Kamis, 11 Februari 2016

Biografi pemimpin WikiLeaks




 
 
Judul : The Most Dangerous Man in The World
Penulis : Andrew Fowler
Pnerjemah  : Dina Begum & Dia Mawesti
Penyuntung : Handini & Perwira Leo
Perancang sampul : @labusiam
Penerbit   : Bentang Pustaka
Jumlah Halaman  : xvii + 370 hal
Tahun terbit : Desember 2015


Sekitar 26 tahun silam, FBI, NSA, dan Departeman Kehakiman AS menuntut hukum keras dan mengharuskan publik patuh terhadap “kriteria pengenkripsian pemerintah”. Dengan kata lain, mereka berupaya menghalangi kebebasan berbicara dengan cara yang tak terdeteksi. Layaknya mengharamkan amplop tertutup untuk surat-menyurat dan menggantinya dengan kartu pos untuk mengirimkan surat pribadi.
Sementara kebebasan dibungkam, pemerintah negeri adikuasa leluasa menutup mata media melalui pembelokan informasi atas kejahatan perang. Geram terhadap aturan tersebut, Julian Assange dan sekelompot elite peretas lain mencoba melakukan perlawanan. Mereka merintis WikiLeaks, sebuah arena di dunia maya untuk mengungkap perilaku ilegal yanga ada di tubuh pemerintah. WikiLeaks menghalalkan “pembocoran dokumen secara massal” dan melindungi para peniup peluit pemberani di seluruh dunia.
Buku ini mengungkap keberanian serta kelihaian peretas dunia maya dalam mengungkap informasi rahasia ke publik. Khususnya, sebuah perlawanan berani dari seorang warga sipil bernama Julian Assange dalam menghadapi raksasa spionase AS dan negara adikuasa lainnya.

Julian Assange. Kalau dilihat dari ilustrasi muka dan potonya sekalian, orangnya ganteng kok. Nggak ada tanda-tanda berbahaya sama sekali (dimataku orang berbahaya bermuka sangar berbadan besar).  Di buku ini Fowler mengisahkan kehidupan Julian Assange dari kecil sampai dia jadi buronan karena WikiLeaks-nya kebablasan dalam penyampaian informasi. Amerika adalah negara yang paling membenci Assange, iyalah banyak informasi rahasia AS yang disebar luaskan olehnya. Apalagi informasi itu menyangkut kesalahan-kesalahan Amerika sebagai negara adidaya yang turut campur pada negara-negara lain. Apa ya isti ahnya? Pelanggaran, lalu ditutupinya.
Assange pernah menikah, punya anak, sayangnya dia dengan istri dan anaknya berpisah. Assange digambarkan tak pernah mulus dalam hal percintaan, termasuk tuduhan pelecehan seksual ketika dia berada si eropa. Sudah dikejar-kejar Amerika, dikejar-kejar masalah pelecehan seksual di Eropa pula. Pokonya dia itu buronan banget.
Sebelum tahu kenapa dia jadi buronan seperti itu, aku ceritakan dari awal. Assange lahir dan dibesarkan hanya oleh ibunya. Sejak kecil tertarik dengan komputer, dengan IQ lebih dari 170 dengan sebutan jenius. Memulai jadi hancker serius dengan meng-hack Nortel agar terhubung dengan negara-negara lain. Tujuan Assange Amerika, entah Amerika dianggapnya sebagai negara gudanganya kebohongan. Nah dari situlah lama kelamaan Assange membuat WikiLeaks, wadah untuk orang-orang yang mau membocorkan informasi penting dengan identitas anonim. Kedengarannya sih asyik, tapi mereka harus berurusan dengan negara-negara atau pemimpin-pemimpin yang benci karena rahasia mereka diumbar ke publik. Sudah itu Assange bekerja sama dengan majalah dan koran-koran Internasional dari Amerika, Inggris dan Jerman. Jadi cepat tersebar luas.
Di luar masalah organisasi yang didirikannya, Assange sendiri adalah orang yang terlalu percaya diri, kadang congkak tapi tetap disukai orang. Sebentar percaya dengan orang, sebentar tidak lagi. Cepat kehilangan teman, cepat pula dapat teman baru. Dan masalah seperti ini di belakang akan menghancurkannya.
Di buku ini, cerita berhenti ketika Assange punya masalah besar dengan hukum Amerika juga hukum Eropa. Dia orang Australia pertama yang mencari suaka. Apa ya artian suaka dalam buku ini? Aku nggak begitu ngerti soal dunia per-hancker-an. Hukum internsional juga. Aku menyukai karakter Assange yang tak pernah meyerah, kejeniusannya membawanya jadi orang hebat, tapi juga harus jadi buronan. Diamanapun dia berada terus merasa tak aman.
Di belakang buku, kalimat-kalimat penting dikumpulkan jadi satu. Halaman per halaman. Jadi untuk mencari quotes atau informasi penting, tinggal longgok ke halaman itu. Sekali lagi buku terjemahan mengandung kalimat-kalimat yang susah dimengerti oleh pembaca Indonesia. Tapi dengan membaca buku terjemahan, informasi yang didapat akan semakin banyak. Dunia perbukuan luar itu sudah maju pesat, Indonesia masih mengekor yang artinya belum pesat-pesat amat. So, baca segala macam buku mulai dari sekarang. Siapa tahu kitalah yang nanti melesatkan dunia perbukuan Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar