Kamis, 03 September 2015

Poison Ivy part 1

gbr. copy paste



Poison Ivy


“Kau tidak bisa membuat pesta penyambutan lebih bagus dari ini?”, tanya Gui Xian pada panglima yang sekarang berjalan di belakangnya.

Gui Xian berhenti sejenak memperhatikan panglima yang juga ikut berhenti. Tak mendapati reaksi dari panglima, Gui Xian mendecih. Dia mengibaskan gaun birunya lalu kembali berjalan. Yah, selalu seperti itu tanggapan yang didapati Gui Xian dari pengawal dadakannya.

“Kau lihat keadaan disini? Perabotan berserakan, hiasan belum terpasang dan semua pelayan mondar mandir pura-pura sibuk. Mereka bahkan tak sadar aku datang. Mana penyambutan untukku?”, protesnya pula.

Gui Xian behenti lagi. Dia memperhatikan pekerja yang sedang memasang tirai baru di ruangan itu.

“Heh, Heh, Heh!”, teriaknya meminta perhatian. “Apa kalian tidak bisa memilih warna yang lebih bagus dari itu?”. Pekerja menunda pekerjaan. Seluruh yang ada di ruangan itu menunduk hormat pada tuan putri mereka. “Kalian, tukar tirai itu dengan warna biru. Ambil biru transparan dan biru tua!”, perintahnya yang segera diangguki petugas pemasang tirai. “Apa kalian berdiri disitu? Kembali bekerja!”, perintahnya pula pada sisa manusia yang masih berdiri menghadapnya.

Ini hari kedatangan keluarga kerajaan ke istana. Baginda raja, permaisuri, selir dan seluruh keturunan raja akan berkumpul di istana. Bersama seluruh prajurit perang, pegawai istana dan rakyat akan melaksanakan pesta setahun sekali. Purnama bulan ke dua belas, pesta diadakan dimaksudkan untuk mendekatkan seluruh element di kerajaan ini. Kalau kerajaan berduka, rakyat ikut berduka dan ketika kerajaan sedang bahagia, rakyat juga harus bahagia. Seperti diadakannya pesta tahunan ini diharapkan semua orang bahagia.

Tapi tidak dengan penglima perang kerajaan. Dia akan suka rela memimpin perang atau berpatroli mengitari perbatasan sampai berbulan-bulan tak pulang dari pada harus berada di istana saat mendekati hari pesta. Itu dikarenakan dirinyalah yang dipilih raja untuk menjemput putri dari rumah khususnya. Dia juga yang harus mengawal putri selama keberadaannya di istana hingga pesta selesai dan putri diantar kembali ke kediamannya.

Masalahnya adalah tuan putri yang satu ini melebihi putri-putri raja lainnya. Dia memang cantik, terpelajar dan sangat berani. Hanya saja wajah cantik dan otak pintarnya tak sesuai dengan tigkahnya yang menyebalkan. Dia itu suka memerintah orang, suka mencaci maki dan tak punya sopan santun pada siapapun di kerajaan termasuk ayah dan ibunya sendiri. Maka dari itu panglima enggan di istana saat akan ada pesta karena selalu dirinya yang ditugaskan bersama tuan putri. Panglima hanya tak mau mendengar ocehan putri setiap hari.

“Itu bukan tugasku”, jawab Qi Fan.

“Cih!”. Putri melangkah lagi memasuki ruangan penyambutan itu. “Kau itu panglima, punya kuasa untuk mengatur apapun di kerajaan ini”

Qi Fan memang panglima, tapi dia panglima perang. Kuasanya adalah mengatur strategi berperang dan membawa prajurit membuat benteng terkuat untuk kerajaan, bukan untuk mengatur pesta penyambutan keluarga raja seperti yang diinginkan tuan putri.

“Tuan putri, selamat datang di istana!”, sapa dua orang dayang yang menyambut kedatangan Gui Xian.

Dua orang dayang dan tiga pelayan berjajar sambil membawa nampan-nampan. Mereka membungkuk sejenak, setelah putri menyahuti sambutan, mereka kembali berdiri tegak.

“Ini perahan jeruk asli kesukaan Tuan putri”, terang seorang dayang sambil menunjuk nampan pertama.

“Aku tidak haus, berikan saja pada Qi Fan!”

“Aku tidak suka air jeruk!”, tolak Qi Fan sebelum pelayan itu menawarinya.

“Kami juga membuat kue kesukaan Tuan putri”. Dayang memerintahkan pelayan kedua menunjukkan kue bawaannya.

“Berikan pada Qi Fan!”, perintahnya lagi.

“Aku tidak lapar”, tolak Qi Fan lagi.

“Kau menolak pemberianku, kau bermaksud menghinaku?”, tanya Qui Xian kasar.

“Tidak. Aku hanya tak terbiasa dengan makan dan minum seperti itu”, terangnya tanpa takut kalau dia membantah seorang putri.

“Apa maksudmu dengan ‘seperti itu’? Air jeruk dan kue ini lebih enak dari makanan manapun. Lebih enak dari pada daging rusa yang kau makan di hutan dan lebih segar dari arak yang kau minum setiap malam”

Qi Fan lagi-lagi tak menanggapi ocehan tuan putri.

Ini tahun ketiga Qi Fan diperintahkan langsung oleh raja untuk mengawal putrinya. Pengalaman dua tahun lalu sudah cukup untuk Qi Fan patuh pada Putri raja. Otaknya pernah terasa mau pecah di tahun pertama dia mengawal putri itu. Mengomel dan mencaci terus pekerjaannya. Awalnya Qi Fan sebagai panglima kerajaan yang patuh dan tunduk di bawah raja, menghormati seluruh keluarga raja. Tapi menghormati Gui Xian ternyata pilihan salah, walau dia seorang putri tapi kelakuannya bagai diktator. Qi Fan tak sudi lagi mendengar dan melakukan apapun perintah putri. Tugasnya adalah melindungi putri, bukan untuk menerima perintah dari putri sendiri.

“Kau suka makan daging-daging buruan di hutan kan?”, tanya Gui Xian sambil memicingkan matanya licik. “Pantas badanmu penuh lemak begitu!”, ejek Gui Xian.

Gui Xian cuma tak ingin menyebut badan besar panglima itu gempal dan kakar.

“Tunjukkan isi nampan ketiga kalian!”, perintah Gui Xian setelah mengabaikan Qi Fan.

“Buah-buahan”, jawab seorang dayang.

“Buah-buahan? Aku suka. Bawa ke kamarku, aku akan memakannya nanti setelah bertemu ayah dan ibu!”, katanya sambil melanjutkan berjalan. “Oh ya, dimana ayahku?”

“Baginda raja ada di balai istana. Kami bisa mengantar Tuan putri kesana!”

“Tidak perlu. Aku bisa kesana sendiri”, tolaknya sambil berjalan angkuh.

Gui Xian berjalan sampai separo ruang, namun dia berhenti kemudian. Dia berbalik setelah tak didengarnya langkah lain mengikutinya. Dia melihat panglima berdiri di tempat sama saat dia berbincang dengan dayang-dayang tadi.

“Qi Fan!”, panggilnya hingga separoh pekerja di ruangan itu menoleh padanya. “Kau ingat apa tugasmu?”, tanyanya kasar.

“Kau baru saja bilang akan menemui ayahmu sendiri”

Gui Xian mendengus kesal. Dia bilang sendiri, berarti dia tak mau dayang-dayang itu mengikuti langkahnya. Tapi Qi Fan itu lain, dia adalah pelindungnya yang berarti kemanapun Gui Xian pergi, Qi Fan harus turut serta.

“Kau juga termasuk!”, bentak sang putri. “Kau ditugaskan melindungiku, jadi ikuti kemanapun aku pergi. Itu perintah!”. Qi Fan mengangkat bahu. “Cepat ikuti aku!”, perintah Gui Xian yang langsung dituruti panglima.

Panglima mau cari aman. Dia ikuti kata tuan putri bukan berarti dia takut, dia hanya tak ingin mendengar tuan putri itu mengomelinya lebih lanjut.

*******

Tuan putri dan panglima telah bergabung di balai istana. Setelah berbasa basi menyambut putrinya, raja memberikan tugas pada panglima. Tugasnya adalah pergi ke perbatasan untuk menjemput tamu undangan dari kerajaan sebelah. Tamu undangan itu melibatkan pangeran kerajaan juga, dia mewakili ayahnya yang kesehatannya sedang tidak stabil akhir-akhir ini. Walau mereka sudah jelas membawa pengawal sendiri, dari sini harus tetap mengirimkan pengawal jemputan agar mereka merasa aman di negeri ini.

“Gui Xian!”, panggil sang Raja.

“Apa?”, jawabnya tak sopan.

“Istirahatlah, menjelang sore kalian bisa berangkat”. Gui Xian mengernyitkan dahi mendengar penuturan ayahnya. “Kenapa?”

“Kenapa apanya? Harusnya aku yang bertanya. Apa maksud Ayah bilang ‘kalian bisa berangkat’? Jangan bilang kau suruh aku ikut Qi Fan menjemput tamu-tamumu itu”

“Kalau bukan kau, siapa lagi? Kau putri tertua disini, jadi kau yang lebih pantas memberi sambutan untuk pangeran You Tian”

“Mereka tamumu, kenapa tak kau jemput sendiri?”, celetuk Gui Xian. “Lagi pula perjalanan dari sini ke perbatasan itu butuh lebih dari dua hari. Kalau ada yang menculikku, bagaimana?”, tanyanya sambil mendecih tanda tak setuju pada ayahnya.

Hal seperti itu sudah dipikirkan oleh raja. Selama ini Gui Xian tinggal terpisah dari kerajaan. Tak pernah terjadi apapun pada Gui Xian walau penjagaan di kediamannya tak seketat di istana. Gui Xian sering bepergian sendirian dan tak ada seorangpun berani berlaku jahat padanya. Mungkin itu memang karena perilaku galak Gui Xian yang membuatnya ditakuti orang. Kalaupun ada penjahat yang akan menculiknya, bukankah ada Qi Fan yang ikut dalam rombongan menjemput pangeran dari kerajaan tetangga itu.

“Dua hari tiga malam. Tidak sampai seminggu dan kalian sudah akan berada disini lagi”, kata sang Raja membetulkan. “Kau tahu disini sangat sibuk, aku atau ibumu tak mungkin meninggalkan tempat sebelum persiapan pesta ini selesai”

“Kau sudah mengirim Qi Fan, kurasa dia mampu melakukan tugasnya tanpa aku harus ikut”

“Akan lebih sopan kalau aku mengirim salah seorang keluarga kerajaan”, dalih sang Raja.

“Kalau begitu kirim mereka!”. Gui Xian menunjuk ke arah adik-adiknya. Tiga anak selir itu menunduk dan mengkerut takut. “Heh, jangan pura-pura kalian!”, bentak Gui Xian.

“Ayah, kau tahu kalau aku tak mungkin bertahan di dunia luar istana yang kejam itu”, tutur Bai Xian mendramatisir.

Bai Xian menunduk lagi. Dia takut, pura-pura takut lebih tepatnya. Bai Xian itu putri termanja di keluarga raja. Anak dari selir kedua yang ibunya mati sedari dia lahir. Bai Xian adalah putri termuda, ratu-lah yang merawatnya sejak kecil. Ralat, ratu yang jadi ibunya tapi dayang-dayang yang merawatnya. Bai Xian kalau sudah masuk istana dia tak akan pernah menginjakkan kaki keluar istana. Begitu juga kalau dia sudah masuk ke kediaman pribadinya, dia juga tak sudi keluar. Dia tak suka kotor, dia tak suka melakukan pekerjaan walau sekecil apapun. Bai Xian itu seorang putri dan menurutnya putri diciptakan untuk memerintah dayang-dayang.

Bai Xian juga masih terikat kisah buruk dengan Piao bersaudara itu. Kunjungan dua tahun yang lalu kerajaan dari timur juga datang ke pesta yang sama. Waktu itu raja Piao masih dalam keadaan sehat. Raja Piao datang dengan kedua putranya, Pangeran You Tian dan Pangeran Can Lie. Kisah buruk Bai Xian diawali dari permintaan Raja Piao yang akan menjodohkan putranya dengan salah satu putri disini. Karena pada waktu itu cuma ada Bai Xian yang hadir di jamuan makan malam, Bai Xian-lah yang diinginkan Raja Piao jadi menantunya. Bai Xian iya-iya saja karena menurut penglihatannya, pangeran You Tian itu calon suami yang sempurna baginya. Pangeran You Tian punya talenta berlimpah, mulai dari ketampanan, kecerdasan, kekuatan hingga kesopanan. Akan sangat cocok kalau seorang pangeran hebat seperti You Tian menikah dengan putri cantik seperti Bai Xian. Namun persepsinya mengenai You Tian yang hebat itu lenyap ketika pangeran itu mengajukan adiknya sebagai pengganti. Bai Xian dikira apa sampai harus ditolak dan ditukar dengan pangeran lain? Can Lie itu tak ada apa-apanya untuk Bai Xian. Kalau You Tian tak mau dengannya, tidak juga dengan Can Lie. Bai Xian tak sudi dipersunting Can Lie walau pangeran itu memohon mohon padanya sekalipun.

Putri dari selir pertama raja mengangkat wajahnya. Dia tersenyum anggun pada seluruh orang yang ada di balai itu termasuk pada Gui Xian. Senyum anggunnya itu sebenarnya juga pura-pura.

“Sebenarnya aku bersedia, tapi dengan keadaan ragaku yang lemah seperti ini aku takut merepotkan panglima dalam perjalanan”, kata Yi Xing berlagak menyesal.

Yi Xing memang sakit-sakitan. Dayang-dayang yang merawatnya dari kecil dan Ratu juga yang jadi ibunya. Sementara ibu kandung Yi Xing meninggalkannya setelah dia lahir. Tak ada yang tahu kenapa Yi Xing ditinggalkan ibu kandungnya, sampai sekarangpun tak ada yang tahu juga kemana perginya selir itu. Yi Xing sedih kalau mengingatnya, tapi bukan itu yang membuat Yi Xing sakit-sakitan. Awalnya Yi Xing adalah gadis yang enejik, tapi semenjak cintanya bertepuk sebelah tangan dengan salah satu anak saudagar Jin, dia mulai sakit. Sakit jiwanya yang berpengaruh terhadap raganya.

“Alasan!”, celetuk Gui Xian sambil mendengus keras.

“Mungkin Xiu Min bisa menggantikanmu”, usul Yi Xing.

Xiu Min terkejut sejenak. Sempat melirik kanan kiri, namun akhirnya memutuskan tersenyum walau tak seanggun senyum Yi Xing.

“Aku ada kencan”, jawabnya spontan.

“Kencan dengan siapa? Kau tak punya kekasih. Kau ditolak berulang kali oleh Yi Fan, kalau kau lupa!”, tegas Gui Xian.

“Kali ini dia tak akan menolakku!”, katanya mantap. Tapi dalam hatinya tak semantap perkataannya.

Xiu Min sendiri heran, dia juga seorang putri walau anak dari selir ketiga. Dia menganggap Ratu adalah ibunya karena ibu kandungnya memilih menikah dengan rakyat biasa dan pindah ke negeri seberang. Dia merasa cantik, sopan dan berkepribadian baik, jauh lebih baik dari Gui Xian. Dia juga punya derajat sama tinggi dengan saudara-saudaranya yang lain, tapi kenapa? Kenapa Yi Fan, adik kandung dari panglima Qi Fan itu terus menolaknya? Apa yang salah dengannya?

“Panglima tahu kalau aku dan adiknya akan berkencan dalam waktu dekat ini”, tuturnya sambil tersenyum sinis kearah kakaknya.

“Sudahlah, kau saja yang pergi!”, kata Raja memutus perdebatan anak-anaknya. “Ini usul dari ibumu, jangan biarkan dia mendengarmu menolak perintahnya!”, kata Raja yang dianggukki tiga putri lainnya.

Siapa yang tidak tahu kuasa ratu di negeri ini? Orang paling berwibawa, orang paling hebat dan nomor satu di kerajaan ini adalah Raja Han, tapi siapa sangka Raja Han menurut sekali dengan ratunya. Raja bukannya takut istri, justru karena dia amat mencintai ratunya dia tak kuasa menolak apapun yang dikatakan istrinya itu. Demikian juga anak-anaknya, serta seluruh pekerja istana, patuh terhadap perintah ratu. Gui Xian sendiri tak takut ibunya, dia hanya tak ingin menghabiskan tenaga untuk berdebat dengan wanita yang menurunkan segala sifat padanya itu.

“Kau boleh bawa siapapun untuk menemani perjalananmu”

“Iya, tapi jangan bawa kami”, kata Bai Xian sambil mengikir kuku-kukunya yang akan dicat ulang.

“Baiklah-baiklah”, putus Gui Xian sambil pura-pura pasrah. “Aku harus menjemput rombongan pangeran You Tian? Pangeran hebat dari negara timur itu, kan? Bukankah adiknya adalah mantan calon tunangan Bai Xian”, celetuk Gui Xian menimbulkan kerut benci dari wajah adiknya. “Jangan-jangan kau menolak ikut karena takut Can Lie akan datang juga ya?”

“Tidak!”, tegas Bai Xian, tapi sebenarnya itu juga salah satu alasannya tak ingin pergi ke perbatasan.

“Kudengar kerajaan dari timur itu punya panglima perang yang tangguh. Siapa tahu dia ikut dalam rombongan kemari. Aku perlu bertemu dengannya untuk kubandingkan seberapa tangguh Qi Fan dengannya”. Seketika Qi Fan melirik pada Gui Xian. Merasa dirinya diremehkan saat ini, dia hendak protes. “Kalau kau takut kalah tangguh darinya, kau boleh bawa Yi Fan untuk membantumu”

“Yah, tidak boleh!”, proes Xiu Min mendahului Qi Fan. “Yi Fan ada janji kencan denganku!”

“Kau bisa ikut denganku juga agar bisa berkencan dengan Yi Fan di jalan”, kata Gui Xian seenaknya.

Gui Xian selalu menang kalau sudah berdebat dengan saudaranya. Bukan cuma karena dia anak tertua tapi karena sifat tak pernah mau kalah itu diturunkan langsung dari ratu pada Gui xian.

“Kalau ada yang mau ikut aku, tidak perlu meminja ijinku. Langsung saja bersiap dan berangkat nanti sore bersamaku”, kata Gui Xian sambil melenggang pergi tanpa pamit.

“Qi Fan, aku titip Gui Xian padamu”, Qi Fan mengangguk sekali. “Soal panglima perang tangguh itu, bagiku kaulah yang paling tangguh”

“Terima kasih, Yang mulia”

“Panglima, usahakan jangan mau diakrabi kakak agar kau bisa pulang dalam keadaan baik”, tutur Bai Xian.

