gbr. copy paste
Poison Ivy
“Kau tidak bisa
membuat pesta penyambutan lebih bagus dari ini?”, tanya Gui Xian pada panglima
yang sekarang berjalan di belakangnya.
Gui Xian
berhenti sejenak memperhatikan panglima yang juga ikut berhenti. Tak mendapati
reaksi dari panglima, Gui Xian mendecih. Dia mengibaskan gaun birunya lalu
kembali berjalan. Yah, selalu seperti itu tanggapan yang didapati Gui Xian dari
pengawal dadakannya.
“Kau lihat
keadaan disini? Perabotan berserakan, hiasan belum terpasang dan semua pelayan mondar
mandir pura-pura sibuk. Mereka bahkan tak sadar aku datang. Mana penyambutan
untukku?”, protesnya pula.
Gui Xian behenti
lagi. Dia memperhatikan pekerja yang sedang memasang tirai baru di ruangan itu.
“Heh, Heh,
Heh!”, teriaknya meminta perhatian. “Apa kalian tidak bisa memilih warna yang
lebih bagus dari itu?”. Pekerja menunda pekerjaan. Seluruh yang ada di ruangan
itu menunduk hormat pada tuan putri mereka. “Kalian, tukar tirai itu dengan
warna biru. Ambil biru transparan dan biru tua!”, perintahnya yang segera diangguki
petugas pemasang tirai. “Apa kalian berdiri disitu? Kembali bekerja!”,
perintahnya pula pada sisa manusia yang masih berdiri menghadapnya.
Ini hari
kedatangan keluarga kerajaan ke istana. Baginda raja, permaisuri, selir dan
seluruh keturunan raja akan berkumpul di istana. Bersama seluruh prajurit
perang, pegawai istana dan rakyat akan melaksanakan pesta setahun sekali.
Purnama bulan ke dua belas, pesta diadakan dimaksudkan untuk mendekatkan
seluruh element di kerajaan ini. Kalau kerajaan berduka, rakyat ikut berduka
dan ketika kerajaan sedang bahagia, rakyat juga harus bahagia. Seperti diadakannya
pesta tahunan ini diharapkan semua orang bahagia.
Tapi tidak
dengan penglima perang kerajaan. Dia akan suka rela memimpin perang atau berpatroli
mengitari perbatasan sampai berbulan-bulan tak pulang dari pada harus berada di
istana saat mendekati hari pesta. Itu dikarenakan dirinyalah yang dipilih raja
untuk menjemput putri dari rumah khususnya. Dia juga yang harus mengawal putri
selama keberadaannya di istana hingga pesta selesai dan putri diantar kembali
ke kediamannya.
Masalahnya
adalah tuan putri yang satu ini melebihi putri-putri raja lainnya. Dia memang
cantik, terpelajar dan sangat berani. Hanya saja wajah cantik dan otak pintarnya
tak sesuai dengan tigkahnya yang menyebalkan. Dia itu suka memerintah orang,
suka mencaci maki dan tak punya sopan santun pada siapapun di kerajaan termasuk
ayah dan ibunya sendiri. Maka dari itu panglima enggan di istana saat akan ada
pesta karena selalu dirinya yang ditugaskan bersama tuan putri. Panglima hanya
tak mau mendengar ocehan putri setiap hari.
“Itu bukan
tugasku”, jawab Qi Fan.
“Cih!”. Putri melangkah
lagi memasuki ruangan penyambutan itu. “Kau itu panglima, punya kuasa untuk
mengatur apapun di kerajaan ini”
Qi Fan memang
panglima, tapi dia panglima perang. Kuasanya adalah mengatur strategi berperang
dan membawa prajurit membuat benteng terkuat untuk kerajaan, bukan untuk
mengatur pesta penyambutan keluarga raja seperti yang diinginkan tuan putri.
“Tuan putri,
selamat datang di istana!”, sapa dua orang dayang yang menyambut kedatangan Gui
Xian.
Dua orang dayang
dan tiga pelayan berjajar sambil membawa nampan-nampan. Mereka membungkuk
sejenak, setelah putri menyahuti sambutan, mereka kembali berdiri tegak.
“Ini perahan
jeruk asli kesukaan Tuan putri”, terang seorang dayang sambil menunjuk nampan
pertama.
“Aku tidak haus,
berikan saja pada Qi Fan!”
“Aku tidak suka
air jeruk!”, tolak Qi Fan sebelum pelayan itu menawarinya.
“Kami juga
membuat kue kesukaan Tuan putri”. Dayang memerintahkan pelayan kedua
menunjukkan kue bawaannya.
“Berikan pada Qi
Fan!”, perintahnya lagi.
“Aku tidak
lapar”, tolak Qi Fan lagi.
“Kau menolak
pemberianku, kau bermaksud menghinaku?”, tanya Qui Xian kasar.
“Tidak. Aku
hanya tak terbiasa dengan makan dan minum seperti itu”, terangnya tanpa takut
kalau dia membantah seorang putri.
“Apa maksudmu
dengan ‘seperti itu’? Air jeruk dan kue ini lebih enak dari makanan manapun.
Lebih enak dari pada daging rusa yang kau makan di hutan dan lebih segar dari
arak yang kau minum setiap malam”
Qi Fan lagi-lagi
tak menanggapi ocehan tuan putri.
Ini tahun ketiga
Qi Fan diperintahkan langsung oleh raja untuk mengawal putrinya. Pengalaman dua
tahun lalu sudah cukup untuk Qi Fan patuh pada Putri raja. Otaknya pernah
terasa mau pecah di tahun pertama dia mengawal putri itu. Mengomel dan mencaci
terus pekerjaannya. Awalnya Qi Fan sebagai panglima kerajaan yang patuh dan
tunduk di bawah raja, menghormati seluruh keluarga raja. Tapi menghormati Gui
Xian ternyata pilihan salah, walau dia seorang putri tapi kelakuannya bagai
diktator. Qi Fan tak sudi lagi mendengar dan melakukan apapun perintah putri.
Tugasnya adalah melindungi putri, bukan untuk menerima perintah dari putri
sendiri.
“Kau suka makan
daging-daging buruan di hutan kan?”, tanya Gui Xian sambil memicingkan matanya
licik. “Pantas badanmu penuh lemak begitu!”, ejek Gui Xian.
Gui Xian cuma
tak ingin menyebut badan besar panglima itu gempal dan kakar.
“Tunjukkan isi
nampan ketiga kalian!”, perintah Gui Xian setelah mengabaikan Qi Fan.
“Buah-buahan”,
jawab seorang dayang.
“Buah-buahan?
Aku suka. Bawa ke kamarku, aku akan memakannya nanti setelah bertemu ayah dan
ibu!”, katanya sambil melanjutkan berjalan. “Oh ya, dimana ayahku?”
“Baginda raja
ada di balai istana. Kami bisa mengantar Tuan putri kesana!”
“Tidak perlu.
Aku bisa kesana sendiri”, tolaknya sambil berjalan angkuh.
Gui Xian
berjalan sampai separo ruang, namun dia berhenti kemudian. Dia berbalik setelah
tak didengarnya langkah lain mengikutinya. Dia melihat panglima berdiri di
tempat sama saat dia berbincang dengan dayang-dayang tadi.
“Qi Fan!”,
panggilnya hingga separoh pekerja di ruangan itu menoleh padanya. “Kau ingat
apa tugasmu?”, tanyanya kasar.
“Kau baru saja
bilang akan menemui ayahmu sendiri”
Gui Xian
mendengus kesal. Dia bilang sendiri, berarti dia tak mau dayang-dayang itu
mengikuti langkahnya. Tapi Qi Fan itu lain, dia adalah pelindungnya yang
berarti kemanapun Gui Xian pergi, Qi Fan harus turut serta.
“Kau juga
termasuk!”, bentak sang putri. “Kau ditugaskan melindungiku, jadi ikuti
kemanapun aku pergi. Itu perintah!”. Qi Fan mengangkat bahu. “Cepat ikuti
aku!”, perintah Gui Xian yang langsung dituruti panglima.
Panglima mau
cari aman. Dia ikuti kata tuan putri bukan berarti dia takut, dia hanya tak
ingin mendengar tuan putri itu mengomelinya lebih lanjut.
*******
Tuan putri dan
panglima telah bergabung di balai istana. Setelah berbasa basi menyambut
putrinya, raja memberikan tugas pada panglima. Tugasnya adalah pergi ke
perbatasan untuk menjemput tamu undangan dari kerajaan sebelah. Tamu undangan
itu melibatkan pangeran kerajaan juga, dia mewakili ayahnya yang kesehatannya
sedang tidak stabil akhir-akhir ini. Walau mereka sudah jelas membawa pengawal
sendiri, dari sini harus tetap mengirimkan pengawal jemputan agar mereka merasa
aman di negeri ini.
“Gui Xian!”,
panggil sang Raja.
“Apa?”, jawabnya
tak sopan.
“Istirahatlah,
menjelang sore kalian bisa berangkat”. Gui Xian mengernyitkan dahi mendengar
penuturan ayahnya. “Kenapa?”
“Kenapa apanya?
Harusnya aku yang bertanya. Apa maksud Ayah bilang ‘kalian bisa berangkat’?
Jangan bilang kau suruh aku ikut Qi Fan menjemput tamu-tamumu itu”
“Kalau bukan kau,
siapa lagi? Kau putri tertua disini, jadi kau yang lebih pantas memberi sambutan
untuk pangeran You Tian”
“Mereka tamumu,
kenapa tak kau jemput sendiri?”, celetuk Gui Xian. “Lagi pula perjalanan dari
sini ke perbatasan itu butuh lebih dari dua hari. Kalau ada yang menculikku,
bagaimana?”, tanyanya sambil mendecih tanda tak setuju pada ayahnya.
