Judul : The Most Dangerous Man in The
World
Penulis : Andrew Fowler
Pnerjemah : Dina Begum & Dia
Mawesti
Penyuntung : Handini & Perwira
Leo
Perancang sampul : @labusiam
Penerbit : Bentang Pustaka
Jumlah Halaman : xvii + 370 hal
Tahun terbit : Desember 2015
Sekitar 26
tahun silam, FBI, NSA, dan Departeman Kehakiman AS menuntut hukum keras dan
mengharuskan publik patuh terhadap “kriteria pengenkripsian pemerintah”. Dengan
kata lain, mereka berupaya menghalangi kebebasan berbicara dengan cara yang tak
terdeteksi. Layaknya mengharamkan amplop tertutup untuk surat-menyurat dan
menggantinya dengan kartu pos untuk mengirimkan surat pribadi.
Sementara
kebebasan dibungkam, pemerintah negeri adikuasa leluasa menutup mata media melalui
pembelokan informasi atas kejahatan perang. Geram terhadap aturan tersebut,
Julian Assange dan sekelompot elite peretas lain mencoba melakukan perlawanan.
Mereka merintis WikiLeaks, sebuah arena di dunia maya untuk mengungkap perilaku
ilegal yanga ada di tubuh pemerintah. WikiLeaks menghalalkan “pembocoran
dokumen secara massal” dan melindungi para peniup peluit pemberani di seluruh
dunia.
Buku ini
mengungkap keberanian serta kelihaian peretas dunia maya dalam mengungkap
informasi rahasia ke publik. Khususnya, sebuah perlawanan berani dari seorang
warga sipil bernama Julian Assange dalam menghadapi raksasa spionase AS dan
negara adikuasa lainnya.
Julian Assange. Kalau dilihat dari ilustrasi muka dan
potonya sekalian, orangnya ganteng kok. Nggak ada tanda-tanda berbahaya sama
sekali (dimataku orang berbahaya bermuka sangar berbadan besar). Di buku ini Fowler mengisahkan kehidupan
Julian Assange dari kecil sampai dia jadi buronan karena WikiLeaks-nya
kebablasan dalam penyampaian informasi. Amerika adalah negara yang paling
membenci Assange, iyalah banyak informasi rahasia AS yang disebar luaskan
olehnya. Apalagi informasi itu menyangkut kesalahan-kesalahan Amerika sebagai
negara adidaya yang turut campur pada negara-negara lain. Apa ya isti ahnya?
Pelanggaran, lalu ditutupinya.
Assange pernah menikah, punya anak, sayangnya dia
dengan istri dan anaknya berpisah. Assange digambarkan tak pernah mulus dalam
hal percintaan, termasuk tuduhan pelecehan seksual ketika dia berada si eropa.
Sudah dikejar-kejar Amerika, dikejar-kejar masalah pelecehan seksual di Eropa
pula. Pokonya dia itu buronan banget.
Sebelum tahu kenapa dia jadi buronan seperti itu, aku
ceritakan dari awal. Assange lahir dan dibesarkan hanya oleh ibunya. Sejak
kecil tertarik dengan komputer, dengan IQ lebih dari 170 dengan sebutan jenius.
Memulai jadi hancker serius dengan meng-hack Nortel agar terhubung dengan
negara-negara lain. Tujuan Assange Amerika, entah Amerika dianggapnya sebagai
negara gudanganya kebohongan. Nah dari situlah lama kelamaan Assange membuat
WikiLeaks, wadah untuk orang-orang yang mau membocorkan informasi penting
dengan identitas anonim. Kedengarannya sih asyik, tapi mereka harus berurusan
dengan negara-negara atau pemimpin-pemimpin yang benci karena rahasia mereka
diumbar ke publik. Sudah itu Assange bekerja sama dengan majalah dan
koran-koran Internasional dari Amerika, Inggris dan Jerman. Jadi cepat tersebar
luas.
Di luar masalah organisasi yang didirikannya, Assange
sendiri adalah orang yang terlalu percaya diri, kadang congkak tapi tetap
disukai orang. Sebentar percaya dengan orang, sebentar tidak lagi. Cepat
kehilangan teman, cepat pula dapat teman baru. Dan masalah seperti ini di
belakang akan menghancurkannya.
Di buku ini, cerita berhenti ketika Assange punya
masalah besar dengan hukum Amerika juga hukum Eropa. Dia orang Australia
pertama yang mencari suaka. Apa ya artian suaka dalam buku ini? Aku nggak
begitu ngerti soal dunia per-hancker-an. Hukum internsional juga. Aku menyukai
karakter Assange yang tak pernah meyerah, kejeniusannya membawanya jadi orang
hebat, tapi juga harus jadi buronan. Diamanapun dia berada terus merasa tak
aman.
Di belakang buku, kalimat-kalimat penting dikumpulkan
jadi satu. Halaman per halaman. Jadi untuk mencari quotes atau informasi
penting, tinggal longgok ke halaman itu. Sekali lagi buku terjemahan mengandung
kalimat-kalimat yang susah dimengerti oleh pembaca Indonesia. Tapi dengan
membaca buku terjemahan, informasi yang didapat akan semakin banyak. Dunia
perbukuan luar itu sudah maju pesat, Indonesia masih mengekor yang artinya
belum pesat-pesat amat. So, baca segala macam buku mulai dari sekarang. Siapa
tahu kitalah yang nanti melesatkan dunia perbukuan Indonesia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar