Yang
Terakhir Kupilih
Suasana pagi ini terlihat damai. Udara yang masuk paru-paruku tak membuat
sesak dan hiruk pikuk suasana kampus tak begitu bising ditelinga. Ada yang
menyapa dan kusapa sepanjang perjalananku. Setiap hari aku berjalan menyusuri koridor
ini dan sekarang kulakukan lagi setelah hampir tiga bulan tak melewatinya. Tak
pelan aku berjalan, tak cepat juga seakan ingin segera sampai ditujuan.
Perpustakaan inilah satu-satunya tempat paling indah diantara ruang-ruang lain
dikampus. Disini aku bisaa menambah ilmu, sekedar numpang duduk, melepas lelah,
menenangkan diri bahkan juga bisa numpang tidur. Dan disinilah aku sekarang.
Perpustakan sedang sepi,
bukan cuma aku dan beberapa orang saja yang berniat kesini, tapi tempat ini
baru dibuka, biasanya tengah hari atau sore aku duduk diantara ribuan buku,
disini, tapi kali ini
matahari baru mengintip aku sudah di perpustakaan. Rekor yang mengejutkan untuk
mahasiswa yang tak ada jadwal kuliah. Kususuri jajaran rak dan kupilih buku
yang bisa membantuku mengisi ketertinggalan pelajaran yang kulewatkan karena
kurang konsentrasi. Setelah kutemukan baru aku mencari tempat duduk kosong.
Disekitar situ kulihat Felix menekuni bukunya. Sepertinya dia sudah lama duduk disitu. Mungkin dia datang tepat saat pintu
perpustakaan dibuka atau jangan-jangan itulah pekerjaannya setelah tiga bulan
tak kulihat dia.
“Pagi,” sapaku membuatnya terkejut “Sorry
mengganggu.” Felix
menghela napas seolah menyayangkan
kedatanganku
“Pagi-pagi ngapain disini?” tanyanya.
“Seharusnya aku yang tanya, ngapain kamu disini?” Dia menyadari perbuatan
ganjilnya. “Kamu kemana
tiga bulan ini? Di kampus susah ketemu, ditelepon nggak diangkat, di-SMS nggak dibalas, aku telepon kerumah
kamu nggak pernah ada. Sebenarnya selama ini kamu kemana?”
Felix masih tekun dengan bukunya tanpa
terpengaruh pertanyaanku
“Kamu nggak kerumah lagi, Mama nanyain kamu tu.”
“Besok aja,” jawabnya tak merubah posisi.
“Kamu masih anggep aku pacar kan?” Walaupun pertanyaanku bodoh, tapi bisa mengalihkan
perhatian Felix. Dia melihatku meskipun dengan pandangan bosan dan menyerah.
“Menurutmu?” Dia tidak telihat marah itu pertanda baik
“Tiga bulan kamu
nggak ngomong apa-apa sama aku. Nggak pernah nemuin aku. Kabar kamu aja aku
nggak tahu.”
Entah rasanya menyenangkan menanyakan tanggung jawab Felix. Perlu tahu
kalau biasanya aku merasa sebal, bosan dan marah saat semuanya bersangkutan
dengan Felix, kali ini beda. Aku bertanya dengan nada khawatir dan rasa kosong yang entah dimana tepatnya.
Sebenarnya ini tanda tanya besar, tapi apa mungkin karena tiga bulan
pandanganku terhadap Felix berbeda?
“Aku baik-baik saja.”
“Nggak cukup dengan baik-baik. Kamu harus tunjukin kalau kamu masih
seperti biasanya.”
“Mau kamu apa sih?”
Kenapa dia selalu membuatku kesal? Cukup dengan membawa pikiranku dia bisa
tahu semuanya
“Sekarang kemampuan mistik kamu sudah hilang? Sudah tidak bisa membaca
pikiran orang lagi? Sudah tidak
buat masalah lagi?” tanyaku sedikit kunaikkan nadanya.
“Bisa pelan sedikit, perpustakaan nih,” sarannya setelah melihat sekeliling ada yang merasa
terganggu “Aku butuh berpikir soal kebebasanmu,” lanjutnya
“Kebebasanku?”
“Sorry aku ada kelas.” Felix lalu pergi tanpa penjelasan.
Di perpustakaan
aku tak bisa belajar dengan tenang. Ilmu yang kubaca tak menempel di otakku. Ingin
ngobrol tapi tak ada yang diajak bicara. Tidak mungkin aku mengganggu orang lain yang sedang asyik membaca. Tidak
mungkin pula aku mengobrol dengan buku di hadapanku. Dan inilah guna perpustakaan
lainnya, untuk numpang tidur.
Sekarang aku melamun dikantin setelah hampir dua jam tidur di perpustakaan.
Menyenangkan tidur disana, tapi lebih menyenangkan lagi makan mie ayam di kantin dan
minum jus jeruk.
“Pagi Nas!” Sapa Midha mengalihkan perhatianku
“Setia kawan banget, nggak ada kuliah tetep kekampus buat nemuin kita”
“Kata siapa aku nemuin kalian?” sangkalku setelah Vivi dan Midha duduk
“Mukamu kucel gitu?” tanya Vivi yang selalu khawatir.
“Habis tidur di perpus.”
“Kasurmu sekarang pindah di perpus?” Midha bercanda tapi tak lucu bagiku.
“Jadi ngapain di kampus, nggak cuma numpang tidur kan?”
“Ya nggak lah Vi. Sebenarnya aku mau belajar di perpus, tapi ya gitu deh.”
“Ngantuk?” Tebak Vivi “Sejak kapan kamu jadi ngantuk saat lihat buku.”
“Kamu sendiri juga sering nggak
sadar kalau berhadapan dengan buku.”
“Masalah Anas beda sama aku, Vi. Dia cinta buku dari dulu, tapi aku cinta
buku kalau ada tugas. Jadi kalau dia berseteru dengan cintanya, berarti dia
mulai tertular virus males.” Midha membela diri.
“Aku memang cinta buku tapi bukan buku pelajaran. Aku juga cinta perpustakaan”
“Buat numpang tidur?” Aku tersenyum menanggapi Midha.
Kantin sedang ramai dan memang beginilah keadaannya setiap hari. Tak
pernah senggang akan manusia-manusia lapar seperti kami. Vivi dan Midha jelas
lapar setelah benar-benar lahap saat makan. Hari masih setengah siang, belum
waktunya makan siang serta lewat acara sarapan. Jadi disebut apa makan setengah
siang begini? Terus terang, cara makan mereka dua kali lebih cepat dari
biasanya. Mungkin nafsu makan mereka hadir setelah lebih dari dua jam duduk di dalam kelas.
Dan makan adalah balas dendam mereka.
“Mangkuknya aja sekalian dimakan,” komentarku
“Benar-benar menguras tenaga belajar matematikaku itu.”
“Apalagi akutansi,” sahut Vivi
“Aku duduk dari tadi disini makan nggak habis juga.”
“Kerjamu hari ini cuma tidur, gimana bisa nguras tenaga?”
“Nggak juga, aku banyak melakukan kegiatan hari ini.”
“Apa? Jadi supir angkot atau kuli
bangunan?”
“Dua-duanya,” jawabku sambil menyebar senyum.
“Akhir-akhir ini kamu jarang terlihat sama Felix. Lagi marahan ya?” tanya
Vivi mengembalikan isi lamunanku sebelum mereka datang.
“Nggak”
“Nggak apa?”
“Nggak pa-pa. Felix jarang ke rumah, lagi sibuk dengan tugasnya”
“Vebri gimana kabarnya, ya?” Midha membuka pertanyaan yang sama sulitnya
untuk kujawab.
“Kamu tahu keadaan Vebri?”
“Tanya Vivi, rumahnya kan dekat Vebri.”
“Aku rasa dia baik-baik saja.”
“Baik-baik saja nggak bisa cuma dilihat dari luar, siapa tahu dia punya masalah dan
butuh bantuan.”
“Sebenarnya kamu sekedar nanya apa khawatir?” tanyaku menggoda Midha
“Harusnya Anas yang khawatir
bukannya kamu.” tambah Vivi yang bikin aku dongkol
“Semua orang suka sama Vebri, jadi apa salah ngawatirin keadaannya?” bela
Midha “Dia pantes dapetin itu”
Aku merasa bodoh saat menghadapi perbincangan tentang Felix dan Vebri.
Vebri yang selalu sempurna dihadapan teman-temanku membuat Felix tersisih
jauh. Vebri baik dan aku mengakuinya. Dia perhatian dan setia kawan. Lalu apa kurangnya
Felix? Dia baik menurut teman-temannya sendiri. Perhatiannya juga walau aku tak
tahu letak perhatiannya. Vebri yang baik hati itu hilang dari hatiku. Aku ingat
dia, tapi tak bisa merasakannya. Perhatian dari Vebri lama kelamaan memudar
digantikan senyum tak acuh Felix. Beginilah kebingunganku sekarang tentang
mereka.
Jauh di dalam lubuk
hatiku aku merasa iba dengan diriku sendiri. Betapa bodohnya aku melupakan Vebri dan mulai mengingat semua hal
tentang Felix. Tumbuh berbagai rasa yang tak kumengerti terhadapnya. Aku merasa
diabaikan olehnya. Aku merasa ditinggalkan dan aku merasa sendiri. Aku tahu
perasaan apa seperti ini. Mungkinkah Felix menggunakan ajian lamanya untuk
membuatku seperti ini? Ataukah dia berusaha menghapus Vebri dari otakku? Harusnya
itu yang aku pikirkan tentang Felix. Tapi sekarang aku tak bisa terima kalau
Felix adalah orang yang suka dengan hal-hal gaib. Bagiku dia sama dengan
orang-orang yang lainnya.
“Ngelamunin apaan?” tanya seseorang yang seketika itu membuyarkan lamunanku.
Kulihat Felix duduk di sebelahku
“Tadi aku kerumah, Mama kamu bilang kamu ada disini.”
“Nggak ngomong
dulu kalau mau kesini. Apa gara-gara tadi pagi?”
“Nggak juga, pengen kesini
aja.” jawabnya
sambil tersenyum “Aku sudah
kelihatan baikan belum?” tanyanya masih dengan senyum
“Kamu baru sakit?” tanyaku balik. Karena khawatir kuperiksa dahinya
kalau-kalau dia memang sakit. Dahinya tidak panas dan dia terlihat baik-baik
saja. Lalu dia baik dari apa? “Kamu nggak lagi sakitkan?” tanyaku lagi
“Kamu selalu anggap aku sakit.”
“Jadi maksudnya datang kesini, senyum manis supaya aku anggap kamu lebih
baik? ”
“Jadi senyum aku manis ya?” Felix mengalihkan pembicaraan.
Setelah kudapatkan pesanan sekotengku, kutinggalkan tenda itu tanpa
menunggu Felix. Dia mengejarku dan kembali tersenyum. Senyum itu mulai
menumbuhkan rasa damai di hatiku. Kalau terus ada rasa seperti ini aku akan
mulai mempertahankannya. Sekarang aku duduk di beranda samping, masih dengan
Felix tentunya. Mama entah kemana setelah mendapat pesanannya. Berdua dengan
Felix memudahkanku bertanya lebih banyak tentang tiga bulan yang telah lalu. Hal apa saja
yang dilakukan Felix diluar sana itu perlu kutahu. Sepertinya aku pantas tahu
akan hal itu.
“Sebenarnya akhir-akhir ini kamu kemana?”
“Di rumah, Nas.
Kamu kangen nggak sama aku?”
“Nggak!” jawabku singkat.
“Kamu ngapain aja diluar sana?” tanyaku lagi
“Belanja, belajar, bantuin Mama, Nganterin Fera. Aku cakep nggak?” tanyaku
membuat kesal sekaligus geli.
“Jangan mengalihkan pembicaraan. Kamu itu nggak ada cakep-cakepnya. Nggak
manis, nggak baik, nggak setia kawan, nggak ngangenin lagi.”
“Jadi kamu suka cowok yang ngangenin. Terus kenapa kamu tanya-tanya
kegiatanku diluar sana? Nanya ini, nanya itu, maksudnya apa?” tanyanya balik membuatku bingung cari jawaban.
“Ya, aku merasa digantung aja. Nggak ada kabar dari kamu. Terus aku
ngapain kalau nggak tanya
soal itu?”
Aku selalu merasa bodoh dihadapan Felix. Kali ini juga sama. Banyak hal
yang ingin aku tahu, tapi salah dalam penyampaiannya. Rasa takut akan kekeliruanku
kata-kataku membuatku selalu berhati-hati dalam penyampaian. Karena terlalu
hati-hati semua menjadi kacau. Aku berani bertaruh setiap perkataanku menjadi
tawa dalam benak Felix. Atau mungkin inilah salah satu tujuan Felix, membuat
bahagia dalam setiap kesalahan yang aku buat.
“Sebenarnya kamu cukup bilang kangen.” Felix tersenyum lagi menandakan begitu besar kesalahan
yang kubuat “Diamlah
sebentar, nanti kuceritakan apa yang ingin kau tahu!” perintahnya.
Setelah berkat-kata Felix diam. Mungkin menenangkanku sejenak atau
menenangkan dirinya sendiri. Dipejamkan matanya, direnggangkan tangannya, disandarkan
punggungnya dan diresapinya suasana malam ini. Felix tersenyum dalam
keterdiamannya seakan mengingat kekonyolanku disetiap mili pemikiranya. Benar-benar
menyebalkan menunggunya melakukan prosesi gaib. Entah benar atau tidak hasil
tebakanku ini, yang pasti aku benci dengan Felix yang seperti ini.
Aku memang diam. Tak berbicara sepatah katapun, tapi aku punya kedongkolan yang selalu
hadir disaat menunggu atau melihat sesuatu yang tak aku sukai. Reaksi-reaksi
tak sabar mulai kutimbulkan agar Felix sadar aku tak suka diam-diaman.
Kurubah-rubah mimik wajahku walau Felix tak melihatnya. Kutopang daguku untuk menyangga kepala
yang tiba-tiba
jadi berat. Kulihat tanganku seakan hawa dingin menyergap tubuhku.
Keketuk-ketukan kakiku di lantai biar Felix terganggu dan kembali bicara padaku.
Tapi semuanya sia-sia, tak ada reaksi darinya.
“Calon psikolog harus melatih kesabaran juga.”
“Maksudnya.”
“Tiga bulan ini aku sibuk berpikir. Mikirin gimana caranya supaya kamu
benar-benar suka sama aku.” jelasnya
setelah kembali keposisi duduk awal
“Aku bingung kenapa kamu nggak bisa bersikap manis sama aku? Pengennya
kamu jadi pacar aku seutuhnya, tapi kamu selalu acuh sama aku.” Felix menghembuskan napas yang menjadi
beban. Dirundukkan kepalanya serasa berat menghadapku
“Kamu nggak suka dengan kemampuan terawangku. Kalau aku terus pengaruhi
kamu berarti hubungan kita dilandasi kebohongan. Kamu akan terus benci aku.”
“Cuma untuk mikirin hal seperti itu butuh waktu tiga bulan?”
Felix memandangku dengan tatapan tanya. Rasanya dia tak percaya aku meremehkannya.
Banyak tanya nampak mencokol
di otaknya dan itu bisa kubaca jelas. Felix terlihat sedang berusaha membaca
isi pikiranku. Dia memandang lekat wajahku, membaca setiap ekspresi mukaku dan
menghembuskan napas tak menemui jawaban.
Aku tersenyum saat dia kembali menatapku
“Kenapa?” Felix menebar senyum tanpa menjawab “Tak menemukan jawaban ya? Aku sendiri
tidak tahu kenapa aku ngomong gitu. Pengen aja!” Aku berusaha memandang wajah Felix. Dia
sedang mendapati kekurangannya dalam dunia yang dibanggakannya
“Kamu ngapain kesini, sudah menemukan jawaban dari pemikiran-pemikiran
kamu itu?”
“Aku kesini salah, nggak kesini juga salah. Aku mesti gimana?”
“Gini deh. Aku kan calon psikolog jadi kalau punya masalah atau sesuatu
yang nggak bisa kamu pecahin sendiri, cerita sama aku. Buat kamu gratis.”
“Masalahku itu kamu, ya nggak mungkin aku cerita ke kamu juga. Lagian
masih calon belum terbukti kwalitasnya, sudah berani promosi.” Aku memasang muka garang mendengar ledekan Felix “Iya kamu
pintar, bakal jadi psikolog hebat.” ralatnya masih dengan imbuhan senyum.
“Belum tentu kamu jadi arsitek hebat sudah berani ngeremehin orang. Yang
ada kamu bakal jadi dukun santet. Paling bagus jadi peramal nasib,” balasku
“Aku akan pura-pura jadi pasien kamu, tapi jangan disumpahin jadi dukun
santet lagi, oke?”
“Ok!” jawabku memperlihatkan kemenangan.
“Aku punya masalah berat. Berat banget. Aku menghindari pacarku tiga bulan
ini. Maksudnya supaya dia merasa kehilangan. Dia nyari-nyariin aku dan bilang
kangen, setekah ketemu
boro-boro dia bilang kangen, yang ada dianya marah-marah, nanya-nanya nggak
jelas. Sekarang aja aku dijadiin pasiennya. Memangnya aku orang stress, banyak pikiran?” ceritanya membuatku
memanyunkan bibir “Dia itu nggak tahu aja. Selama usahaku itu berjalan, Aku itu
kangen banget sama dia. Berusaha kuobati kangenku dengan pergi keperpustakaan
dan duduk yang biasa dia tempati, tapi nggak cukup. Aku pandangi fotonya, tetap
nggak cukup. Aku amati dia dari jauh, masih nggak cukup. Aku ingin ketemu dia.” Felix memasang muka sedih yang
seketika membuatku senyum
“Tapi sekarang setelah aku ketemu dia, dipeluk aja enggak apalagi dicium.
Kok dipeluk, dibuatin minum aja enggak.” setelah Felix bercerita baru aku sadar sekian lama duduk
di beranda, aku
lupa mengambilkan minum untuk felix.
“Ya ampun Felix, lupa!” pekikku disambut tawa dari Felix “Aku ambilin dulu!”
“Telat,” cegahnya
waktu aku mulai pergi.
Sebenarnya aku agak kasihan melihat Felix bilang telat, tapi sudah terlanjur mau diapain lagi. Sekarang
perlu aku bahas dengannya adalah cerita bodohnya itu. Mana ada orang yang mau
duduk di perpustakaan selama tiga bulan tanpa melakukan apapun? Bohong banget
kalau Felix melakukan itu. Aku belum pernah melihat Felix keperpustakaan selain ada
tugas. Ini tiap hari ke perpus selama tiga bulan cuma untuk mengingatku, tidak
mungkin. Tapi aku cukup bangga dia cerita seperti itu. Bukan hanya cukup tapi
sangat bangga.
Aku pandangi Felix terus.
Kucari apa-apa yang bisa membuatku berubah. Tidak dari wajahnya, matanya,
hidungnya, bibirnya, atau
apapun. Tak ada yang berbeda dari luarnya, entah di dalamnya. Aku tidak bisa melihat
dalamnya Felix seperti Felix bisa melihat dalamnya orang lain. Yang kutahu
hanya felix yang menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkan kemauannya
termasuk mendapatkanku dengan menyingkirkan Vebri. Bukannya aku GR, tapi menyenangkan
kalau aku benar-benar dibutuhkan Felix”
“Kenapa ngelihatin aku seperti itu?” tanya Felix risih sekaligus senang.
“Kamu itu ngomong apa sih?
“Ditanya malah balik nanya. Ini pertanyaan terakhir. Kamu kangen sama
aku?”
“Nggak,” jawabku
tegas tapi bohong besar.
Felix memandangiku lekat-lekatdan aku memandanginya pula walau bercampur
senyum. Dia mendiamkanku sejenak, mencari sesuat yang ingin dia tahu dan
tersenyum setelah menemukannya. Felix memelukku, merapatkan tubuhnya denganku
dan membagi hawa hangat dari tubuhnya. Aku tak membalas tapi merasa tenang di posisiku
sekarang.
“Sudah malam,
aku pulang dulu,” bisik Felix
Kukira dia akan membisikkan kata-kata indah, ternyata cuma salam
perpisahan. Dan Felix pergi tanpa meninggalkan apapun.
Siang ini masih seperti siang yang kemarin, panas dan menyedihkan. Aku duduk sendiri
di kantin
menunggu Midha dan Vivi keluar kelas. Berapa menit aku menunggu, Felix datang
dan ikut duduk di depanku. Felix
tahu aku sedang bosan, makanya dia menemaniku. Rasanya dia sudah menemukan
kekuatannya yang hilang dengan tiba-tiba datang dan menemaniku.
“Masih setengah jam lagi teman-teman kamu keluar. Nggak kemana dulu gitu?”
“Aku lagi nggak pengen pergi kemana-mana”
“Ke perpus?”
“Nggak!”
“Karena kamu nggak ngantuk?” tebak Felix “Jangan sebut aku Felix kalau aku
nggak tahu kebiasaanmu. Anas yang dibanggakan orang tuanya, selalu pergi ke
perpustakaan untuk numpang tidur.”
“Kalau tahu nggak usah diomongin lagi,” sahutku malas menanggapi permintaan Felix.
“Vebri gimana kabarnya?” tanya Felix tiba-tiba “Dia lama nggak kelihatan.
Kamu kangen sama dia?”
“Memangnya dia siapaku?” tanyaku balik
“Kan orangnya ngangenin. Dia manis, baik dan cakep meski nggak secakep aku.”
“PD amat.”
“Pasti pengen balik sama dia. Mengingat kamu nggak pernah suka sama aku.
Jadi sedih. Aku sayang kamu, tapi kamu sayang sama orang lain.” Aku tak memberinya tanggapan karena
kata-katanya membuatku muak. Sekarang ini bukan lagi Vebri yang ada dalam
otakku. Felix tahu itu, tapi kenapa masih menyinggung tentang Vebri?
Setelah merasa benar apa yang dikatakan Felix, kutarik dia untuk mengikuti
kemana aku pergi. Aku tahu dia hampir terjatuh saat kakinya terantuk meja. Tapi
melihat gerak cekatannya tak kuhiraukan hal itu. Felix kelihatan ingin protes, tapi belum ada kata-kata keluar
dari mulutnya. Selama semua atas kemauanku protesnya tak mungkin kudengar,
makanya dia cuma menurut
walau setelahnya bertanya-tanya.
“Kita mau kemana?” tanya Felix setelah sampai diparkiran
“Tadi kamu yang ngajakin.”
“Kan aku ngajakin sekitar kampus saja, perpus atau taman belakang. Ini
kamu ngajakin keparkiran ngapain? Disini panas ntar kamu kepanasan lagi.”
“Ya nggak disinilah, kita keluar kemana gitu.”
“Bentar lagi teman-teman kamu keluar kelas, aku juga ada kelas abis ini.
Kita balik ke kantin aja ya?” pintanya walau tahu tak akan kukabulkan
“Bodo pokoknya kita jalan-jalan sekarang,” paksaku sambil menarik tangannya lagi
menuju mobil Felix. Felix tidak terlihat seperti orang yang pasrah walau tak
ditolaknya semua kemauanku. Dia membukakan pintu mobil untukku dan segera
mungkin masuk mobil, menyalakan mesin serta pergi dari area kampus.
“Kita mau kemana?” tanyanya lagi setelah perjalanan kami terasa tak
memiliki tujuan
“Pulang!”
“Ha?”
“Pulang kerumahku,” ulangku
dengan nada kesal
“Kamu kenapa lagi, muka ditekuk
gitu?”
“Pokoknya aku mau pulang!” tegasku
“Iya iya ini aku antar pulang.”
Aku menghentikan percakapan kami. Aku sudah bertekad tak akan banyak
bicara sebelum sampai dirumah.
Mobil berhenti di perempatan lampu merah. Disamping kiri ada mobil lain,
mobil itu terlihat masih baru tapi sudah banyak lecet di bagian depannya. Pasti pemiliknya suka
balapan mobil, ugal-ugalan saat menyetir, pikirku. Kualihkan pandanganku kebagian kanan. Ada
seseorang dengan motor yang aku kenal. Kalau aku kenal motornya, pasti aku
kenal juga pemiliknya. Walau si empunya memakai helm, aku yakin dia Vebri.
Seseorang yang pernah menjadi special di sisiku. Itu dulu, tapi sekarang melihatnya tak memberikan
keterkejutan apapun. Bahkan aku merasa bosan dengan pemandangan ini. Kualihkan
pandanganku pada Felix, dia masih terus menunggu lampu hijau menyala dan dia
kembali melajukan mobilnya menuju rumahku.
Sesampainya dirumah aku turun dan segera masuk rumah tanpa menunggu Felix.
“Nas!” panggilanya sebelum aku benar-benar masuk “Aku balik kekampus ya,
ada kelas ni!” ijinya padaku. Tak kutanggapi permintaan Felix, aku palingkan
muka dan segera masuk. Didalam rumah kurebahkan tubuh di sofa. Dan saat itu kulihat Felix berdiri di dekat sofaku.
“Nggak jadi pergi?” tanyaku malas
“Habisnya tanggapamu nggak
mengenakkan. Dari pada aku pergi, tapi nantinya kamu marah-marah mending nggak
usah.”
Aku bangun dan memberi Felix ruang untuk duduk.
“Kamu kenapa lagi? Tadi pagi sudah cerita, sekarang
ngambek?” kugeser dudukku mendekati Felix. Kubuat kami duduk berhimpitan “Nas!”
Kulingkarkan tanganku di pinggang Felix
dan kurebahkan kepalaku di dadanya. Tidak lupa pula kuraih tangannya untuk
mendekapku.
Felix sedikit kikuk dengan aba-abaku, tapi dilakukannya juga apa yang
kuinginkan. Kau tahu dia sedang bertanya dalam hatinya, atau mungkin dia sedang
mencari jawabannya sendiri tanpa bertanya padaku. Karena dia punya kekuatan
untuk melihat dalamnya orang lain, aku selalu menyimpulkan demikian. Lama aku dalam pelukannya,
tak bergerak dan tanpa kata-kata begitu juga dia. Sepertinya Felix tak mau
mengganggu prosesiku. Aku
pejamkan mata sejenak. Aku mengistirahatkan mataku, tapi otak dan telingaku
masih merespon apabila ada suara.
“Aku capek,” kataku memulai perbincangan
“Aku capek dengan semua ini, sampai kapan kau akan menyiksaku, Felix? Apa
salahhku?” kataku meracau.
Aku tak melihat ekspresi mukanya, masih enak menikmati posisiku sekarang sampai
tak kuperhatikan Felix.
Felix membenahi duduknya.
Menegakkan tubuhnya dan bersandar di sofa. Aku juga membenahi posisiku. Kugeser kepalaku
di pundaknya dan kulingkarkan tanganku di lehernya. Tak lupa kupindahkan tangan
Felix kepinggangku
“Kamu maunya gimana?” tanya Felix menanggapi racauanku “Vebri?” tak
kujawab pertanyaannya agar dia berpikir sendiri
“Kamu boleh minta apa aja, bahkan kalau kamu minta…”
“Kamu,” kupotong
kalimatnya yang sudah kutahu lanjutnya.
“Ha?”
“Aku mau kamu,” kupejelas
mauku.
Felix tak merespon permintaanku. Dia masih lurus memandang tanpa ada
ekspresi kaget dan sebagainya.
“Aku yang harusnya nanya, mau kamu apa? Kamu bikin aku sengsara, kamu
ngambil semua kesenanganku. Bahkan kamu bikin aku bad mood tiap hari. Aku pengen bebas
tentuin semua keinginanku, tapi kamu halangi semuanya. Kamu jahat, tpi aku suka!” lagi kuberi jeda kalimatku.
“Aku nggak bisa milih, tapi aku sudah menentukan. Aku mau kamu.” Aku lihat kembali wajahnya kalau-kalau
ada ekspresi lain, tapi tak ada.
“Aku suka Felix. Aku sayang Felix,” tambahku
Dan benar setelahnya Felix menarik sudut-sudut bibirnya membentuk
senyuman. Dikencangkannya pelukan yang tadinya longgar di pinggangku. Sekarang dia juga melihatku,
tersenyum padaku dan menebarkan pesonanya. Aku mengernyitkan dahi melihat
tanggapannya. Dia tersenyum belum berarti senang, bisa juga menjadi tanda
ejekan.
“O.. gitu,” katanya
pendek. Aku geregetan dengan tanggapan bodohnya. Kugigit lehernya sampai
berbekas. “Ouw…kamu kenapa sih?” teriaknya “Ditanggapi salah, nggak ditanggapi juga salah. Lagian
kita nggak lagi main Film vampire. Seenaknya gigit leher orang.”
Felix menutupi bekas gigitanku dengan tangan satunya dielus-elusnya sambil
meringis mengisyaratkan kesakitan. Karena aku masih tak suka tanggapannya,
kusingkirkan tangannya dan bersiap kugigit lagi, tapi kali ini aku sudah bertekat
menggigitnya sampai luka permanen.
“Iya iya. Ampun ..
ampun!” pintanya sambil mengambil jarak dariku.
“Aku serius,” kataku lagi
sambil kujulurkan tanganku untuk meraih tubuh Felix. Aku mau memeluk. Felix
menjauhkan badannya dariku. Seperti nya dia belum percaya kata-kataku atau
malah dia mau bercanda denganku.
“Cuma ingin aku? Nggak ingin yang lain?” Kugelengkan kepalaku. “Vebri juga nggak?” aku menggelengkan
lagi.
“Nggak percaya ah,” katanya yang
kali ini benar-benar bercanda. Aku memasang muka kesal, marah dan muka siap membunuh.
Ketika Felix sadar akan ekspresiku, dia
tersenyum dan buru-buru memelukku.
Aku merasa nyaman di pelukkan Felix, lebih nyaman dari sebelumnya.
Kugeser-geser kepalaku untuk mencari posisi terbaik di dada Felix. Dan aku sadar kalau selama
ini dia memiliki badan yang proposional. Dadanya bidang, perutnya juga six pack. Sering
berpelukan dengannya baru kali ini aku tahu hal itu. Saat kutengadahkan
kepalaku, wajah Felix terlihat begitu menggoda. Dia lebih tampan dari
sebelumnya, dia juga lebih keren. Sampai aku berpikir, kalau Felix milikku
wajah itu juga milikku.
“Kamu ngapain?” tanya Felix sambil menjauhkan wajahnya diriku. Melihatku
mendekatkan wajah, Felix menjauhkan muka. Dia masih menyebalkan.
“Nggak jadi,” jawabku
kesal. Kupererat lingkaran tanganku di pinggangnya. Kurasakan tubuhku
menghangat serasa mendapat transferan energy dari tubuh Felix.
“Mau cium aku ya? Bilang kalau mau dicium.” Aku segera memasang gigitan di dada Felix, tinggal satu kata remehan
keluar dari mulutnya, dadanya akan berlubang
“Eits.., kamu jadi suka main fisik gini. Kalau permanen gimana?” Felix
menarik kepalaku. Menghadapkan wajahku ke wajahnya.
“Mau cium aku?” tanyaku masih kesal.
“Nggak, mau ngelihatin wajah kamu aja,” jawabnya diikuti senyuman “Kapan ya terakhir kali aku cium kamu?” Felix
berpikir sendiri, berusaha mengingat-ingat tapi sepertinya dia tidak
mengingatnya atau mungkin tak mau membahasnya karena tak ada bahasan berikutnya
dari Felix.
Felix menarik daguku menyejajarkan muka kami. Ditempatkan bibirnya ke
bibirku. Dan semua mengalir dengan
sendirinya. Kuakui ini bukan ciuman pertama kami, tapi menurutku baru pertama
aku merasakan ada yang lain dari sini. Berbeda jauh dari sebelumnya yang
sekedar sebagai formalitas, tapi ciuman kali ini akan jadi awal dari hubunganku
dan Felix menjadi lebih baik. Hubunganku dengan Felix adalah final dari
semuanya dan awal dari kebahagiaan yang aku bangun.
The End