Hal seperti itu
sudah dipikirkan oleh raja. Selama ini Gui Xian tinggal terpisah dari kerajaan.
Tak pernah terjadi apapun pada Gui Xian walau penjagaan di kediamannya tak
seketat di istana. Gui Xian sering bepergian sendirian dan tak ada seorangpun
berani berlaku jahat padanya. Mungkin itu memang karena perilaku galak Gui Xian
yang membuatnya ditakuti orang. Kalaupun ada penjahat yang akan menculiknya,
bukankah ada Qi Fan yang ikut dalam rombongan menjemput pangeran dari kerajaan
tetangga itu.
“Dua hari tiga
malam. Tidak sampai seminggu dan kalian sudah akan berada disini lagi”, kata
sang Raja membetulkan. “Kau tahu disini sangat sibuk, aku atau ibumu tak
mungkin meninggalkan tempat sebelum persiapan pesta ini selesai”
“Kau sudah
mengirim Qi Fan, kurasa dia mampu melakukan tugasnya tanpa aku harus ikut”
“Akan lebih
sopan kalau aku mengirim salah seorang keluarga kerajaan”, dalih sang Raja.
“Kalau begitu
kirim mereka!”. Gui Xian menunjuk ke arah adik-adiknya. Tiga anak selir itu
menunduk dan mengkerut takut. “Heh, jangan pura-pura kalian!”, bentak Gui Xian.
“Ayah, kau tahu
kalau aku tak mungkin bertahan di dunia luar istana yang kejam itu”, tutur Bai
Xian mendramatisir.
Bai Xian
menunduk lagi. Dia takut, pura-pura takut lebih tepatnya. Bai Xian itu putri
termanja di keluarga raja. Anak dari selir kedua yang ibunya mati sedari dia
lahir. Bai Xian adalah putri termuda, ratu-lah yang merawatnya sejak kecil.
Ralat, ratu yang jadi ibunya tapi dayang-dayang yang merawatnya. Bai Xian kalau
sudah masuk istana dia tak akan pernah menginjakkan kaki keluar istana. Begitu
juga kalau dia sudah masuk ke kediaman pribadinya, dia juga tak sudi keluar.
Dia tak suka kotor, dia tak suka melakukan pekerjaan walau sekecil apapun. Bai
Xian itu seorang putri dan menurutnya putri diciptakan untuk memerintah
dayang-dayang.
Bai Xian juga
masih terikat kisah buruk dengan Piao bersaudara itu. Kunjungan dua tahun yang
lalu kerajaan dari timur juga datang ke pesta yang sama. Waktu itu raja Piao
masih dalam keadaan sehat. Raja Piao datang dengan kedua putranya, Pangeran You
Tian dan Pangeran Can Lie. Kisah buruk Bai Xian diawali dari permintaan Raja
Piao yang akan menjodohkan putranya dengan salah satu putri disini. Karena pada
waktu itu cuma ada Bai Xian yang hadir di jamuan makan malam, Bai Xian-lah yang
diinginkan Raja Piao jadi menantunya. Bai Xian iya-iya saja karena menurut
penglihatannya, pangeran You Tian itu calon suami yang sempurna baginya.
Pangeran You Tian punya talenta berlimpah, mulai dari ketampanan, kecerdasan,
kekuatan hingga kesopanan. Akan sangat cocok kalau seorang pangeran hebat
seperti You Tian menikah dengan putri cantik seperti Bai Xian. Namun
persepsinya mengenai You Tian yang hebat itu lenyap ketika pangeran itu
mengajukan adiknya sebagai pengganti. Bai Xian dikira apa sampai harus ditolak
dan ditukar dengan pangeran lain? Can Lie itu tak ada apa-apanya untuk Bai
Xian. Kalau You Tian tak mau dengannya, tidak juga dengan Can Lie. Bai Xian tak
sudi dipersunting Can Lie walau pangeran itu memohon mohon padanya sekalipun.
Putri dari selir
pertama raja mengangkat wajahnya. Dia tersenyum anggun pada seluruh orang yang
ada di balai itu termasuk pada Gui Xian. Senyum anggunnya itu sebenarnya juga
pura-pura.
“Sebenarnya aku
bersedia, tapi dengan keadaan ragaku yang lemah seperti ini aku takut merepotkan
panglima dalam perjalanan”, kata Yi Xing berlagak menyesal.
Yi Xing memang
sakit-sakitan. Dayang-dayang yang merawatnya dari kecil dan Ratu juga yang jadi
ibunya. Sementara ibu kandung Yi Xing meninggalkannya setelah dia lahir. Tak
ada yang tahu kenapa Yi Xing ditinggalkan ibu kandungnya, sampai sekarangpun
tak ada yang tahu juga kemana perginya selir itu. Yi Xing sedih kalau
mengingatnya, tapi bukan itu yang membuat Yi Xing sakit-sakitan. Awalnya Yi
Xing adalah gadis yang enejik, tapi semenjak cintanya bertepuk sebelah tangan
dengan salah satu anak saudagar Jin, dia mulai sakit. Sakit jiwanya yang
berpengaruh terhadap raganya.
“Alasan!”,
celetuk Gui Xian sambil mendengus keras.
“Mungkin Xiu Min
bisa menggantikanmu”, usul Yi Xing.
Xiu Min terkejut
sejenak. Sempat melirik kanan kiri, namun akhirnya memutuskan tersenyum walau
tak seanggun senyum Yi Xing.
“Aku ada
kencan”, jawabnya spontan.
“Kencan dengan
siapa? Kau tak punya kekasih. Kau ditolak berulang kali oleh Yi Fan, kalau kau
lupa!”, tegas Gui Xian.
“Kali ini dia
tak akan menolakku!”, katanya mantap. Tapi dalam hatinya tak semantap
perkataannya.
Xiu Min sendiri
heran, dia juga seorang putri walau anak dari selir ketiga. Dia menganggap Ratu
adalah ibunya karena ibu kandungnya memilih menikah dengan rakyat biasa dan
pindah ke negeri seberang. Dia merasa cantik, sopan dan berkepribadian baik,
jauh lebih baik dari Gui Xian. Dia juga punya derajat sama tinggi dengan
saudara-saudaranya yang lain, tapi kenapa? Kenapa Yi Fan, adik kandung dari
panglima Qi Fan itu terus menolaknya? Apa yang salah dengannya?
“Panglima tahu
kalau aku dan adiknya akan berkencan dalam waktu dekat ini”, tuturnya sambil
tersenyum sinis kearah kakaknya.
“Sudahlah, kau
saja yang pergi!”, kata Raja memutus perdebatan anak-anaknya. “Ini usul dari
ibumu, jangan biarkan dia mendengarmu menolak perintahnya!”, kata Raja yang
dianggukki tiga putri lainnya.
Siapa yang tidak
tahu kuasa ratu di negeri ini? Orang paling berwibawa, orang paling hebat dan
nomor satu di kerajaan ini adalah Raja Han, tapi siapa sangka Raja Han menurut
sekali dengan ratunya. Raja bukannya takut istri, justru karena dia amat
mencintai ratunya dia tak kuasa menolak apapun yang dikatakan istrinya itu.
Demikian juga anak-anaknya, serta seluruh pekerja istana, patuh terhadap
perintah ratu. Gui Xian sendiri tak takut ibunya, dia hanya tak ingin
menghabiskan tenaga untuk berdebat dengan wanita yang menurunkan segala sifat
padanya itu.
“Kau boleh bawa
siapapun untuk menemani perjalananmu”
“Iya, tapi
jangan bawa kami”, kata Bai Xian sambil mengikir kuku-kukunya yang akan dicat
ulang.
“Baiklah-baiklah”,
putus Gui Xian sambil pura-pura pasrah. “Aku harus menjemput rombongan pangeran
You Tian? Pangeran hebat dari negara timur itu, kan? Bukankah adiknya adalah mantan
calon tunangan Bai Xian”, celetuk Gui Xian menimbulkan kerut benci dari wajah
adiknya. “Jangan-jangan kau menolak ikut karena takut Can Lie akan datang juga
ya?”
“Tidak!”, tegas
Bai Xian, tapi sebenarnya itu juga salah satu alasannya tak ingin pergi ke
perbatasan.
“Kudengar
kerajaan dari timur itu punya panglima perang yang tangguh. Siapa tahu dia ikut
dalam rombongan kemari. Aku perlu bertemu dengannya untuk kubandingkan seberapa
tangguh Qi Fan dengannya”. Seketika Qi Fan melirik pada Gui Xian. Merasa
dirinya diremehkan saat ini, dia hendak protes. “Kalau kau takut kalah tangguh
darinya, kau boleh bawa Yi Fan untuk membantumu”
“Yah, tidak
boleh!”, proes Xiu Min mendahului Qi Fan. “Yi Fan ada janji kencan denganku!”
“Kau bisa ikut
denganku juga agar bisa berkencan dengan Yi Fan di jalan”, kata Gui Xian
seenaknya.
Gui Xian selalu
menang kalau sudah berdebat dengan saudaranya. Bukan cuma karena dia anak
tertua tapi karena sifat tak pernah mau kalah itu diturunkan langsung dari ratu
pada Gui xian.
“Kalau ada yang
mau ikut aku, tidak perlu meminja ijinku. Langsung saja bersiap dan berangkat
nanti sore bersamaku”, kata Gui Xian sambil melenggang pergi tanpa pamit.
“Qi Fan, aku
titip Gui Xian padamu”, Qi Fan mengangguk sekali. “Soal panglima perang tangguh
itu, bagiku kaulah yang paling tangguh”
“Terima kasih,
Yang mulia”
“Panglima,
usahakan jangan mau diakrabi kakak agar kau bisa pulang dalam keadaan baik”,
tutur Bai Xian.
“Ya, dan aku
lebih meyayangkan kalau kau terluka dari pada dia”, tambah Yi Xing.
“Kalau ada
penyerangan terhadap rombongan kalian, selamatkan nyawamu terlebih dahulu”,
tambah putri tertua dari ketiganya, Xiu Min.
“Kalian ini
bersaudara”, tegur raja menyayangkan tindakan anak-anaknya yang susah sekali
akur. “Jangan dengarkan mereka, kau boleh pergi sekarang!”
Setelah
kepergian panglima, raja memandangi ketiga putrinya. Dia juga membayangkan
putri pertamanya. Prihatin dengan keempatnya, bisa bisanya mereka tidak akur
satu sama lain. Mereka dibesarkan bersama-sama dan begini jadinya. Meski mereka
tak benar-benar bertengkar, tapi mereka juga tak pernah akur kalau sudah
bersama. Yang jadi kesamaan adalah status mereka yang masih sendiri sampai
sekarang. Putri-putrinya itu kapan akan dapat jodoh? Sudah seharusnya raja
menimang cucu, tapi tak satupun dari putrinya dilirik lelaki. Raja semakin
menua tapi calon penerus saja belum ada.
*******
"Heh, siapa
namamu tadi?”
“Xiao Lian”,
jawab dayang yang barusan ditanya Gui Xian.
“Xiao Lian,
panggilkan Qi Fan kemari!”
“Baik, Tuan
putri”
Sebenarnya ada
peraturan yang melarang lelaki selain raja memasuki kamar putri-putri kerajaan.
Namun peraturan tersebut tak berlaku untuk Gui Xian. Kalau dia mau, siapapun
bisa dibawanya masuk ke kamarnya. Lagi pula siapa yang berani berniat jahat
pada seorang putri, terlebih itu Putri Gui Xian? Melihat Gui Xian saja sudah
membuat banyak orang enggan berlama lama dengannya, apa lagi kalau lidah
tajamnya sudah mulai beraksi.
Xiao Lian pergi
dengan cepat dan kembali cepat pula bersama panglima Qi Fan.
“Tuan putri,
panglima sudah datang”, kata Xiao Lian menghadap Gui Xian.
Gui Xian
mengalihkan pandang pada Qi Fan. Dia menatap panglima itu dengan mata sipitnya
kemudian mendecih keji. Gui Xian tak habis pikir, bagaimana bisa panglima yang
ditugaskan melindunginya itu tak pernah menaruh hormat padanya. Bahkan sekarang
saat si panglima sudah berada di hadapannya, sedikitpun salam perhormatan tak
diucapkannya untuk Gui Xian. Padahal kalau dilihat selama ini, Qi Fan sangat
hormat pada ayah dan ibunya.
“Panglima datang
menghadap!”, kata Gui Xian. “Seharusnya kau mengatakan itu. Mana penghormatanmu
padaku?”, katanya kasar pada Qi Fan.
“Panglima datang
menghadap”, kata Qi Fan menirukan perkataan Gui Xian.
“Terlambat!”,
bentaknya. “Seharusnya kau katakan dari tadi!”
Gui Xian
menghampiri Qi Fan. Dia menyilangkan kedua tangannya sambil menyipit menyelidik
kearah Qi Fan.
“Kau harus
hormat padaku seperti kau menghormati raja dan ratu”, perintahnya. “Tentunya
kau masih ingat kalau aku anak mereka. Posisiku jauh lebih tinggi dari padamu,
jadi mulailah belajar sopan padaku”
“Akan kucoba!”,
jawab Qi Fan datar.
“Aku tidak
bermaksud mengungkit masa lalumu, kau dan Yi Fan sudah jadi yatim piatu sejak
kecil. Aku cuma penasaran seperti apa orang tuamu hingga punya dua anak sama
dinginnya seperti kalian?”, kata Gui Xian sambil menggeleng-geleng prihatin.
Semua orang juga
tahu sifat kakak beradik Qi Fan dan Yi Fan. Dua lelaki yang diambil dari sebuah
desa kecil lalu dibesarkan oleh penasehat raja. Kebakaran hebat yang melanda
sebuah desa kecil menyisakan sedikit orang yang salah duanya Qi Fan dan Yi Fan.
Ketika utusan raja datang memberi bantuan pada desa tersebut, penasehat ikut
serta dan melihat kakak beradik itu duduk diam sambil memandangi gubuk mereka
yang terbakar. Mereka tidak menangis saat kehilagan rumah bahkan orang tua
mereka juga, tapi bukan berarti mereka tidak sedih. Sejak saat itu orang
menyebut kejadian kebakaran yang merenggut nyawa kedua orang tualah yang
menjadikan mereka dingin, irit bicara dan susah akrab dengan orang asing. Namun
Gui Xian belum yakin dengan hal ini, dia befikir mungkin keduanya memang terlahir
dengan sifat seperti itu.
“Kalian berdua,
ikuti aku!”, perintahnya berjalan lebih dulu.
Gui Xian membawa
Qi Fan dan Xiao Lian ke ruang lain di dalam kamar itu. Disana ada beberapa
dayang yang sedang berkutat dengan barang-barang Gui Xian.
“Bagaimana?
Sudah selesai?”
“Sudah, Tuan
putri”, jawab seorang dayang setelah memberi jalan pada Gui Xian untuk mengecek
barang-barangnya.
“Qi Fan, ini
barang yang aku butuhkan dalam perjalanan nanti!”, tunjukknya pada lima kotak
barang yang telah disiapkan para dayang.
“Kereta tidak
mungkin bisa memuat semua barangmu”. Mereka bepergian tidak sampai seminggu
sedangkan barang bawaan Gui Xian bisa dipakai untuk sebulan. “Bawa barang yang
penting saja!”
“Semua barangku
penting”
“Tapi tidak
semua harus kau bawa”
“Aku tidak bawa
semua”, kata Gui Xian tak mau kalah. “Kau bisa membawa kereta tambahan untuk
mengangkut barangku. Dan ingat, aku tak akan pergi kalau barang-barangku tak
terangkut semua”
Gui Xian bukan
tipe perempuan yang suka ngambek, dia lebih suka mengancam agar semua yang
diinginkannya dituruti. Dia perempuan yang mandiri, mandiri dengan caranya
sendiri. Termasuk dengan memerintah, mengancam dan memarahi siapapun kalau apa
yang diinginkannya tak sesuai.
“Kita bukan akan
mengadakan perjalanan ke luar wilayah kerajaan. Jadi kusarankan kau membawa
barang sekucupnya saja”
“Ini juga
secukupnya. Aku tak bawa semua pakaianku, tak bawa perhiasan sama sekali dan
tak bawa brang-barang yang merepotkan”. Lima kotak dia bilang secukupnya? Qi
Fan menggeleng tanda tak setuju. “Kalau kau tak setuju membawanya, berarti kau
tak setuju aku berada di rombongan”
Titahnya raja
adalah mengawal Gui Xian menyambut tamu kerajaan. Kalau Gui Xian tak ikut, Qi
Fan akan bilang apa kalau raja tanya soal itu? Qi Fan harus mengalah lagi kali
ini. Demi raja yang dihormatinya, dia akan lakukan apapun.
“Aku akan
menyiapkan kereta tambahan. Dan akan kuutus beberapa penjaga untuk mengangkatnya”
“Aku memanggilmu
kemari agar kau yang mengangkat barang-barangku, jangan lempar tanggung jawab
pada orang lain”, tegur Gui Xian. “Lagi pula tak akan kuijinkan siapapun
menyentuh barang-barangku”
“Baiklah, aku
akan memerintahkan seseorang untuk menyiapkan kereta. Aku sendiri yang akan
menganggkat barang-barang ini nanti”, tegas Qi Fan dengan ekspresi sedikit
kesal.
“Begitu lebih
bagus, tapi kau harus cepat karena aku tak mau menunggu lama-lama disini”
*******
“Yang mulia
Ratu”, sapa Qi Fan hampir bersamaan dengan Yi Fan.
“Aku perlu
bicara sedikit dengan kalian berdua”. Qi Fan dan Yi Fan mengangguk bersamaan.
Ratu mengajak
kedua kakak beradik itu sedikit menyingkir dari beberapa orang yang sedang
berbenah. Mereka mengambil tempat di sebelah kereta-kereta untuk berbincang
sejenak.
“Kalian masih
ingat dua tahun lalu Raja Piao meminta kami berbesan? Kalian juga pasti ingat
kalau Bai Xian menolak salah satu putranya”
Semua orang
pasti ingat kejadian itu. Bai Xian ditolak You Tian kemudian dilemparkan pada
adiknya, namun Bai Xian menolak Can Lie. Setelah kejadian itu ada kecanggungan
antara Raja Han dan Raja Piao. Untuk mengatasi masalah itu, kedua kerajaan,
lebih tepatnya atas usulan ratu mereka mencoba mempertemukan Gui Xian dengan
You Tian. Gui Xian punya sifat yang keras, tapi You Tian sebaliknya, siapa tahu
dengan pertemuan secara langsung mereka ternyata berjodoh.
“Aku mau Gui
Xian dan You Tian mengenal satu sama lain lebih dari perkenalan selama ini.
Siapa tahu mereka jodoh, kan!”, kata Ratu sambil menepok lengan Qi Fan. “Dan
tugas kalian selain menjaga dan melindungi putriku, kalian juga harus berusaha
mendekatkan mereka”
Qi Fan dan Yi
Fan memperlihatkan ekspresi andalannya, datar. Ratu tak tahu mereka itu paham perintah
darinya atau tidak. Ratu menginginkan punya panglima-panglima kerajaan yang
bersahabat dan murah senyum, tapi sekalipun tak pernah dia melihat keduanya
tersenyum. Untuk sementara tak masalah, toh kalau panglima perang suka terseyum
dalam medan perang, tak akan ada musuh yang menakutinya nanti.
“Mengangguklah
kalau kalian paham!”. Keduanya mengangguk bersamaan. “Bagus. Jangan sampai Gui
Xian tahu”. Keduanya kembali mengangguk. “Ya sudah, hati-hati di jalan”,
tuturnya sambil menepuk pundak-pundak panglimanya kemudian terkekeh licik
sambil melangkah pergi.
Iya, hal seperti
itu harus dirahasiakan dari Gui Xian. Kalau sampai dia tahu kemudian tak mau
berdekatan dengan You Tian atau lelaki manapun di dunia ini, lalu kapan raja
dan ratu akan punya menantu?
“Sepertinya
tugas itu lebih sulit dari pada berperang di pedalaman hutan”, celetuk Yi Fan.
“Kupikir juga
begitu”
“Dan kenapa kau
harus mengajakku?”, sesal Yi Fan. “Kau tahu Gui Xian itu adalah orang kedua
setelah Ratu yang tak ingin kudekati”
“Kau pikir aku
suka berdekatan dengannya? Kalau bukan Raja yang meminta, aku tak akan sudi”
“Tapi kenapa kau
harus mengikutkanku dalam rombongan ini juga? Bukankah aku akan lebih berguna
kalau tetap di istana?” Yi Fan belum rela dirinya diikutkan jadi serombongan
dengan Gui Xian.
“Bukan aku,
Putri Gui Xian itu yang meminta. Lagi pula kalau kau ikut, kau terhindar dari
Putri Xiu Min”
Kali ini Yi Fan
setuju. Xiu Min masuk dalam daftar nomor tiga orang yang tak ingin didekatinya.
Putri satu itu terus saja mengejarnya dan memintanya secara terang-terangan
untuk jadi kekasihnya. Selain Xiu Min itu seorang putri dan Yi Fan prajurit
biasa yang punya derajat berbeda, Yi Fan juga tak ada rasa dengan putri satu
itu. Jelas kalau dia merasa risih dikejar Xiu Min terus-terusan.
“Setidaknya
nasibmu bisa lebih baik dariku”. Yi Fan menepuk pundak kakaknya prihatin.
“Nasibku buruk tiga tahun terakhir ini”
“Aku tahu kau
bisa melewati tahun ini sama seperti dua tahun sebelumnya. Setelah dia mendapat
pasangan, kupikir kau akan terbebas dari tugas-tugas penjagaan itu”
“Semoga saja!”
Qi Fan, Yi Fan dan
hampir seluruh penghuni kerajaan menganggap Gui Xian sebagai musibah. Dia putri
yang kuasanya ingin melebihi raja.
“Terbebas dari
apa?”, tanya sebuah suara di belakang mereka. Suara yang sangat familiar dengan
nada-nada keras. “Kutanya kalian terbebasa dari apa?”, tanyanya lagi setelah
kakak beradik itu mengambil fokus padanya.
“Tidak ada”,
jawab Qi Fan.
“Awas kalau
kalian sampai merencanakan sesuatu di belakangku!”, ancam Gui Xian sambil
menuding keduanya.
“Tidak”
“Karena ketahuan
denganku kalian bilang tidak”, bentak Gui Xian. “Kuperingatkan, jangan
coba-coba berulah di belakangku!”, perintahnya pula. “Persiapan sudah selesai,
cepat berangkat!”
Qi Fan dan Yi
Fan bergegas meninggalkan Gui Xian. Mereka membiarkan Gui Xian mengekor menuju
kereta-kereta yang akan mengantarnya ke perbatasan.
*******
Setelah proses
pelepasan oleh Raja dan Ratu, rombongan Gui Xian berangkat meninggalkan istana.
Gui Xian ditemani dua orang dayang berada di satu kereta. Kereta satu lagi
diisi dengan barang-barang bawaan Gui Xian. Qi Fan, Yi Fan dan dan beberapa
prajurit naik kuda. Mereka berjajar di depan dan belakang kereta untuk
memastikan kereta Gui Xian aman dari ancaman bahaya.
Gui Xian sedang
membaca sebuah kitab kuno dalam keretanya. Seorang dayang memijat kakinya dan
seorang lagi berkutat dengan pekerjaan lainnya.
“Kalian pernah
dengar legenda rumput beracun di gunung DanXia”
“Gunung pelangi
itu?”, sahut salah seorang dayang. “Yang kami dengar, antara rumput beracun dan
gunung pelangi itu melambangkan kisah percintaan pemuda dan seorang gadis desa”
“Ya, tapi bukan
kisah cinta itu yang ingin kutahu”. Gui Xian tak berminat dengan kisah
cintanya, dia tertarik dengan teks yang baru saja dia baca. Sebuah rumput yang
sangat beracun, tapi tak benar-benar mematikan. “Rumput beracun. Apa
benar-benar ada di gunung itu?”
