MANIPULASI
Mobil Pajero warna abu-abu metalik itu berhenti tepat di pelataran
sekolahku. Seorang siswa berambut ikal dengan perawakannya yang tinggi, tegap
dan berwajah tampan, keluar dari dalamnya. Dengan senyum ramahnya, siswa yang
berseragam sama denganku itu menyapa guru-guru yang dijumpainya di pelataran
sekolah. Dan sejak kedatangannya, banyak
kejadian aneh terjadi di sekolahku. Mungkin semua tak menyadari itu, tapi yang
ku tahu setiap ada keanehan dia selalu ada disekitarnya.
Kejadian kemarin saat teman sekelasku namanya Gaby berteriak-teriak saat
jam istirahat. Ada yang bilang Gaby kesurupan, dan saat itu siswa baru sedang
bertandang ke kelasku. Dia tidak membantu sama sekali meski hampir semua penghuni
kelasku berusaha menenangkan Gaby. Begitu juga ketika beberapa barang yang
dipajang di dinding kelas IPS 3 jatuh dengan sendirinya, dia sedang lewat dan
mengamati kelas itu. Kemudian kejadian di kantin, ketika Angga menumpahkan kuah
bakso panas ke tangan Leli, dia juga ada di situ. Masih banyak kejadian aneh
lain yang pada waktu itu siswa baru berada didekatnya. Walau dimata orang kejadian itu terlihat
tanpa unsur kesengajaan, aku beranggapan lain. Aku rasa siswa baru itulah yang
membawa keanehan ke sekolah ini.
Bel berbunyi membuyarakan kegiatan belajar mengajar di sekolahku. Pelajaran
telah usai, murid-murid berhambur meninggalkan kelas dan kembali ke rumah
masing-masing. Aku, Midha dan Vivi juga memutuskan untuk pulang setelah
berlama-lama di kantin. Sebelum kami melangkahkan kaki ke halaman langit
menjadi begitu gelap, udara mendingin diikuti rintik-rintik air jatuh dari
langit. Petir juga melengkapi kesenduan alam bersama angin yang bertiup kencang
menerpa pepohonan di pelataran sekolah, hingga kami menunda rencana pulang
sampai hujan reda.
“Hai, boleh gabung?”, tanya siswa baru itu. Dia duduk di depan kami sebelum
dipersilakan. “Aku Aldo, pindahan dari Surabaya”. Senyum manis diperlihatkannya
saat menjabat tangan kami, tapi bagiku itu senyum terhambar yang pernah kulihat.
“Hujan-hujan begini memang tidak enak di luar rumah. Kalian akan dijemput?”
“Iya. Khusus hari hujan”, jawab Midha yang diangguki Vivi.
“Kalau kau?”, tanyanya beralih padaku.
“Naik angkot setelah hujan reda”, jawabku sedikit terdegar tak mengenakkan.
Sengaja aku tunjukkan ketidaksukaanku terhadap kehadirannya.
“Aku juga akan dijemput. Boleh aku bergabung dengan kalian selama menunggu
hujan reda?”. Aku tak menjawab, tapi Midah dan Vivi sudah mengangguk.
Beberapa menit kemudian Ayah Midha datang menjemput dan Vivi dijemput lima
menit setelahnya. Ada aku dan Aldo yang masih duduk disini, dan ada banyak lagi
siswa ikut menunggu redanya hujan. Mereka berbincang, ada yang jalan-jalan di sepanjang
koridor dan ada juga yang menggunakan waktu luang untuk untuk belajar. Mereka
melakukan kegiatan jauh dari kami, cuma kadang-kadang ada yang lewat dan
menyapa. Dan karena cuma berdua aku jadi merasa takut duduk dengan Aldo, apa
lagi di ujung lorong ini tak ada siswa selain kami.
“Selama yang kulihat, kau selalu menaruh kecurigaan padaku. Padangan matamu
padaku terlihat sangat tidak mengenakkan. Apa yang kau curigai dariku?”,
tanyanya membuatku kaget karena apa yang dituduhkannya sama persis seperti apa
yang kupikirkan. “Anas?”, tanyanya sekali lagi. “Apa kau mencurigai keanehan disini karena aku?”
“Maaf kalau aku mencurigaimu, tapi memang itulah kesimpulanku”, jawabku
agak takut kalau-kalau dia akan marah.
“Itu adalah alasan aku pindah kemari. Tapi aku bersumpah, bukan aku yang
melakukan semua itu”. Aku tak bisa percaya begitu saja akan kata-katanya.
Kutunjukkan ketidakpercayaanku dengan tidak menanggapi sumpahnya barusan.
“Anas, aku butuh teman. Aku butuh orang yang mau percaya padaku dan mau
mendengar ceritaku”
“Kau bisa mendapatkan teman dimanapun kau mau, bahkan di sekolahmu yang
lama”, kataku kasar.
“Hai Aldo!”, sapa Rini teman sekelas Aldo yang sengaja lewat didekat kami.
“Hari Selasa kita belajar kelompok di rumahku. Jangan lupa datang!”, pintanya
sambil mengerling genit kearah Aldo.
“Iya. Pasti, Rin!”
“Beneran, jangan sampai lupa!”. Aldo mengangguk sekaligus tersenyum
membalas ajakan Rini. Dan kemudian Rini beranjak meninggalkan kami.
Hujan tidak sederas tadi, tapi petir makin ganas menyambar-nyambar. Suasana
sedikit lebih sepi setelah sebagian anak nekad hujan-hujanan dan sebagian lagi
dijemput orang tua mereka.
”Bukan aku yang melakukan semua itu. Semuanya perbuatan Fera. Percayalah
padaku!”, pintanya memelas. “Aku berharap kau mau membantuku”.
“Aku harus percaya padamu sementara kau menuduh orang lain? Fera, siapa
dia?”, tanyaku tak percaya. “Kita baru kenal, Do. Apa yang harus aku percaya
darimu?”
Aldo seakan kehilang kesempatan. Dia memasang wajah sedihnya, murung dan
merasa tak ada harapan lagi. Aku tidak simpatik dengan perubahan mimik mukanya.
Sehebat apapun Aldo bercerita, aku tak akan percaya omong kosongnya. Hingga
suara teriakan keras menggugah rasa ingin tahu kami. Aku, Aldo dan teman-teman
yang masih ada di sekitar situ berlari ke sumber teriakan. Rini, siswi yang
tadi mengajak Aldo belajar kelompok ditemukan pingsan di bawah tangga. Setelah
sadar dan diintrogasi, dia bilang ada seorang gadis yang tiba-tiba marah dan
menjegalnya hingga jatuh dari tangga. Gadis itu berasal dari sekolah lain
karena seragam yang dikenakannya berbeda dengan seragam sekolah kami. Kata
Rini, gadis itu galak dan menakutkan. Setelah beberapa anak mencari, tak ditemukan
gadis dengan ciri-ciri demikian. Dan kita menganggap Rini berhalusinasi.
Berbarengan dengan diantarkannya Rini pulang, hujan juga sudah reda. Aku
akan pulang tapi Aldo tetap membuntutiku dan mencecarku dengan
penjelasan-penjelasannya. Terus terang aku tidak yakin kalau hal barusan karena
halusinasi semata, tapi demi meredakan suasana tegang aku ikut mengiyakan saja.
“Anas, kau lihat? Aku yakin kau tak sependapat dengan teman-teman.”,
katanya sambil terus menjajarkan langkah denganku. “Sudah kukatakan bukan aku
yang melakukan itu. Rini bilang seorang gadis, itu pasti Fera”, katanya lagi.
“Dengan kau percaya padaku, kau sudah sangat membantuku”
“Aku akan mencoba percaya padamu, tapi ceritakan siapa Fera itu”,
perintahku sambil berhenti sejenak di gerbang sekolah.
“Fera itu teman sekelasku di sekolah lama. Dia meninggal hampir satu tahun
yang lalu dan tanggal 7 besok itu tepat satu tahun dia meninggal. Aku kira
arwahnya mengikutiku dan mengganggu orang-orang yang aku kenal”, jelasnya.
“Jadi Fera itu hantu?”
“Iya. Aku pindah kemari agar arwahnya tidak mengikuti dan mengganggu
teman-temanku lagi, tapi nyatanya.....”. Aldo mengangkat kedua tangannya tak
mampu meneruskan kata-katanya.
“Lalu kenapa Fera memilihmu, bukan teman sekelasmu yang lain?”
“Aku, aku tidak tahu”, jawabnya meragukan.
“Anggap aku percaya cerita darimu”, kataku saat sebuah angkot berjalan
melambat ke arahku. “Cukup sampai disini!”, pamitku mengakhiri pembicaraan.
*****
Pagi ini begitu berbeda, entah aku datang kepagian atau siswa lain belum
datang. Aku berangkat sekolah sama seperti hari-hari sebelumnya, tapi hari ini
begitu sepi. Tak banyak anak bermain di luar kelas, di dalam kelaspun seperti
juga sedikit. Tiba-tiba ada angin berhembus merayapi tengkukku. Bulu kudukku
berdiri terasa angin itu sengaja dihembuskan kerahku oleh sesuatu yang tak
terlihat. Udara pagi ini menyebarkan aroma wangi bunga cendana yang bagiku
sangat menyesakkan dada. Seorang gadis hampir menyerupai bayang-bayang lewat di
sampingku, dipalingkan muka padaku dan dileparkan senyum sinisnya. Buru-buru
aku pergi dari situ dan segera bergabung bersama teman-temanku. Akan lebih aman
kalau aku berbaur dengan yang lainnya.
Sebelum bel masuk berbunyi, Gaby mengajakku dan Midha ke toilet. Saat Gaby
berada dalam kamar mandi, aku dan Midha menunggunya sambil ngobrol di depan
pintu. Tak segaja aku melihat pintu kamar mandi sebelah, di lantainya terdapat
darah yang mengalir dari celah bawah pintu. Darahnya banyak, makin banyak dan
mengalir hampir ke kaki-kaki kami.
“Aaack!”, teriakku sambil mengalihkan pandanganku.
“Ada apa, Nas?” Aku ketakutan tapi saat kulihat ulang darah itu tak ada
lagi.
“Eng.. nggak ada apa-apa. Sepertinya aku harus kembali ke kelas”, kataku
sambil berlaku dari hadapan Midha.
Waktu kususuri koridor, kulayangkan pandanganku kesegala arah. Mencoba
waspada kalau-kalau ada mahkluk kasat mata mengikutiku. Sampai di dekat
lapangan basket aku melihat jelas penampakan perempuan di balik jeruji besi
lapangan. Gadis itu menjilat telunjuknya yang berlumuran darah sambil memandang
horor ke arahku. Karena aku merasakan pertanda buruk dari padangan gadis itu,
aku mempercepat langkahku untuk menghidari suasan mencekam itu.
Baru sebentar aku duduk, anak-anak berhambur keluar melihat ke sumber
teriakan minta tolong yang berasal dari kamar mandi. Dengan refleks aku
mengikuti mereka dan ikut berjubal memenuhi area kamar mandi. Midha dibawa ke
UKS karena pingsan, dan aku jadi penasaran apa yang membuat temanku jadi
pingsan begitu. Aku juga ikut menengok ke dalam toilet untuk memastikan
penyebab terjadinya kerumunan ini. Perutku mual dan rasa takutku kembali datang
setelah melihat tubuh Gaby terkoyak, isi perutnya keluar dan darahnya memenuhi
ruangan. Jadi darah yang kulihat tadi pertanda kematian Gaby?
Tak lama aku terlepas dari kumpulan itu terjadi lagi kehebohan di kantin.
Sewaktu aku memutuskan pergi ke UKS untuk menengok keadaan Midha, aku melewati
kantin dan melihat kejadian itu. Angga seperti orang kesetanan menyiram Leli
dengan kuah bakso panas. Usaha yang lainnya untuk mencegahnya gagal karena
Angga yang kali ini bukan Angga yang biasanya. Dijambaknya rambut Leli dan didorongnya
ke panci berisikan kuah bakso yang mendidih di atas kompor, berkali-kali hingga
wajah Leli melepuh dan mengeluarkan darah. Di pojok ruang kantin itu kulihat
gadis sama dengan tadi pagi. Dia tersenyum sambil menunjuk Rini yang
meninggalkan kantin dengan tergesa. Rini pasti melihat gadis itu kalau dilihat
dari wajahnya yang ketakutan. Mungkin Rini korban berikutnya.
Sebelum aku pergi Aldo mencegahku dan membawaku menjauh dari kerumunan.
“Kau lihat, kan? Itu bukan aku” katanya ketakutan.
“Apa gadis di pojokan tadi yang namanya Fera? ”
“Iya, dialah Fera. Setiap hari aku harus menghindarinya. Aku tidak kuat
terus-terusan menahan rasa takutku karena dibuntuti olehnya ”
“Berikutnya Rini, kita harus peringatkan dia, Do”. Aldo mengangguk
Kami buru-buru pergi menemui Rini. Saat melewati kelas IPS 3, barang-barang
yang dipajang di dinding berjatuhan. Seorang gadis melayang-layang sambil
teriak-teriak minta tolong. Badan gadis itu terombang-ambing, terhempas kuat
membentur dinding lalu jatuh ke lantai. Berulang kali gadis itu terbentur
dinding hingga tulangnya terlihat remuk. Miris melihat kejadian itu, tapi aku
dan Aldo tak lama berhenti di situ karena sudah banyak anak yang berusaha
menolong. Priorotas utama kami adalah Rini. Kami harus mencari dan menemukannya
sebelum terjadi hal buruk dengannya.
*****
“Apa sebentar lagi aku?” tanya Rini setelah kami menemukannya dan ikut
bergabung duduk di tangga. “Sebenarnya ada apa ini? Kenapa gadis tadi
menghantuiku beberapa hari ini?”
“Mulai tadi pagi dia juga menghantuiku”, kataku mengingat ketakutanku mulai
pagi ini. “Aldo, bagaimana sekarang?”
“Bagaimana? A..Ak..Aku malah tidak tahu sama sekali” jawabnya gugup.
Disaat kami sedang bingung dengan kejadian saat ini, ada suara derap kaki
menuruni tangga. Aku merasakan takut sekali lagi sampai tak berani melihat
kebelakang. Bulu kudukku berdiri dan kepalaku terasa berat. Gadis yang kami
bicarakan kemungkinan berada dibelakang kami sekarang ini. Udara dingin
mengembuskan wangi bunga cendana, sama persis seperti yang kualami tadi pagi. Seolah-olah
memberi pertanda datangnya si hantu. Makin sering kami menghirup udara wangi
itu, baunya berubah busuk sampai terasa menyesakkan paru-paru.
“Kau mau tahu ada apa?”,
tanya suara itu.” Karena
kalian mengganggu kesenanganku”, kata seseorang di belakang kami. Suara
wanita yang hampir mirip desahan, mengambang tapi jelas.
“Siapa kau?” tanya Rini sambil memberanikan diri melihatnya. Aku dan Aldo
juga mengikuti Rini melihat pemilik suara lembut di belakang kami. Aku terkejut
melihat perwujudan dibelakangku. Dia cantik, amat cantik dengan baju merahnya,
tapi tetap menakutkan karena tubuhnya transparan.
“Fera. Aku Fera. Iya kan
Aldo?”
Gadis yang semula cantik itu perlahan wajahnya meleleh bak lilin terkena
sambaran api. Lelehannya menetes di baju merahnya. Baunya busuk hingga perutku
mual lagi. Gadis itu melakukan gerakan janggal, dia menembus perutnya dengan
tangan sampai ususnya tergantung keluar. Di patahkan rusuk dalam perutnya dan
dikeluarkan. Hantu itu mempertontonkan rusuknya, menjilati darah yang melumuri
tangan kemudian mejilati rusuknya. Sebelum kami sempat lari, ditusukkan rusuk
runcingnya ke perut Rini lantas didorongnya tubuh Rini hingga jatuh mengguling-guling
menuruni tangga.
Melihat keadaan Rini yang mengerang kesakitan sambil memegangi perutnya,
kami jadi ketakutan. Saat Rini menghembuskan nafas terakhirnya, aku dan Aldo
lari tunggang langgang.
Belum ada anak lain yang tahu kejadian itu, sedangkan kita tak mungkin
menunggu sementara hantu Fera berkeliaran di dekat kami. Aldo lari tanpa
menungguku, aku pun segera menyusulnya karena mungkin akulah incaran Fera
selanjutnya. Kuusahakan mengejar Aldo, tapi susah untuk ku jangkau larinya. Aku
berharap satu kesempatan untuk pergi dari sekolah. Aku berlari mengikuti jejak
Aldo sampai keluar area sekolah lalu bersiap menyebrang jalan raya.
“Aldo. Aldo tunggu!” panggilku karena ditinggalkannya di seberang jalan.
Dia hanya menoleh sekali dan melanjutkan pelariannya. Aku kesulitan untuk
menyeberangi jalan dengan padatnya kendaraan yang lewat, padahal keselamatanku terancam
dengan adanya hantu Fera yang kurasakan mulai mendekatiku. Aku sudah pesimis
untuk bisa hidup lebih lama dari Aldo, tapi semua itu berubah saat kulihat
tubuh Aldo terpelanting. Sebuah bus menggilas tubuhnya setelah truk kecil
menabraknya hingga terpelanting.
Aku tak mampu bergerak lagi, bahkan sekedar berkatapun aku tak sanggup. Aku
shock melihat kecelakaan barusan.
“Kau beruntung Aldo mati
lebih dulu dari pada kau”, bisik seorang gadis yang
seketika itu pula menghilang tanpa kutahu wajahnya. Lalu kusimpulkan kalau itu
suara Fera yang akhirnya membebaskanku dari kematian yang dibuatnya.
Aku lega walau masih ngeri dengan kejadian hari ini. Semua terjadi begitu
cepat, sampai tak tahu kemana aku harus bertanya soal ini. Setidaknya aku masih
punya kesempatan hidup.
*****
Dua minggu setelah kejadian itu, aku bisa berjalan tenang meski sedikit
takut akan adanya kejadian lain. Kuyakinkan diriku akan hantu Fera yang tak kan
pernah kembali. Aku tahu banyak anak yang menyimpan tanya dalam benaknya
tentang kejadian saat itu, sama seperti aku. Hanya saja kita tak tahu siapa
yang bisa menjawabnya. Hingga saat aku berdiri di depan kelas di bawah koridor
sambil melihat tetesan-tetesan air yang jatuh dari langit, seseorang tiba-tiba
duduk di dekatku. Kebetulan aku sendirian, sedangkan teman-temanku ada di dalam
kelas.
“Mau kuberi jawaban soal itu?” katanya tanpa menyapaku terlebih dahulu.
“Melihatmu seperti ini, aku kasihan padamu. Kuharap kau tak mendendam padaku
setelah ini”
Suaranya begitu tenang, sampai saat aku mulai memperhatikannya suaranya tak
berubah. Aku duduk di depannya sambil berlagak cuek, walau sebenarnya aku
tertarik apa yang dikatakannya.
“Kau percaya dunia hipnotis? Manipulasi pikiran?”, tanyanya yang tak dapat
ku jawab “Adikku dulu juga sekolah di Surabaya. Dia menaruh hati pada Aldo.
Suatu saat dia mengungkapkan perasaanya, tapi Aldo menolaknya dengan kasar. Setahun
lalu juga tepatnya setelah penolakan Aldo, adikku mengalami kecelakaan di sekolahnya”,
ceritanya.
Dari lelaki ini aku tahu banyak hal, tentang dia yang bisa memanipulasi
pikiran orang. Membuat orang berhalusinasi seakan mengalami kejadian
menyeramkan. Dia mampu menghipnotis orang lalu memberikan sugesti seperti apa
maunya. Setelah peristiwa kecelakaan yang menimpa adiknya, dia menjadikan Aldo
sebagai target manipulasi pikirannya. Aldo pindah ke sekolah ini lebih
memudahkan aksinya. Dia juga menghidupkan Fera sebagai hantu untuk menakut
nakutinya.
“Aku tidak mengerti maksudmu melakukan ini”, protesku pada tindakan
konyolnya.
“Dengarkan lagi!” katanya menutup protesku.
Setelah itu kudengarkan tutur katanya, aku merasa apa yang diceritakannya
bisa ku mengerti. Sebenarnya tidak ada kejadian Gaby yang mati dengan perut terkoyak
dan isinya yang berhambur. Tidak ada juga kejadian Angga-Leli di kantin,
Kematian Rini, benda-benda jatuh atau siswi yang melayang-kayang menghantam
tembok. Semuanya cuma ilusi, manipulasi dari lelaki ini. Sekolah masih normal
seperti sebelum kedatanggan Aldo. Cuma bagian Aldo mati, itu murni kecelakaan.
Lalu kenapa aku harus diikut sertakan dalam permainan lelaki ini?
“Karena Aldo menyukaimu!”, terangnya setelah kuutarakan alasan melibatkan
aku. “Dan kau menanggapi perasaannya!”, jawabnya masih setenang pertama kali
dia bicara.
“Cuma karena persepsimu bahwa Aldo menyukaiku lalu kau buat aku
berhalusinasi sedemikian menakutkan?”, tanyaku tak percaya. “Kau jahat sekali.
Aku hampir gila memikirkan semua ini, tapi ini semua hanya ilusi yang kau buat”.
Aku tak ditanggapi sama sekali oleh lelaki tadi. Dia hanya diam tak merasa
bersalah. “Kau pikir adikmu akan senang kematiannya dijadikan alasan manipulasi
pikiran seperti ini?”
“Aku tak bilang adikku mati. Adikku
jatuh dari tangga, dia mengalami luka tapi tak mati. Demi kebaikannya, dia
dipindahkan kesekolah lain. Dia hidup baik sekarang ini”. Aku ingin
memarahinya, tapi tak tahu kata apa yang tepat untuk kuucapkan padanya. “Dan kalau
soal pertanyaan kenapa aku tak suka Aldo dekat denganmu, itu karena aku
menyukaimu lebih dulu” Aku cukup terkejut, tapi kemudian takut. Mana ada orang
yang tak takut disukai lelaki penghipnotis sepertinya? “Aku cuma berusaha
menyingkirkan Aldo darimu. Kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan
melakukannya lagi. Aku akan mengejarmu dengan cara normal”
Aku takut dengan pernyataannya. Aku ingin lari tapi kutahan untuk menunjukkan
kalau aku bisa mengendalikan diri atas ketakutanku.
“Kau kira aku percaya dengan yang
barusan kau katakan? Tidak sama sekali”, kataku ketika dia mulai beranjak. “Dan
aku juga tidak sudi dikejar-kejar oleh orang jahat sepertimu”
“Aku yakin kau percaya kata-kataku nanti. Sekarang kuberikan waktu bagimu
untuk bernafas sebelum kulanjutkan permainannya”
Dia memandangku tajam sampai aku merasa salah tingkah karena marah dan
takut bercampur aduk.
“Aku Felix. Kau tak perlu sebutkan nama, aku sudah tahu”. Dia pergi setelah
mengatakan itu.
Lega setelah melihat lelaki itu menjauh. Sekarang yang harus kulakukan adalah
mencoba tak mempercayai kata-kata orang yang mengaku bernama Felix barusan. Dan
kalaupun ceritanya benar, aku butuh rencana untuk menghindarinya. Yang aku tahu
Felix itu bisa memanipulasi pikiran, jadi aku harus menghindarinya terus dan
berhati-hati dimanapun aku berada. Tetap fokus agar pikiran tak dimanipulasi
olehnya lagi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar