xian yang cuma diketahui keluarga kerajaan.

“Dia mau berbagi selimutnya denganku!”, tunjuk Gui Xian pada Ying Ren. “Kupikir dia juga setuju kalau kau memerlukan selimut itu, benar?”, tanyanya yang dialihkan pada Ying Ren.

“Iya. Iya”, jawab Ying Ren gugup lagi.

“O”, sahut Qi Fan.

Qi Fan segera mengambil selimut itu dan berlalu tanpa berterima kasih.


*******

Ying Ren menanyakan banyak hal pada Gui Xian. Tentang ibu kota, tentang cara hidup disana, orang-orangnya dan kemungkinan untuk orang asing tinggal disana. Dia bermaksud ingin tinggal di lingkup kerajaan. Siapa tahu saat Qi Fan kembali dari tugas nanti, mereka bisa bertemu di daerah kerajaan. Gui Xian juga menerangkan asal. Dia sekedar menjawab pertanyaan tanpa perlu menerangkan detail lingkup ibu kota. Gui Xian sedang capek, dia mengantuk dan ingin tidur. Dia masih berencana bangun pagi untuk mencari tumbuhan racun itu disekitaran persinggahan ini. jadi dia butuh tidur.

“Jie jie, Qi Fan ge sangat tampan ya”, katanya saat Gui Xian sudah mulai kehilangan kesadarannya. “Sepertinya aku menyukainya”

Mendengar kata tampan Gui Xian tak jadi menutup matanya. Dia sebenarnya geli mendengar Qi Fan di katakan tampan oleh Ying Ren. Menurutnya sendiri, Qi Fan itu dekil. Apalagi kalau Qi Fan baru pulang tugas. Kulitnya berdebu, pakaiannya tak jarang kena lumpur, wajahnya hitam  dan jelek. Dan Qi Fan juga bau. Gui Xian tak bisa membayangkan Qi Fan tak mandi berhari-hari demi bertugas di perbatasan penuh konflik daerah barat.

Qi Fan badannya penuh otot yang keras hingga ketika Gui Xian bersandar di bahu Qi Fan saja terasa bersandar di permukaan batu. Qi Fan juga irit bicara, minim ekspresi dan kasar terhadap wanita. Kalau Ying Ren menyukai Qi Fan, dia mulai suka dari mananya?

“Qi Fan ge itu prajurit kerajaan ya?”

“Hmm”, jawab Gui Xian sekenanya.

“Qi Fan ge itu rumahnya di dekat rumahmu?”

“Tidak cuma dekat”

“Sangat dekat?”

“Hmm”

Ying Ren tepat sasaran kalau begitu. Dia perlu berteman dengan Gui Xian agar dibukakan jalan untuk mendekati Qi Fan.

“Jie jie”

“Bisa kau simpan pertanyaanmu untuk besok? Aku mengantuk!”, potong Gui Xian yang segera diangguki Ying Ren.

Beberapa menit terdiam, Gui Xian mulai nyaman tidur. Suara-suara binatang diluar mulai terdengar samar ditelinganya. Dia akan terlelap detik berikutnya kalau Ying Ren tak membuka percakapan lagi.

“Jie jie”

“Ssstt, kusuruh kau untuk diam dari tadi!”, marah Gui Xian.

“Maaf. Aku ingin bertanya sesuatu, pertanyaan terakhir!”

Gui Xian bersungut sungut menahan marahnya. Dia mengantuk, itu alasannya tak menyukai suara Ying Ren.

“Jie jie kan temannya Qi Fan ge, Jie jie tahu wanita seperti apa yang disukai Qi Fan ge?”

Gui Xian menghela nafas sebal. Cuma masalah Qi Fan saja harus mengganggu tidurnya. Seumpama Ying Ren mau menyimpan pertanyaannya untuk besok, Gui Xian mungkin akan berbaik hati menjawabnya walau jawabannya tak akan mengena. Tapi karena gadis itu telah lancang mengganggu tidurnya, dia cuma menunjuk dirinya sendiri sebagai jawaban.

“Maksudnya? Qi Fan ge menyukai wanita yang seperti Jie jie?”

“Hmm”

“Sebagai teman Qi Fan ge, Jie jie mau mengajariku menjadi sepertimu?”

“Siapa yang kau bilang teman? Qi Fan dan aku? Apa kita terlihat sedang berteman?”. Ying Ren menggeleng. Tapi apa mungkin mereka berdua musuhan? “Kau menyukai Qi Fan tapi tak menanyakan status hubungannya denganku. Kau menyukainya dan mengatakan terang-terangan di depanku”

“Maaf”, kata Ying Ren spontan. Tapi Ying Ren belum tahu letak kesalaannya.

“Kau tahu siapa dia?” Ying Ren menggeleng lagi. “Dia suamiku”, katanya yang langsung membuat Ying Ren terkejut. “Kau mau merebutnya dariku?”

“Tidak, jie jie. Maafkan aku!”

“Kalau tidak, cepat tidur dan jangan sekali-kali membuka mulut sampai besok pagi!”, ancam Gui Xian yang langsung dituruti Ying Ren. “Kau bersuara sedikit saja, kurobek mulutmu!”

Rasakan! Itu akibat bagi orang yang susah ditegur Gui Xian.

To be continue
Baca SelengkapnyaPoison Ivy part 2