“Tabib istana
pernah mengerahkan anak buahnya untuk pergi ke hutan di sekitar gunung DanXia
untuk mengambil tanaman obat disana. Tiga dari sepuluh anak buahnya tak kembali
tepat waktu. Sehari setelahnya mereka pulang dalam keadaan mengenaskan”
“Apa yang
terjadi dengan mereka?”
“Kata mereka tak
ada penyerangan atau apapun yang menghalangi, tapi tiba-tiba saja mereka
merasakan sakit seperti terbakar di sekujur tubuh dan berakhir pingsan”. Sakit
yang seperti terbakar? Persis seperti yang diceritakan dalam kitab kunonya.
“Mengenaskan
seperti apa maksudmu? Seperti ruam merah dan melempuh?”
“Iya, seperti
itu, Tuan putri”
Gui Xian punya
rencana. Dia ingin sekali memiliki rumput itu, atau setidaknya dia bisa melihat
langsung bentuk tanaman yang diceritakan dalam kitabnya. Kalau Gui Xian bisa
mengetahui rahasia racun rumput itu, dia akan jadi orang paling hebat di
kerajaan. Dia bisa membantu pertahanan perang di sudut kerajaan bagian barat.
Kerajaan barat itu tak pernah mau akur dengan kerajaan-kerajaan lain. Mereka
selalu berusaha merebut kekuasaan kerajaan lain, dan ingin berkuasa sendiri.
Kalau kerajaannya punya senjata semacam racun yang berbahaya tapi tak
mematikan, kerajaan barat itu pasti tak akan mengusik kerajaannya lagi.
“Adakah orang
yang pernah melihat langsung tanaman itu?”
“Kita tidak tahu
soal itu”
“Panggilkan Qi
Fan!”
Seorang dayang
mengangguk dan segera menjulurkan kepalanya keluar kereta. Dia mengirim
panggilan Gui Xian lewat seorang prajurit yang kemudian disampaikan pada
panglima mereka. setelah menerima panggilannya, Qi Fan melambatkan laju kudanya
untuk disejajarkan dengan kereta Gui Xian.
“Ada apa?”,
tanyanya masih dengan ekspresi datarnya.
“Kita akan
melewati gunung DanXia?”, tanya Gui Xian pura-pura khawatir. “Ada legenda
kematian di hutan sekitar gunung itu”
Qi Fan memandang
mencemooh ke arah Gui Xian. Dia tak meyangka Gui Xian percaya dengan legenda
yang kebenarannyapun masih diragukan.
“Kalau kau
takut, kita bisa memutari hutan dan gunung itu. Butuh satu hari ekstra untuk
sampai di sebelah gunung”
“Aku bukannya
takut, aku cuma bertanya. Kalau menerobos hutan adalah jalan tercepat, tidak
perlu memutari gunung”. Ralatnya pada persepsi Qi Fan. “Lagi pula aku tidak
percaya legenda. Kalaupun banyak orang mati saat melewati hutan di gunung
DanXia, mungkin saja mereka dimakan binatang buas”
“Dan kau tak
takut dimakan binatang buas?”
“Kan ada kau!”,
jawab Gui Xian spontan. “Umpankan Yi Fan pada binatangnya, kau yang bunuh dan
aku melihat dari kejauhan”, katanya sambil tersenyum sadis.
“Binatang akan
lebih tertarik kalau kau umpannya”, celetuk Qi Fan.
Gui Xian geram
dengan panglima kurang ajarnya itu. Dia meraih cerek air disampingnya dan
melemparnya ke arah kepala Qi Fan. Qi Fan mengaduh tapi untungnya dia tak
sampai terjatuh dari kudanya.
“Rasakan!”,
teriak Gui Xian. “Itu akibat kau main-main denganku!”
Beberapa
pengawal sempat tersenyum, namun tak berani menunjukkan senyumnya pada
panglima. Yi Fan yang berjaga di belakang rombongan kereta saja sampai
memandang prihatin pada kakaknya itu.
“Kalau kau
memang tak takut binatang buas. Kita akan lewat jalan hutan di gunung DanXia.
Kita bisa bermalam di bibir hutan biar tak didatangi binatang buas dan tak
perlu mengumpankan adikku”, tuturnnya.
“Bagus kalau kau
mengerti maksudku!”
Gui Xian menutup
kelambu keretanya dengan kasar. Dia membiarkan perjalanan dipimpin kembali oleh
Qi Fan. Yang terpenting setelah ini rombongan mereka akan melewati hutan gunung
DanXia. Gui Xian punya kesempatan untuk mencari rumput beracun itu nanti.
“Percepat
perjalanan, kita harus sampai di bibir hutan sebelum hari gelap!”, teriak Qi
Fan di depan kawanannya.
To be continue

Tidak ada komentar:
Posting Komentar