“Ya, dan aku lebih meyayangkan kalau kau terluka dari pada dia”, tambah Yi Xing.

“Kalau ada penyerangan terhadap rombongan kalian, selamatkan nyawamu terlebih dahulu”, tambah putri tertua dari ketiganya, Xiu Min.

“Kalian ini bersaudara”, tegur raja menyayangkan tindakan anak-anaknya yang susah sekali akur. “Jangan dengarkan mereka, kau boleh pergi sekarang!”

Setelah kepergian panglima, raja memandangi ketiga putrinya. Dia juga membayangkan putri pertamanya. Prihatin dengan keempatnya, bisa bisanya mereka tidak akur satu sama lain. Mereka dibesarkan bersama-sama dan begini jadinya. Meski mereka tak benar-benar bertengkar, tapi mereka juga tak pernah akur kalau sudah bersama. Yang jadi kesamaan adalah status mereka yang masih sendiri sampai sekarang. Putri-putrinya itu kapan akan dapat jodoh? Sudah seharusnya raja menimang cucu, tapi tak satupun dari putrinya dilirik lelaki. Raja semakin menua tapi calon penerus saja belum ada.

*******

"Heh, siapa namamu tadi?”

“Xiao Lian”, jawab dayang yang barusan ditanya Gui Xian.

“Xiao Lian, panggilkan Qi Fan kemari!”

“Baik, Tuan putri”

Sebenarnya ada peraturan yang melarang lelaki selain raja memasuki kamar putri-putri kerajaan. Namun peraturan tersebut tak berlaku untuk Gui Xian. Kalau dia mau, siapapun bisa dibawanya masuk ke kamarnya. Lagi pula siapa yang berani berniat jahat pada seorang putri, terlebih itu Putri Gui Xian? Melihat Gui Xian saja sudah membuat banyak orang enggan berlama lama dengannya, apa lagi kalau lidah tajamnya sudah mulai beraksi.

Xiao Lian pergi dengan cepat dan kembali cepat pula bersama panglima Qi Fan.

“Tuan putri, panglima sudah datang”, kata Xiao Lian menghadap Gui Xian.

Gui Xian mengalihkan pandang pada Qi Fan. Dia menatap panglima itu dengan mata sipitnya kemudian mendecih keji. Gui Xian tak habis pikir, bagaimana bisa panglima yang ditugaskan melindunginya itu tak pernah menaruh hormat padanya. Bahkan sekarang saat si panglima sudah berada di hadapannya, sedikitpun salam perhormatan tak diucapkannya untuk Gui Xian. Padahal kalau dilihat selama ini, Qi Fan sangat hormat pada ayah dan ibunya.

“Panglima datang menghadap!”, kata Gui Xian. “Seharusnya kau mengatakan itu. Mana penghormatanmu padaku?”, katanya kasar pada Qi Fan.

“Panglima datang menghadap”, kata Qi Fan menirukan perkataan Gui Xian.

“Terlambat!”, bentaknya. “Seharusnya kau katakan dari tadi!”

Gui Xian menghampiri Qi Fan. Dia menyilangkan kedua tangannya sambil menyipit menyelidik kearah Qi Fan.

“Kau harus hormat padaku seperti kau menghormati raja dan ratu”, perintahnya. “Tentunya kau masih ingat kalau aku anak mereka. Posisiku jauh lebih tinggi dari padamu, jadi mulailah belajar sopan padaku”

“Akan kucoba!”, jawab Qi Fan datar.

“Aku tidak bermaksud mengungkit masa lalumu, kau dan Yi Fan sudah jadi yatim piatu sejak kecil. Aku cuma penasaran seperti apa orang tuamu hingga punya dua anak sama dinginnya seperti kalian?”, kata Gui Xian sambil menggeleng-geleng prihatin.

Semua orang juga tahu sifat kakak beradik Qi Fan dan Yi Fan. Dua lelaki yang diambil dari sebuah desa kecil lalu dibesarkan oleh penasehat raja. Kebakaran hebat yang melanda sebuah desa kecil menyisakan sedikit orang yang salah duanya Qi Fan dan Yi Fan. Ketika utusan raja datang memberi bantuan pada desa tersebut, penasehat ikut serta dan melihat kakak beradik itu duduk diam sambil memandangi gubuk mereka yang terbakar. Mereka tidak menangis saat kehilagan rumah bahkan orang tua mereka juga, tapi bukan berarti mereka tidak sedih. Sejak saat itu orang menyebut kejadian kebakaran yang merenggut nyawa kedua orang tualah yang menjadikan mereka dingin, irit bicara dan susah akrab dengan orang asing. Namun Gui Xian belum yakin dengan hal ini, dia befikir mungkin keduanya memang terlahir dengan sifat seperti itu.

“Kalian berdua, ikuti aku!”, perintahnya berjalan lebih dulu.

Gui Xian membawa Qi Fan dan Xiao Lian ke ruang lain di dalam kamar itu. Disana ada beberapa dayang yang sedang berkutat dengan barang-barang Gui Xian.

“Bagaimana? Sudah selesai?”

“Sudah, Tuan putri”, jawab seorang dayang setelah memberi jalan pada Gui Xian untuk mengecek barang-barangnya.

“Qi Fan, ini barang yang aku butuhkan dalam perjalanan nanti!”, tunjukknya pada lima kotak barang yang telah disiapkan para dayang.

“Kereta tidak mungkin bisa memuat semua barangmu”. Mereka bepergian tidak sampai seminggu sedangkan barang bawaan Gui Xian bisa dipakai untuk sebulan. “Bawa barang yang penting saja!”

“Semua barangku penting”

“Tapi tidak semua harus kau bawa”

“Aku tidak bawa semua”, kata Gui Xian tak mau kalah. “Kau bisa membawa kereta tambahan untuk mengangkut barangku. Dan ingat, aku tak akan pergi kalau barang-barangku tak terangkut semua”

Gui Xian bukan tipe perempuan yang suka ngambek, dia lebih suka mengancam agar semua yang diinginkannya dituruti. Dia perempuan yang mandiri, mandiri dengan caranya sendiri. Termasuk dengan memerintah, mengancam dan memarahi siapapun kalau apa yang diinginkannya tak sesuai.

“Kita bukan akan mengadakan perjalanan ke luar wilayah kerajaan. Jadi kusarankan kau membawa barang sekucupnya saja”

“Ini juga secukupnya. Aku tak bawa semua pakaianku, tak bawa perhiasan sama sekali dan tak bawa brang-barang yang merepotkan”. Lima kotak dia bilang secukupnya? Qi Fan menggeleng tanda tak setuju. “Kalau kau tak setuju membawanya, berarti kau tak setuju aku berada di rombongan”

Titahnya raja adalah mengawal Gui Xian menyambut tamu kerajaan. Kalau Gui Xian tak ikut, Qi Fan akan bilang apa kalau raja tanya soal itu? Qi Fan harus mengalah lagi kali ini. Demi raja yang dihormatinya, dia akan lakukan apapun.

“Aku akan menyiapkan kereta tambahan. Dan akan kuutus beberapa penjaga untuk mengangkatnya”

“Aku memanggilmu kemari agar kau yang mengangkat barang-barangku, jangan lempar tanggung jawab pada orang lain”, tegur Gui Xian. “Lagi pula tak akan kuijinkan siapapun menyentuh barang-barangku”

“Baiklah, aku akan memerintahkan seseorang untuk menyiapkan kereta. Aku sendiri yang akan menganggkat barang-barang ini nanti”, tegas Qi Fan dengan ekspresi sedikit kesal.

“Begitu lebih bagus, tapi kau harus cepat karena aku tak mau menunggu lama-lama disini”

*******

“Yang mulia Ratu”, sapa Qi Fan hampir bersamaan dengan Yi Fan.

“Aku perlu bicara sedikit dengan kalian berdua”. Qi Fan dan Yi Fan mengangguk bersamaan.

Ratu mengajak kedua kakak beradik itu sedikit menyingkir dari beberapa orang yang sedang berbenah. Mereka mengambil tempat di sebelah kereta-kereta untuk berbincang sejenak.

“Kalian masih ingat dua tahun lalu Raja Piao meminta kami berbesan? Kalian juga pasti ingat kalau Bai Xian menolak salah satu putranya”

Semua orang pasti ingat kejadian itu. Bai Xian ditolak You Tian kemudian dilemparkan pada adiknya, namun Bai Xian menolak Can Lie. Setelah kejadian itu ada kecanggungan antara Raja Han dan Raja Piao. Untuk mengatasi masalah itu, kedua kerajaan, lebih tepatnya atas usulan ratu mereka mencoba mempertemukan Gui Xian dengan You Tian. Gui Xian punya sifat yang keras, tapi You Tian sebaliknya, siapa tahu dengan pertemuan secara langsung mereka ternyata berjodoh.

“Aku mau Gui Xian dan You Tian mengenal satu sama lain lebih dari perkenalan selama ini. Siapa tahu mereka jodoh, kan!”, kata Ratu sambil menepok lengan Qi Fan. “Dan tugas kalian selain menjaga dan melindungi putriku, kalian juga harus berusaha mendekatkan mereka”

Qi Fan dan Yi Fan memperlihatkan ekspresi andalannya, datar. Ratu tak tahu mereka itu paham perintah darinya atau tidak. Ratu menginginkan punya panglima-panglima kerajaan yang bersahabat dan murah senyum, tapi sekalipun tak pernah dia melihat keduanya tersenyum. Untuk sementara tak masalah, toh kalau panglima perang suka terseyum dalam medan perang, tak akan ada musuh yang menakutinya nanti.

“Mengangguklah kalau kalian paham!”. Keduanya mengangguk bersamaan. “Bagus. Jangan sampai Gui Xian tahu”. Keduanya kembali mengangguk. “Ya sudah, hati-hati di jalan”, tuturnya sambil menepuk pundak-pundak panglimanya kemudian terkekeh licik sambil melangkah pergi.

Iya, hal seperti itu harus dirahasiakan dari Gui Xian. Kalau sampai dia tahu kemudian tak mau berdekatan dengan You Tian atau lelaki manapun di dunia ini, lalu kapan raja dan ratu akan punya menantu?

“Sepertinya tugas itu lebih sulit dari pada berperang di pedalaman hutan”, celetuk Yi Fan.

“Kupikir juga begitu”

“Dan kenapa kau harus mengajakku?”, sesal Yi Fan. “Kau tahu Gui Xian itu adalah orang kedua setelah Ratu yang tak ingin kudekati”

“Kau pikir aku suka berdekatan dengannya? Kalau bukan Raja yang meminta, aku tak akan sudi”

“Tapi kenapa kau harus mengikutkanku dalam rombongan ini juga? Bukankah aku akan lebih berguna kalau tetap di istana?” Yi Fan belum rela dirinya diikutkan jadi serombongan dengan Gui Xian.

“Bukan aku, Putri Gui Xian itu yang meminta. Lagi pula kalau kau ikut, kau terhindar dari Putri Xiu Min”

Kali ini Yi Fan setuju. Xiu Min masuk dalam daftar nomor tiga orang yang tak ingin didekatinya. Putri satu itu terus saja mengejarnya dan memintanya secara terang-terangan untuk jadi kekasihnya. Selain Xiu Min itu seorang putri dan Yi Fan prajurit biasa yang punya derajat berbeda, Yi Fan juga tak ada rasa dengan putri satu itu. Jelas kalau dia merasa risih dikejar Xiu Min terus-terusan.

“Setidaknya nasibmu bisa lebih baik dariku”. Yi Fan menepuk pundak kakaknya prihatin. “Nasibku buruk tiga tahun terakhir ini”

“Aku tahu kau bisa melewati tahun ini sama seperti dua tahun sebelumnya. Setelah dia mendapat pasangan, kupikir kau akan terbebas dari tugas-tugas penjagaan itu”

“Semoga saja!”

Qi Fan, Yi Fan dan hampir seluruh penghuni kerajaan menganggap Gui Xian sebagai musibah. Dia putri yang kuasanya ingin melebihi raja.

“Terbebas dari apa?”, tanya sebuah suara di belakang mereka. Suara yang sangat familiar dengan nada-nada keras. “Kutanya kalian terbebasa dari apa?”, tanyanya lagi setelah kakak beradik itu mengambil fokus padanya.

“Tidak ada”, jawab Qi Fan.

“Awas kalau kalian sampai merencanakan sesuatu di belakangku!”, ancam Gui Xian sambil menuding keduanya.

“Tidak”

“Karena ketahuan denganku kalian bilang tidak”, bentak Gui Xian. “Kuperingatkan, jangan coba-coba berulah di belakangku!”, perintahnya pula. “Persiapan sudah selesai, cepat berangkat!”

Qi Fan dan Yi Fan bergegas meninggalkan Gui Xian. Mereka membiarkan Gui Xian mengekor menuju kereta-kereta yang akan mengantarnya ke perbatasan.

*******

Setelah proses pelepasan oleh Raja dan Ratu, rombongan Gui Xian berangkat meninggalkan istana. Gui Xian ditemani dua orang dayang berada di satu kereta. Kereta satu lagi diisi dengan barang-barang bawaan Gui Xian. Qi Fan, Yi Fan dan dan beberapa prajurit naik kuda. Mereka berjajar di depan dan belakang kereta untuk memastikan kereta Gui Xian aman dari ancaman bahaya.

Gui Xian sedang membaca sebuah kitab kuno dalam keretanya. Seorang dayang memijat kakinya dan seorang lagi berkutat dengan pekerjaan lainnya.

“Kalian pernah dengar legenda rumput beracun di gunung DanXia”

“Gunung pelangi itu?”, sahut salah seorang dayang. “Yang kami dengar, antara rumput beracun dan gunung pelangi itu melambangkan kisah percintaan pemuda dan seorang gadis desa”

“Ya, tapi bukan kisah cinta itu yang ingin kutahu”. Gui Xian tak berminat dengan kisah cintanya, dia tertarik dengan teks yang baru saja dia baca. Sebuah rumput yang sangat beracun, tapi tak benar-benar mematikan. “Rumput beracun. Apa benar-benar ada di gunung itu?”

“Tabib istana pernah mengerahkan anak buahnya untuk pergi ke hutan di sekitar gunung DanXia untuk mengambil tanaman obat disana. Tiga dari sepuluh anak buahnya tak kembali tepat waktu. Sehari setelahnya mereka pulang dalam keadaan mengenaskan”

“Apa yang terjadi dengan mereka?”

“Kata mereka tak ada penyerangan atau apapun yang menghalangi, tapi tiba-tiba saja mereka merasakan sakit seperti terbakar di sekujur tubuh dan berakhir pingsan”. Sakit yang seperti terbakar? Persis seperti yang diceritakan dalam kitab kunonya.

“Mengenaskan seperti apa maksudmu? Seperti ruam merah dan melempuh?”

“Iya, seperti itu, Tuan putri”

Gui Xian punya rencana. Dia ingin sekali memiliki rumput itu, atau setidaknya dia bisa melihat langsung bentuk tanaman yang diceritakan dalam kitabnya. Kalau Gui Xian bisa mengetahui rahasia racun rumput itu, dia akan jadi orang paling hebat di kerajaan. Dia bisa membantu pertahanan perang di sudut kerajaan bagian barat. Kerajaan barat itu tak pernah mau akur dengan kerajaan-kerajaan lain. Mereka selalu berusaha merebut kekuasaan kerajaan lain, dan ingin berkuasa sendiri. Kalau kerajaannya punya senjata semacam racun yang berbahaya tapi tak mematikan, kerajaan barat itu pasti tak akan mengusik kerajaannya lagi.

“Adakah orang yang pernah melihat langsung tanaman itu?”

“Kita tidak tahu soal itu”

“Panggilkan Qi Fan!”

Seorang dayang mengangguk dan segera menjulurkan kepalanya keluar kereta. Dia mengirim panggilan Gui Xian lewat seorang prajurit yang kemudian disampaikan pada panglima mereka. setelah menerima panggilannya, Qi Fan melambatkan laju kudanya untuk disejajarkan dengan kereta Gui Xian.

“Ada apa?”, tanyanya masih dengan ekspresi datarnya.

“Kita akan melewati gunung DanXia?”, tanya Gui Xian pura-pura khawatir. “Ada legenda kematian di hutan sekitar gunung itu”

Qi Fan memandang mencemooh ke arah Gui Xian. Dia tak meyangka Gui Xian percaya dengan legenda yang kebenarannyapun masih diragukan.

“Kalau kau takut, kita bisa memutari hutan dan gunung itu. Butuh satu hari ekstra untuk sampai di sebelah gunung”

“Aku bukannya takut, aku cuma bertanya. Kalau menerobos hutan adalah jalan tercepat, tidak perlu memutari gunung”. Ralatnya pada persepsi Qi Fan. “Lagi pula aku tidak percaya legenda. Kalaupun banyak orang mati saat melewati hutan di gunung DanXia, mungkin saja mereka dimakan binatang buas”

“Dan kau tak takut dimakan binatang buas?”

“Kan ada kau!”, jawab Gui Xian spontan. “Umpankan Yi Fan pada binatangnya, kau yang bunuh dan aku melihat dari kejauhan”, katanya sambil tersenyum sadis.

“Binatang akan lebih tertarik kalau kau umpannya”, celetuk Qi Fan.

Gui Xian geram dengan panglima kurang ajarnya itu. Dia meraih cerek air disampingnya dan melemparnya ke arah kepala Qi Fan. Qi Fan mengaduh tapi untungnya dia tak sampai terjatuh dari kudanya.

“Rasakan!”, teriak Gui Xian. “Itu akibat kau main-main denganku!”

Beberapa pengawal sempat tersenyum, namun tak berani menunjukkan senyumnya pada panglima. Yi Fan yang berjaga di belakang rombongan kereta saja sampai memandang prihatin pada kakaknya itu.

“Kalau kau memang tak takut binatang buas. Kita akan lewat jalan hutan di gunung DanXia. Kita bisa bermalam di bibir hutan biar tak didatangi binatang buas dan tak perlu mengumpankan adikku”, tuturnnya.

“Bagus kalau kau mengerti maksudku!”

Gui Xian menutup kelambu keretanya dengan kasar. Dia membiarkan perjalanan dipimpin kembali oleh Qi Fan. Yang terpenting setelah ini rombongan mereka akan melewati hutan gunung DanXia. Gui Xian punya kesempatan untuk mencari rumput beracun itu nanti.

“Percepat perjalanan, kita harus sampai di bibir hutan sebelum hari gelap!”, teriak Qi Fan di depan kawanannya.

To be continue

Tidak ada komentar:

Posting Komentar