Sabtu, 01 Agustus 2015

FENAS : Serie 1








MANIPULASI


Mobil Pajero warna abu-abu metalik itu berhenti tepat di pelataran sekolahku. Seorang siswa berambut ikal dengan perawakannya yang tinggi, tegap dan berwajah tampan, keluar dari dalamnya. Dengan senyum ramahnya, siswa yang berseragam sama denganku itu menyapa guru-guru yang dijumpainya di pelataran sekolah.  Dan sejak kedatangannya, banyak kejadian aneh terjadi di sekolahku. Mungkin semua tak menyadari itu, tapi yang ku tahu setiap ada keanehan dia selalu ada disekitarnya.
Kejadian kemarin saat teman sekelasku namanya Gaby berteriak-teriak saat jam istirahat. Ada yang bilang Gaby kesurupan, dan saat itu siswa baru sedang bertandang ke kelasku. Dia tidak membantu sama sekali meski hampir semua penghuni kelasku berusaha menenangkan Gaby. Begitu juga ketika beberapa barang yang dipajang di dinding kelas IPS 3 jatuh dengan sendirinya, dia sedang lewat dan mengamati kelas itu. Kemudian kejadian di kantin, ketika Angga menumpahkan kuah bakso panas ke tangan Leli, dia juga ada di situ. Masih banyak kejadian aneh lain yang pada waktu itu siswa baru berada didekatnya.  Walau dimata orang kejadian itu terlihat tanpa unsur kesengajaan, aku beranggapan lain. Aku rasa siswa baru itulah yang membawa keanehan ke sekolah ini.
Bel berbunyi membuyarakan kegiatan belajar mengajar di sekolahku. Pelajaran telah usai, murid-murid berhambur meninggalkan kelas dan kembali ke rumah masing-masing. Aku, Midha dan Vivi juga memutuskan untuk pulang setelah berlama-lama di kantin. Sebelum kami melangkahkan kaki ke halaman langit menjadi begitu gelap, udara mendingin diikuti rintik-rintik air jatuh dari langit. Petir juga melengkapi kesenduan alam bersama angin yang bertiup kencang menerpa pepohonan di pelataran sekolah, hingga kami menunda rencana pulang sampai hujan reda.
“Hai, boleh gabung?”, tanya siswa baru itu. Dia duduk di depan kami sebelum dipersilakan. “Aku Aldo, pindahan dari Surabaya”. Senyum manis diperlihatkannya saat menjabat tangan kami, tapi bagiku itu senyum terhambar yang pernah kulihat. “Hujan-hujan begini memang tidak enak di luar rumah. Kalian akan dijemput?”
“Iya. Khusus hari hujan”, jawab Midha yang diangguki Vivi.
“Kalau kau?”, tanyanya beralih padaku.
“Naik angkot setelah hujan reda”, jawabku sedikit terdegar tak mengenakkan. Sengaja aku tunjukkan ketidaksukaanku terhadap kehadirannya.
“Aku juga akan dijemput. Boleh aku bergabung dengan kalian selama menunggu hujan reda?”. Aku tak menjawab, tapi Midah dan Vivi sudah mengangguk.
Beberapa menit kemudian Ayah Midha datang menjemput dan Vivi dijemput lima menit setelahnya. Ada aku dan Aldo yang masih duduk disini, dan ada banyak lagi siswa ikut menunggu redanya hujan. Mereka berbincang, ada yang jalan-jalan di sepanjang koridor dan ada juga yang menggunakan waktu luang untuk untuk belajar. Mereka melakukan kegiatan jauh dari kami, cuma kadang-kadang ada yang lewat dan menyapa. Dan karena cuma berdua aku jadi merasa takut duduk dengan Aldo, apa lagi di ujung lorong ini tak ada siswa selain kami.
“Selama yang kulihat, kau selalu menaruh kecurigaan padaku. Padangan matamu padaku terlihat sangat tidak mengenakkan. Apa yang kau curigai dariku?”, tanyanya membuatku kaget karena apa yang dituduhkannya sama persis seperti apa yang kupikirkan. “Anas?”, tanyanya sekali lagi. “Apa kau mencurigai keanehan  disini karena aku?”
“Maaf kalau aku mencurigaimu, tapi memang itulah kesimpulanku”, jawabku agak takut kalau-kalau dia akan marah.
“Itu adalah alasan aku pindah kemari. Tapi aku bersumpah, bukan aku yang melakukan semua itu”. Aku tak bisa percaya begitu saja akan kata-katanya. Kutunjukkan ketidakpercayaanku dengan tidak menanggapi sumpahnya barusan. “Anas, aku butuh teman. Aku butuh orang yang mau percaya padaku dan mau mendengar ceritaku”
“Kau bisa mendapatkan teman dimanapun kau mau, bahkan di sekolahmu yang lama”, kataku kasar.
“Hai Aldo!”, sapa Rini teman sekelas Aldo yang sengaja lewat didekat kami. “Hari Selasa kita belajar kelompok di rumahku. Jangan lupa datang!”, pintanya sambil mengerling genit kearah Aldo.
“Iya. Pasti, Rin!”
“Beneran, jangan sampai lupa!”. Aldo mengangguk sekaligus tersenyum membalas ajakan Rini. Dan kemudian Rini beranjak meninggalkan kami.
Hujan tidak sederas tadi, tapi petir makin ganas menyambar-nyambar. Suasana sedikit lebih sepi setelah sebagian anak nekad hujan-hujanan dan sebagian lagi dijemput orang tua mereka.
”Bukan aku yang melakukan semua itu. Semuanya perbuatan Fera. Percayalah padaku!”, pintanya memelas. “Aku berharap kau mau membantuku”.
“Aku harus percaya padamu sementara kau menuduh orang lain? Fera, siapa dia?”, tanyaku tak percaya. “Kita baru kenal, Do. Apa yang harus aku percaya darimu?”
Aldo seakan kehilang kesempatan. Dia memasang wajah sedihnya, murung dan merasa tak ada harapan lagi. Aku tidak simpatik dengan perubahan mimik mukanya. Sehebat apapun Aldo bercerita, aku tak akan percaya omong kosongnya. Hingga suara teriakan keras menggugah rasa ingin tahu kami. Aku, Aldo dan teman-teman yang masih ada di sekitar situ berlari ke sumber teriakan. Rini, siswi yang tadi mengajak Aldo belajar kelompok ditemukan pingsan di bawah tangga. Setelah sadar dan diintrogasi, dia bilang ada seorang gadis yang tiba-tiba marah dan menjegalnya hingga jatuh dari tangga. Gadis itu berasal dari sekolah lain karena seragam yang dikenakannya berbeda dengan seragam sekolah kami. Kata Rini, gadis itu galak dan menakutkan. Setelah beberapa anak mencari, tak ditemukan gadis dengan ciri-ciri demikian. Dan kita menganggap Rini berhalusinasi.
Berbarengan dengan diantarkannya Rini pulang, hujan juga sudah reda. Aku akan pulang tapi Aldo tetap membuntutiku dan mencecarku dengan penjelasan-penjelasannya. Terus terang aku tidak yakin kalau hal barusan karena halusinasi semata, tapi demi meredakan suasana tegang aku ikut mengiyakan saja.
“Anas, kau lihat? Aku yakin kau tak sependapat dengan teman-teman.”, katanya sambil terus menjajarkan langkah denganku. “Sudah kukatakan bukan aku yang melakukan itu. Rini bilang seorang gadis, itu pasti Fera”, katanya lagi. “Dengan kau percaya padaku, kau sudah sangat membantuku”
“Aku akan mencoba percaya padamu, tapi ceritakan siapa Fera itu”, perintahku sambil berhenti sejenak di gerbang sekolah.
“Fera itu teman sekelasku di sekolah lama. Dia meninggal hampir satu tahun yang lalu dan tanggal 7 besok itu tepat satu tahun dia meninggal. Aku kira arwahnya mengikutiku dan mengganggu orang-orang yang aku kenal”, jelasnya.
“Jadi Fera itu hantu?”
“Iya. Aku pindah kemari agar arwahnya tidak mengikuti dan mengganggu teman-temanku lagi, tapi nyatanya.....”. Aldo mengangkat kedua tangannya tak mampu meneruskan kata-katanya.
“Lalu kenapa Fera memilihmu, bukan teman sekelasmu yang lain?”
“Aku, aku tidak tahu”, jawabnya meragukan.
“Anggap aku percaya cerita darimu”, kataku saat sebuah angkot berjalan melambat ke arahku. “Cukup sampai disini!”, pamitku mengakhiri pembicaraan.

*****

Pagi ini begitu berbeda, entah aku datang kepagian atau siswa lain belum datang. Aku berangkat sekolah sama seperti hari-hari sebelumnya, tapi hari ini begitu sepi. Tak banyak anak bermain di luar kelas, di dalam kelaspun seperti juga sedikit. Tiba-tiba ada angin berhembus merayapi tengkukku. Bulu kudukku berdiri terasa angin itu sengaja dihembuskan kerahku oleh sesuatu yang tak terlihat. Udara pagi ini menyebarkan aroma wangi bunga cendana yang bagiku sangat menyesakkan dada. Seorang gadis hampir menyerupai bayang-bayang lewat di sampingku, dipalingkan muka padaku dan dileparkan senyum sinisnya. Buru-buru aku pergi dari situ dan segera bergabung bersama teman-temanku. Akan lebih aman kalau aku berbaur dengan yang lainnya.
Sebelum bel masuk berbunyi, Gaby mengajakku dan Midha ke toilet. Saat Gaby berada dalam kamar mandi, aku dan Midha menunggunya sambil ngobrol di depan pintu. Tak segaja aku melihat pintu kamar mandi sebelah, di lantainya terdapat darah yang mengalir dari celah bawah pintu. Darahnya banyak, makin banyak dan mengalir hampir ke kaki-kaki kami.
“Aaack!”, teriakku sambil mengalihkan pandanganku.
“Ada apa, Nas?” Aku ketakutan tapi saat kulihat ulang darah itu tak ada lagi.
“Eng.. nggak ada apa-apa. Sepertinya aku harus kembali ke kelas”, kataku sambil berlaku dari hadapan Midha.
Waktu kususuri koridor, kulayangkan pandanganku kesegala arah. Mencoba waspada kalau-kalau ada mahkluk kasat mata mengikutiku. Sampai di dekat lapangan basket aku melihat jelas penampakan perempuan di balik jeruji besi lapangan. Gadis itu menjilat telunjuknya yang berlumuran darah sambil memandang horor ke arahku. Karena aku merasakan pertanda buruk dari padangan gadis itu, aku mempercepat langkahku untuk menghidari suasan mencekam itu.
Baru sebentar aku duduk, anak-anak berhambur keluar melihat ke sumber teriakan minta tolong yang berasal dari kamar mandi. Dengan refleks aku mengikuti mereka dan ikut berjubal memenuhi area kamar mandi. Midha dibawa ke UKS karena pingsan, dan aku jadi penasaran apa yang membuat temanku jadi pingsan begitu. Aku juga ikut menengok ke dalam toilet untuk memastikan penyebab terjadinya kerumunan ini. Perutku mual dan rasa takutku kembali datang setelah melihat tubuh Gaby terkoyak, isi perutnya keluar dan darahnya memenuhi ruangan. Jadi darah yang kulihat tadi pertanda kematian Gaby?
Tak lama aku terlepas dari kumpulan itu terjadi lagi kehebohan di kantin. Sewaktu aku memutuskan pergi ke UKS untuk menengok keadaan Midha, aku melewati kantin dan melihat kejadian itu. Angga seperti orang kesetanan menyiram Leli dengan kuah bakso panas. Usaha yang lainnya untuk mencegahnya gagal karena Angga yang kali ini bukan Angga yang biasanya. Dijambaknya rambut Leli dan didorongnya ke panci berisikan kuah bakso yang mendidih di atas kompor, berkali-kali hingga wajah Leli melepuh dan mengeluarkan darah. Di pojok ruang kantin itu kulihat gadis sama dengan tadi pagi. Dia tersenyum sambil menunjuk Rini yang meninggalkan kantin dengan tergesa. Rini pasti melihat gadis itu kalau dilihat dari wajahnya yang ketakutan. Mungkin Rini korban berikutnya.
Sebelum aku pergi Aldo mencegahku dan membawaku menjauh dari kerumunan.
“Kau lihat, kan? Itu bukan aku” katanya ketakutan.
“Apa gadis di pojokan tadi yang namanya Fera? ”
“Iya, dialah Fera. Setiap hari aku harus menghindarinya. Aku tidak kuat terus-terusan menahan rasa takutku karena dibuntuti olehnya ”
“Berikutnya Rini, kita harus peringatkan dia, Do”. Aldo mengangguk
Kami buru-buru pergi menemui Rini. Saat melewati kelas IPS 3, barang-barang yang dipajang di dinding berjatuhan. Seorang gadis melayang-layang sambil teriak-teriak minta tolong. Badan gadis itu terombang-ambing, terhempas kuat membentur dinding lalu jatuh ke lantai. Berulang kali gadis itu terbentur dinding hingga tulangnya terlihat remuk. Miris melihat kejadian itu, tapi aku dan Aldo tak lama berhenti di situ karena sudah banyak anak yang berusaha menolong. Priorotas utama kami adalah Rini. Kami harus mencari dan menemukannya sebelum terjadi hal buruk dengannya.

*****

“Apa sebentar lagi aku?” tanya Rini setelah kami menemukannya dan ikut bergabung duduk di tangga. “Sebenarnya ada apa ini? Kenapa gadis tadi menghantuiku beberapa hari ini?”
“Mulai tadi pagi dia juga menghantuiku”, kataku mengingat ketakutanku mulai pagi ini. “Aldo, bagaimana sekarang?”
“Bagaimana? A..Ak..Aku malah tidak tahu sama sekali” jawabnya gugup.
Disaat kami sedang bingung dengan kejadian saat ini, ada suara derap kaki menuruni tangga. Aku merasakan takut sekali lagi sampai tak berani melihat kebelakang. Bulu kudukku berdiri dan kepalaku terasa berat. Gadis yang kami bicarakan kemungkinan berada dibelakang kami sekarang ini. Udara dingin mengembuskan wangi bunga cendana, sama persis seperti yang kualami tadi pagi. Seolah-olah memberi pertanda datangnya si hantu. Makin sering kami menghirup udara wangi itu, baunya berubah busuk sampai terasa menyesakkan paru-paru.
“Kau mau tahu ada apa?”, tanya suara itu.” Karena kalian mengganggu kesenanganku”, kata seseorang di belakang kami. Suara wanita yang hampir mirip desahan, mengambang tapi jelas.
“Siapa kau?” tanya Rini sambil memberanikan diri melihatnya. Aku dan Aldo juga mengikuti Rini melihat pemilik suara lembut di belakang kami. Aku terkejut melihat perwujudan dibelakangku. Dia cantik, amat cantik dengan baju merahnya, tapi tetap menakutkan karena tubuhnya transparan.
“Fera. Aku Fera. Iya kan Aldo?”
Gadis yang semula cantik itu perlahan wajahnya meleleh bak lilin terkena sambaran api. Lelehannya menetes di baju merahnya. Baunya busuk hingga perutku mual lagi. Gadis itu melakukan gerakan janggal, dia menembus perutnya dengan tangan sampai ususnya tergantung keluar. Di patahkan rusuk dalam perutnya dan dikeluarkan. Hantu itu mempertontonkan rusuknya, menjilati darah yang melumuri tangan kemudian mejilati rusuknya. Sebelum kami sempat lari, ditusukkan rusuk runcingnya ke perut Rini lantas didorongnya tubuh Rini hingga jatuh mengguling-guling menuruni tangga.
Melihat keadaan Rini yang mengerang kesakitan sambil memegangi perutnya, kami jadi ketakutan. Saat Rini menghembuskan nafas terakhirnya, aku dan Aldo lari tunggang langgang.
Belum ada anak lain yang tahu kejadian itu, sedangkan kita tak mungkin menunggu sementara hantu Fera berkeliaran di dekat kami. Aldo lari tanpa menungguku, aku pun segera menyusulnya karena mungkin akulah incaran Fera selanjutnya. Kuusahakan mengejar Aldo, tapi susah untuk ku jangkau larinya. Aku berharap satu kesempatan untuk pergi dari sekolah. Aku berlari mengikuti jejak Aldo sampai keluar area sekolah lalu bersiap menyebrang jalan raya.
“Aldo. Aldo tunggu!” panggilku karena ditinggalkannya di seberang jalan.
Dia hanya menoleh sekali dan melanjutkan pelariannya. Aku kesulitan untuk menyeberangi jalan dengan padatnya kendaraan yang lewat, padahal keselamatanku terancam dengan adanya hantu Fera yang kurasakan mulai mendekatiku. Aku sudah pesimis untuk bisa hidup lebih lama dari Aldo, tapi semua itu berubah saat kulihat tubuh Aldo terpelanting. Sebuah bus menggilas tubuhnya setelah truk kecil menabraknya hingga terpelanting.
Aku tak mampu bergerak lagi, bahkan sekedar berkatapun aku tak sanggup. Aku shock melihat kecelakaan barusan.
“Kau beruntung Aldo mati lebih dulu dari pada kau”, bisik seorang gadis yang seketika itu pula menghilang tanpa kutahu wajahnya. Lalu kusimpulkan kalau itu suara Fera yang akhirnya membebaskanku dari kematian yang dibuatnya.
Aku lega walau masih ngeri dengan kejadian hari ini. Semua terjadi begitu cepat, sampai tak tahu kemana aku harus bertanya soal ini. Setidaknya aku masih punya kesempatan hidup.

*****

Dua minggu setelah kejadian itu, aku bisa berjalan tenang meski sedikit takut akan adanya kejadian lain. Kuyakinkan diriku akan hantu Fera yang tak kan pernah kembali. Aku tahu banyak anak yang menyimpan tanya dalam benaknya tentang kejadian saat itu, sama seperti aku. Hanya saja kita tak tahu siapa yang bisa menjawabnya. Hingga saat aku berdiri di depan kelas di bawah koridor sambil melihat tetesan-tetesan air yang jatuh dari langit, seseorang tiba-tiba duduk di dekatku. Kebetulan aku sendirian, sedangkan teman-temanku ada di dalam kelas.
“Mau kuberi jawaban soal itu?” katanya tanpa menyapaku terlebih dahulu. “Melihatmu seperti ini, aku kasihan padamu. Kuharap kau tak mendendam padaku setelah ini”
Suaranya begitu tenang, sampai saat aku mulai memperhatikannya suaranya tak berubah. Aku duduk di depannya sambil berlagak cuek, walau sebenarnya aku tertarik apa yang dikatakannya.
“Kau percaya dunia hipnotis? Manipulasi pikiran?”, tanyanya yang tak dapat ku jawab “Adikku dulu juga sekolah di Surabaya. Dia menaruh hati pada Aldo. Suatu saat dia mengungkapkan perasaanya, tapi Aldo menolaknya dengan kasar. Setahun lalu juga tepatnya setelah penolakan Aldo, adikku mengalami kecelakaan di sekolahnya”, ceritanya.
Dari lelaki ini aku tahu banyak hal, tentang dia yang bisa memanipulasi pikiran orang. Membuat orang berhalusinasi seakan mengalami kejadian menyeramkan. Dia mampu menghipnotis orang lalu memberikan sugesti seperti apa maunya. Setelah peristiwa kecelakaan yang menimpa adiknya, dia menjadikan Aldo sebagai target manipulasi pikirannya. Aldo pindah ke sekolah ini lebih memudahkan aksinya. Dia juga menghidupkan Fera sebagai hantu untuk menakut nakutinya.
“Aku tidak mengerti maksudmu melakukan ini”, protesku pada tindakan konyolnya.
“Dengarkan lagi!” katanya menutup protesku.
Setelah itu kudengarkan tutur katanya, aku merasa apa yang diceritakannya bisa ku mengerti. Sebenarnya tidak ada kejadian Gaby yang mati dengan perut terkoyak dan isinya yang berhambur. Tidak ada juga kejadian Angga-Leli di kantin, Kematian Rini, benda-benda jatuh atau siswi yang melayang-kayang menghantam tembok. Semuanya cuma ilusi, manipulasi dari lelaki ini. Sekolah masih normal seperti sebelum kedatanggan Aldo. Cuma bagian Aldo mati, itu murni kecelakaan. Lalu kenapa aku harus diikut sertakan dalam permainan lelaki ini?
“Karena Aldo menyukaimu!”, terangnya setelah kuutarakan alasan melibatkan aku. “Dan kau menanggapi perasaannya!”, jawabnya masih setenang pertama kali dia bicara.
“Cuma karena persepsimu bahwa Aldo menyukaiku lalu kau buat aku berhalusinasi sedemikian menakutkan?”, tanyaku tak percaya. “Kau jahat sekali. Aku hampir gila memikirkan semua ini, tapi ini semua hanya ilusi yang kau buat”. Aku tak ditanggapi sama sekali oleh lelaki tadi. Dia hanya diam tak merasa bersalah. “Kau pikir adikmu akan senang kematiannya dijadikan alasan manipulasi pikiran seperti ini?”
 “Aku tak bilang adikku mati. Adikku jatuh dari tangga, dia mengalami luka tapi tak mati. Demi kebaikannya, dia dipindahkan kesekolah lain. Dia hidup baik sekarang ini”. Aku ingin memarahinya, tapi tak tahu kata apa yang tepat untuk kuucapkan padanya. “Dan kalau soal pertanyaan kenapa aku tak suka Aldo dekat denganmu, itu karena aku menyukaimu lebih dulu” Aku cukup terkejut, tapi kemudian takut. Mana ada orang yang tak takut disukai lelaki penghipnotis sepertinya? “Aku cuma berusaha menyingkirkan Aldo darimu. Kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan melakukannya lagi. Aku akan mengejarmu dengan cara normal”
Aku takut dengan pernyataannya. Aku ingin lari tapi kutahan untuk menunjukkan kalau aku bisa mengendalikan diri atas ketakutanku.
 “Kau kira aku percaya dengan yang barusan kau katakan? Tidak sama sekali”, kataku ketika dia mulai beranjak. “Dan aku juga tidak sudi dikejar-kejar oleh orang jahat sepertimu”
“Aku yakin kau percaya kata-kataku nanti. Sekarang kuberikan waktu bagimu untuk bernafas sebelum kulanjutkan permainannya”
Dia memandangku tajam sampai aku merasa salah tingkah karena marah dan takut bercampur aduk.
“Aku Felix. Kau tak perlu sebutkan nama, aku sudah tahu”. Dia pergi setelah mengatakan itu.
Lega setelah melihat lelaki itu menjauh. Sekarang yang harus kulakukan adalah mencoba tak mempercayai kata-kata orang yang mengaku bernama Felix barusan. Dan kalaupun ceritanya benar, aku butuh rencana untuk menghindarinya. Yang aku tahu Felix itu bisa memanipulasi pikiran, jadi aku harus menghindarinya terus dan berhati-hati dimanapun aku berada. Tetap fokus agar pikiran tak dimanipulasi olehnya lagi.
 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar